Panduan Lengkap Konversi KTI Menjadi Buku Ber-ISBN

panduan konversi KTI

Hasil penelitian yang dilaksanakan oleh dosen, tentu perlu disebarluaskan. Salah satunya lewat sejumlah publikasi ilmiah. Satu karya tulis ilmiah berisi hasil penelitian, bisa diubah menjadi beberapa karya tulis ilmiah lain. Yakni melalui konversi KTI (Karya Tulis Ilmiah). 

Konversi pada KTI bisa membantu dosen membagikan hasil penelitian secara lebih luas lagi. Sehingga dampaknya juga semakin besar dibanding pada satu publikasi ilmiah saja. Namun, seberapa sulit proses konversi tersebut dan bagaimana prosesnya? Berikut informasinya. 

Baca Juga: Langkah-Langkah Konversi Karya Ilmiah Menjadi Buku di Parafrase Indonesia

Apa Itu Konversi KTI?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), konversi adalah proses perubahan dari satu bentuk atau format ke bentuk atau format yang lain. Dalam konteks KTI, konversi KTI adalah proses mengubah bentuk karya tulis ilmiah menjadi karya tulis ilmiah lainnya. 

Jenis KTI sendiri cukup banyak. Dalam ruang lingkup perguruan tinggi bisa mengenal skripsi, tesis, disertasi, artikel ilmiah, dan buku ilmiah (buku ajar, monograf, referensi, dan bunga rampai – book chapter). 

Setiap jenis KTI bisa diubah satu sama lain. Contohnya, mengubah skripsi menjadi artikel ilmiah untuk diterbitkan ke jurnal nasional maupun jurnal internasional. Proses konversi skripsi ini sendiri sangat umum dilakukan mahasiswa sebagai pemenuhan syarat kelulusan. 

Contoh lain, artikel ilmiah yang dipublikasikan dosen di suatu jurnal ilmiah dikonversi menjadi buku monograf dan diterbitkan ber-ISBN. Konversi pada KTI merupakan hal penting, sebab bisa menjangkau lebih banyak pembaca. Hasil penelitian dan ilmu pengetahuan di dalamnya bisa diakses masyarakat lebih luas. 

Baca Juga: 10 Keunggulan Jasa Parafrase Konversi dari Parafrase Indonesia

Siapa Saja yang Bisa Melakukan Konversi KTI?

Konversi Karya Tulis Ilmiah (KTI) secara umum bisa dilakukan siapa saja yang memiliki KTI. Sebab proses konversi biasanya dilakukan pada KTI yang disusun sendiri. Pasalnya, karya tulis dilindungi oleh Hak Cipta. Selain itu, ada etika akademik. Sehingga konversi pada KTI tidak dimungkinkan untuk dilakukan penulis lain. 

Konversi disertasi, tesis, skripsi, artikel ilmiah, dan KTI jenis lainnya secara umum dilakukan para akademisi. Yakni kalangan dosen dan mahasiswa. Namun, KTI yang disusun masyarakat luas dan kalangan praktisi juga bisa dikonversi sesuai kebutuhan. 

Mahasiswa mungkin melakukan konversi sebagai pemenuhan syarat kelulusan. Dosen melakukan konversi, mungkin untuk menyebarluaskan hasil penelitian dan mengoptimalkan BKD sampai perolehan angka kredit. 

Masyarakat umum dan praktisi yang memiliki KTI, juga bisa melakukan konversi jika ingin atau membutuhkan proses tersebut. Misalnya, praktisi memiliki skripsi yang disusun semasa kuliah. Muncul keinginan agar skripsi tersebut dibaca banyak orang dan dimanfaatkan. Maka dikonversi menjadi buku dan diterbitkan secara nasional. 

Baca Juga: Jasa Konversi Karya Ilmiah Menjadi Buku Ber-ISBN dan HKI

Kapan Waktu Terbaik untuk Melakukan Konversi KTI?

Konversi KTI tentu penting untuk segera dilakukan. Kenapa? Ada banyak alasan yang membuat proses konversi karya tulis ilmiah harus secepatnya dilakukan. Diantaranya adalah: 

1. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Terus Berkembang

Karya tulis ilmiah tentunya berisi data atau fakta, biasanya dari hasil penelitian maupun kajian literatur. Jika ingin dikonversi, maka sebaiknya segera dilakukan. Sebab penelitian terus dilakukan dan membuat iptek terus berkembang. 

Isi KTI yang dimiliki bisa jadi akan usang dan tidak lagi relevan jika menunggu sampai 10 tahun ke atas. Hasil penelitian saat ini tentu masih temuan baru. Namun pada 5-10 tahun mendatang, bisa dianggap hal biasa. 

2. Data Masih Segar dan Diingat dengan Baik 

Isi dari KTI berbasis data yang didapatkan dari wawancara, observasi, dan teknik pengumpulan data penelitian lainnya. Data-data yang tercantum di KTI bisa jadi hanya data inti. Jadi, konversi perlu segera dilakukan agar data-data tambahan yang menunjang pengembangan naskah masih segar di ingatan dan masih relevan. 

3. Ketersediaan Akses Data dan Referensi 

Data hasil penelitian yang didapatkan tentu akan dirapikan dan arsip (disimpan). Begitu juga dengan data seluruh referensi yang digunakan. Konversi penting untuk segera dilakukan karena akses ke data dan referensi bisa saja tidak dimiliki lagi. 

Misalnya, referensi dari jurnal terdapat perubahan alamat website, dulunya jurnal bereputasi dan kemudian masuk daftar jurnal discontinued dari Scopus, dll. Selain itu, arsip data pribadi bisa saja hilang, rusak, dll karena berbagai faktor. Jadi, lebih cepat dikonversi akan lebih baik. 

4. Mengejar Jadwal Pelaporan BKD 

Bagi dosen, konversi pada KTI penting untuk segera dilakukan. Sebab selain berkaitan dengan relevansi data dengan  perkembangan iptek. Juga mengejar jadwal pelaporan BKD. Semakin cepat konversi dilakukan, semakin bisa memasukan hasil konversi ini ke laporan BKD di SISTER

5. Mempercepat Kenaikan Jabatan Fungsional Dosen

Masih berkaitan profesi dosen. Mempercepat konversi karya tulis ilmiah bisa membantu mempercepat pengembangan karir akademik dosen. Sebab konversi ini bisa membantu mendapat tambahan poin angka kredit. Sehingga bisa segera mengajukan usulan kenaikan jenjang jabatan fungsional. 

6. Mengejar Target Kelulusan dan Wisuda  

Bagi mahasiswa, segera melakukan konversi pada skripsi, tesis, maupun disertasi yang disusun berkaitan dengan kelulusan. Sebagai mahasiswa, tentu ingin segera lulus dan wisuda. Jadi, jika konversi ini bagian dari syarat kelulusan. Maka penting untuk segera dikerjakan. 

7. Masih Memungkinkan Melakukan Konversi KTI 

Konversi KTI adalah proses yang tidak mudah. Apalagi jika belum terbiasa dalam menyusun KTI dan proses konversi itu sendiri. Jadi, semakin cepat dilakukan semakin baik. 

Sebab masih ada waktu, masih ada sumber daya dari segi tenaga, dana, dan juga kesehatan fisik. Sehingga apa yang ditulis dalam KTI tidak hanya dibaca kalangan terbatas. Namun dibaca lebih banyak orang lain.

Baca Juga:  Rekomendasi Jasa Konversi Karya Ilmiah Terjangkau dan Tepercaya

Dimana Melakukan Konversi KTI Menjadi Buku?

Proses konversi KTI yang tidak mudah dan butuh kesediaan meluangkan waktu mengerjakannya. Tentu kadang berbenturan dengan kesibukan lain. Terutama kalangan dosen yang agenda akademiknya padat merayap.

Selain dikerjakan secara mandiri, konversi karya tulis ilmiah juga bisa dengan menggunakan jasa profesional. Dimana bisa mendapatkan layanan ini? Secara umum, layanan konversi pada KTI disediakan perusahaan penerbit buku ilmiah. 

Jadi, silahkan mencari informasi sebanyak mungkin untuk menemukan penerbit kredibel. Sekaligus yang menyediakan layanan konversi pada KTI. Sehingga konversi tersebut hasilnya memuaskan dan bisa terbit menjadi buku ber-ISBN agar diakui Ditjen Dikti. 

Selain ke penerbit buku ilmiah, para dosen maupun siapa saja juga bisa menggunakan layanan Konversi KTI dari Parafrase Indonesia. Layanan konversi dipercaya banyak akademisi di Indonesia dan sudah menerbitkan banyak buku hasil konversi. 

Mengapa Harus Melakukan Konversi KTI?

Konversi karya tulis ilmiah penting untuk dilakukan, khususnya bagi kalangan dosen. Berikut beberapa alasannya: 

1. Meningkatkan Visibilitas dan Dampak Hasil Penelitian

Jika hasil penelitian hanya dipublikasikan ke jurnal ilmiah. Maka tentu akan diakses masyarakat ilmiah saja. Sehingga pembaca didominasi akademisi dan peneliti. Namun, jika dilakukan konversi dan dipublikasikan. 

Misalnya menjadi buku ilmiah dan terbit secara nasional. Maka hasil penelitian bisa diketahui, dibaca, dan dimanfaatkan lebih banyak orang. Kondisi ini disebut visibilitas hasil penelitian tinggi dan tentu mempengaruhi dampaknya. 

2. Meningkatkan Reputasi Akademik Dosen 

Publikasi ilmiah yang dimiliki dosen menjadi bentuk profesionalisme terhadap profesi yang dijalankan. Sehingga meningkatkan kuantitas dan kualitas publikasi ilmiah sangat penting. 

Supaya reputasi akademik dosen terbentuk dan citra dosen semakin positif di masyarakat. Konversi membantu dosen meningkatkan kuantitas publikasi ilmiah. Sehingga karya tulis dan hasil kinerjanya bisa diakses dan diakui masyarakat luas. 

3. Memenuhi BKD 

Konversi pada karya tulis ilmiah juga membantu dosen dalam memenuhi BKD. Dalam satu semester, setidaknya dosen harus memenuhi 12 SKS. Menulis dan menerbitkan buku, artikel ke jurnal ilmiah, dll. Bisa memberi bobot SKS yang sangat lumayan. Sehingga BKD bisa lebih mudah dan lebih cepat terpenuhi. 

4. Menunjang Kenaikan Jenjang Jabatan Fungsional 

Konversi KTI tak hanya membantu dosen dalam memenuhi BKD. Jika BKD berhasil terpenuhi, maka seluruh tugas dan kewajiban akademik di dalamnya menambah poin angka kredit. Sehingga konversi bisa membantu dosen menunjang kenaikan jenjang jabatan fungsional. Sebelum pensiun, ada kesempatan menjadi Guru Besar. 

5. Sumber Pendapatan Pasif Dosen 

Khusus untuk konversi karya tulis ilmiah nonbuku (artikel ilmiah, skripsi, dll) menjadi buku ilmiah. Maka tentu membantu dosen membangun sumber penghasilan pasif. Yakni melalui royalti. Hasil royalti bisa digunakan untuk menunjang kegiatan akademik maupun untuk kebutuhan pribadi dosen. 

Bagaimana Panduan Melakukan Konversi KTI Menjadi Buku Berkualitas?

Dalam mengerjakan konversi KTI, tentu ada tahapannya. Sebab umumnya, proses konversi dilakukan per bab agar lebih mudah. Berikut detail tahapan yang dimaksud: 

1. Mengubah Judul 

Judul di dalam KTI perlu diubah agar lebih menarik saat menjadi judul buku ilmiah. Pastikan dulu menghapus ciri khas judul penelitian. Misalnya menghapus istilah “penerapan”, “pemanfaatan”, dan sejenisnya. Kemudian melakukan parafrase pada judul. Pastikan judul terlihat lebih menarik dan bisa meminta penilaian orang lain. 

2. Mengubah Bab I 

Bab pertama di dalam KTI, misalnya pada artikel ilmiah maupun tugas akhir (skripsi, tesis, dan disertasi) berisi latar belakang masalh, tujuan penelitian, dll. Bab ini perlu diubah gaya bahasa dan strukturnya. Sehingga menjadi satu bab utuh dan menjadi bab pertama pada buku hasil konversi. 

3. Mengubah Kajian Pustaka dan Kajian Teori 

Tahap ketiga adalah pada bab II, yakni kajian pustaka dan kajian teori juga diubah. Pada bab ini, mungkin perlu dipisah menjadi beberapa bab. Khususnya jika ada banyak teori dan hasil penelitian sebelumnya yang perlu dibahas. 

4. Mengubah Bab III 

Bab III secara umum berisi metodologi penelitian. Pada bab ini, disarankan untuk dijadikan pengantar atau pembuka di bab IV (hasil dan pembahasan). Sehingga disatukan dengan hasil dan pembahasan. Praktis, pada bab III akan ada lebih banyak yang dihapus. 

5. Mengubah Bagian Hasil Pembahasan 

Berikutnya adalah mengubah hasil dan pembahasan. Gaya bahasa, struktur, dan dipecah menjadi beberapa bab akan dilakukan pada tahap ini. Sehingga pembahasan lebih mendalam dan mudah dipahami oleh  masyarakat umum. 

6. Menyusun Penutup 

Bab penutup di dalam artikel ilmiah maupun tugas akhir kemudian perlu diubah. Pada bagian ini berisi penjelasan masalah yang berkaitan dengan hasil penelitian. Sehingga bukan lagi berisi kesimpulan dan saran. 

Pada proses mengubah struktur setiap bab KTI menjadi naskah buku ilmiah. Maka akan terpecah menjadi beberapa bab. Jumlah bab akan disesuaikan dengan hasil pengembangan. 

Sehingga antara satu buku dengan buku ilmiah lain dari hasil konversi, jumlah bab berbeda-beda. Jika ingin praktis, maka bisa menggunakan Jasa Konversi KTI dari Parafrase Indonesia. Dijamin berkualitas karena dikerjakan ahlinya dan terbit ber-ISBN. 

sumber: 

  1. Istiqomah, I. (2020). Menyusun buku ilmiah dari laporan hasil penelitian (materi seminar kolegial). https://repositori.kemendikdasmen.go.id/19254/2/PPT-Menyusun%20Buku%20Ilmiah%20dari%20Laporan%20Hasil%20Penelitian.pdf 
  2. Riana, R., Lase, F., Halawa, N., Hura, D., Zega, I., & Lase, B. P. (2024). Strategi Efektif untuk Mengubah Skripsi Menjadi Artikel Ilmiah: Panduan Pelatihan Konversi yang Sukses. Jurnal Education and Development, 12(1), 206-211. https://doi.org/10.37081/ed.v12i1.5716
  3. Arifin, Z., Hakim, M. A., & Kania, N. (2024). Workshop Konversi Penelitian Menjadi Buku ISBN. Journal of Community Service (JCOS), 2(1), 34-43. https://doi.org/10.56855/jcos.v2i1.1408
  4. Bukuloka. (2025). Mengubah Karya Ilmiah Menjadi Buku: Panduan Konversi KTI yang Efektif. Diakses pada 9 Januari 2026 dari https://penerbit.bukuloka.com/mengubah-karya-ilmiah-menjadi-buku-panduan-konversi-kti-yang-efektif/

Bagikan artikel ini melalui

Picture of wahyu adji
wahyu adji
Saya merupakan SEO Specialist dan Conten Writer Profesional di bidang pendidikan seputar kampus, mahasiswa dan kedosenan di Parafrase Indonesia

Tinggalkan Balasan