Salah satu tahapan penting dari proses menulis buku adalah proofreading (koreksi). Kegiatan koreksi naskah ini umumnya menjadi tahap akhir dari proses penulisan. Sehingga membantu melakukan perbaikan pada berbagai kesalahan yang mungkin ada pada naskah.
Kegiatan koreksi di tahap akhir ini tentu bukan sekedar formalitas. Sebab ketika diterapkan, maka akan menyadari banyaknya manfaat dari proses ini. Sekalipun memang tidak menyenangkan, karena butuh proses membaca naskah dari halaman pertama. Berikut informasinya.
Baca Juga: Rekomendasi Jasa Konversi Karya Ilmiah Terjangkau dan Tepercaya
Daftar Isi
ToggleApa Itu Proofreading?
Dalam bahasa Indonesia, istilah proofreading sering disebut sebagai koreksi. Sering juga disebut sebagai pemeriksaan akhir. Sebab memang proses ini menjadi tahap paling akhir dalam penulisan naskah buku.
Secara umum, proofreading adalah proses membaca ulang naskah untuk memeriksa dan memperbaiki kesalahan tata bahasa, ejaan, konsistensi, dan aspek teknis lainnya. Kegiatan ini menjadi satu dengan kegiatan editing naskah buku.
Idealnya, editing maupun koreksi naskah di tahap akhir dilakukan orang lain (bukan penulis naskah). Hal ini untuk menjaga objektivitas penilaian dan proses koreksi keseluruhan naskah.
Namun, harus diakui bahwa melakukan editing dan koreksi mandiri juga sangat penting. Sebab penulis bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan sederhana. Sehingga kualitas naskah bisa lebih baik dari sebelumnya dan potensi diterima penerbit lebih besar.
Baca Juga: Bahaya Proofreading AI Terhadap Karya Ilmiah
Manfaat Proofreading
Tahap proofreading memang menuntut penulis buku untuk membaca ulang naskah. Kemudian pelan-pelan dan penuh ketelitian mencari ada tidaknya kesalahan teknis. Seperti salah ketik, salah menggunakan tanda baca, dan aspek teknis lainnya.
Meski terkesan formalitas, akan tetapi tahap koreksi ini sangat penting. Berikut beberapa manfaat yang bisa didapatkan jika menerapkannya:
1. Menghindari Kesalahan Teknis yang Membuat Penulis Malu
Kesalahan teknis pada naskah tentu dianggap sebagai kesalahan sederhana. Misalnya, kesalahan dalam penggunaan tanda baca. Baik pemilihan jenis tanda baca maupun kesalahan penempatan.
Kesalahan-kesalahan teknis ini dipandang kesalahan yang umum dialami penulis pemula. Jadi, jika buku Anda tidak diperiksa di tahap akhir maka kesalahan ini lolos. Kemudian jika lolos sampai terbit, tentu menjadi hal memalukan.Â
2. Meningkatkan Kualitas Naskah
Naskah yang berkualitas tentu tidak hanya memiliki topik yang menarik. Akan tetapi juga dipengaruhi faktor lain. Misalnya alur yang jelas sehingga mudah diikuti pembaca. Kemudian, pemilihan diksi tepat. Penggunaan tanda baca juga benar. Kualitas naskah buku bisa ditingkatkan melalui proofreading.
3. Isi Naskah Lebih Enak Dibaca dan Mudah Dipahami
Manfaat berikutnya dari proses proofreading bahasa Indonesia untuk buku yang diterbitkan secara nasional adalah lebih enak dibaca. Selanjutnya, isi buku juga lebih mudah dipahami. Sebab penulisan tidak ada typo, tanda baca ada dan posisinya tepat, dan sebagainya. Sehingga keterbacaannya tinggi.
4. Menghindari Kesalahan dalam Proses Cetak Naskah
Pada saat naskah sudah siap terbit, maka tentu akan masuk ke proses cetak. Pada proses ini, jika masih dijumpai kesalahan teknis karena tidak ada proofreading. Maka tentu harus cetak ulang. Biaya cetak menjadi membengkak, dan proses penerbitan bisa lebih lama dari seharusnya.
5. Menunjang Reputasi dan Kredibilitas Penulis
Manfaat berikutnya dari proses koreksi naskah di tahap akhir adalah menunjang reputasi dan kredibilitas penulis. Sebab dengan tahap inilah, penulis bisa memperbaiki kualitas naskah. Sehingga saat terbit, menjadi naskah yang disukai pembaca dan karya Anda selanjutnya akan dinantikan.
Baca Juga: 7 Rekomendasi Tools Proofreading Online
Tahapan Proofreading untuk Karya Ilmiah
Meskipun proofreading adalah tahapan yang idealnya dilakukan orang lain. Namun, melakukannya mandiri bagi seorang penulis tetap dianjurkan. Supaya tetap objektif, berikut tahapan yang dianjurkan:
1. Menyelesaikan Naskah Buku
Tahap pertama dalam proses koreksi naskah adalah menyelesaikan naskah buku itu sendiri. Jadi, lakukan bertahap bukan beriringan antara proses menulis dengan proses koreksi. Hal ini bisa membuat fokus terpecah.
Resiko melakukan koreksi sebelum naskah selesai adalah kehilangan fokus dan bahkan mengalami writer’s block. Jadi, silahkan fokus dulu menyelesaikan naskah sampai bab terakhir. Jika sudah selesai, baru masuk ke tahap koreksi berikutnya.Â
2. Memberi Jeda Sebelum Mulai Proofreading
Tahap kedua dalam proses proofreading naskah buku adalah memberi jeda atau istirahat sejenak. Artinya, setelah menyelesaikan bab terakhir pada naskah tersebut. Usahakan istirahat dulu jangan langsung melakukan koreksi tahap akhir.
Kenapa? Tanpa ada jeda membuat penulis fokus pada hasil tulisan sendiri dan merasa sudah baik dan benar. Hasil koreksi bisa sangat subjektif. Sehingga merasa sudah benar, padahal ada kesalahan teknis.
Maka jeda diperlukan agar lupa dengan alur dan isi naskah buku. Jika dibaca ulang, maka akan terkesan membaca buku yang ditulis orang lain. Sehingga lebih objektif dan hasil koreksinya bisa maksimal serta memuaskan.
3. Membaca Naskah dari Bab Awal
Tahap ketiga dalam proses proofreading adalah membaca naskah. Jadi, bagaimana mungkin bisa menemukan kesalahan teknis pada naskah jika tidak dibaca? Maka pada inti kegiatan koreksi adalah membaca ulang naskah.
Lakukan dari bab pertama atau halaman pertama isi naskah. Lakukan pelan-pelan untuk memahami isi naskah tersebut. Hal ini membantu mengetahui ada tidaknya kesalahan teknis sekecil apapun. Jadi, harus fokus dan bebas dari distraksi apapun.
Baca Juga: Jasa Proofreading vs Self Proofreading, Lebih Efektif Mana?
4. Memperbaiki Segera Kesalahan Teknis yang Ditemukan
Tahap keempat dalam proses koreksi naskah tahap akhir adalah melakukan perbaikan atau revisi. Sangat dianjurkan untuk memperbaiki kesalahan teknis segera setelah ditemukan atau diketahui. Sehingga tidak menumpuk.
Anda bisa memastikan bab pertama bebas kesalahan, kemudian bab kedua, ketiga, dan seterusnya. Pada beberapa penulis lebih memilih mengecek kesalahan teknis bertahap. Misalnya membaca dan mengoreksi dulu kesalahan tanda baca.
Baru kemudian dibaca lagi dari awal untuk mengoreksi typo, dan sebagainya. Namun, proses ini lebih lama. Akan tetapi tetap sah saja dilakukan dan bisa dipertimbangkan jika Anda merasa cocok dengan alur seperti ini.
5. Membaca dan Memeriksa Halaman Daftar Pustaka
Proses proofreadings ebaiknya tidak hanya sampai bab terakhir saja. Namun sampai pada halaman daftar pustaka. Sebab dalam buku ilmiah, penulisan daftar pustaka harus tepat dan sesuai gaya sitasi yang digunakan. Maka koreksi di halaman ini sangat penting karena ikut menunjukan kredibilitas penulis.
6. Dibaca Ulang Setelah Koreksi Selesai
Tahap akhir dari proses koreksi naskah adalah dibaca ulang kembali. Setelah semua kesalahan yang ditemukan diperbaiki. Maka jangan langsung berhenti dan mengirim naskah ke penerbit. Akan tetapi dibaca ulang kembali untuk koreksi tahap final.
Jika tahapan dalam proofreading sudah benar, baik saat melakukan proofreading online maupun secara offline. Maka tentu akan lebih terstruktur dan menjadi sangat teliti. Sehingga menghindari kesalahan yang terlewat tanpa sengaja. Jadi, silahkan menerapkan tahapan di atas berurutan.
Jika kesulitan melakukan proses ini secara mandiri. Maka bisa diserahkan ke editor penerbit buku atau memakai jasa proofreading profesional. Memaksimalkan naskah buku agar siap terbit, bisa juga menggunakan Layanan Konversi KTI dari Parafrase Indonesia.Â
sumber:
- Intelegensia Media. (2025). Apa Itu Proofreading? Tahap Akhir Penting Sebelum Buku Dicetak! Diakses pada 2 Januari 2026 dari https://inteligensiamedia.com/apa-itu-proofreading-tahap-akhir-penting-sebelum-buku-dicetak/
- Indonesian Scientific Publication. (2025). Mengenal Proofreading dan Editing dalam Proses Penulisan. Diakses pada 2 Januari 2026 dari https://idscipub.com/id/mengenal-proofreading-dan-editing-dalam-proses-penulisan/