Cara Melihat Impact Factor Jurnal di Platform Database Literatur

cara melihat impact factor jurnal

Sudahkah Anda memahami bagaimana cara melihat impact factor jurnal dengan benar? Impact factor atau IF merupakan salah satu hal yang wajib untuk Anda perhatikan ketika mengerjakan sebuah karya tulis ilmiah.

Sebab IF ini nantinya akan memperlihatkan seberapa besar dampak yang diberikan oleh publikasi ilmiah yang sudah Anda kerjakan sebelumnya.

Baca Juga: 7 Cara Membuat Artikel Jurnal dari Skripsi, Apa Saja?

Apa Itu Impact Factor (IF)? 

Impact Factor jurnal adalah indikator kuantitatif yang digunakan untuk mengukur tingkat pengaruh (dampak) suatu jurnal ilmiah berdasarkan rata-rata jumlah sitasi artikel-artikel yang diterbitkan jurnal tersebut dalam periode waktu tertentu. Biasanya dihitung dalam kurun waktu 2 tahun terakhir. 

IF ini menunjukan seberapa sering artikel pada suatu jurnal dikutip oleh pembaca. Semakin tinggi jumlah kutipan atau sitasi. Maka menunjukan jumlah pembacanya yang tinggi. Sekaligus menunjukan artikel pada jurnal tersebut punya visibilitas yang tinggi. 

Melalui definisi ini, maka bisa dipahami jika IF menjadi indikator untuk membantu menilai dampak suatu jurnal. Jadi, bukan dampak publikasi artikel ilmiah seorang penulis atau peneliti.

Baca Juga: Daftar Jurnal Discontinued di Scopus, Lengkap dengan Dampaknya

Kelebihan Impact Factor

Sesuai penjelasan sebelumnya, penggunaan Impact Factor jurnal untuk mengukur kualitas dan kredibilitas jurnal masih pro dan kontra. Hal ini tidak terlepas dari kelebihan dan kelemahan yang dimiliki IF sebagai indikator tersebut. 

Jika dilihat dari sisi kelebihan, IF pada jurnal memiliki cukup banyak nilai tambah. Berikut beberapa diantaranya: 

1. Mudah untuk Diakses dan Dipahami 

IF menjadi salah satu jenis indikator penilai mutu jurnal yang paling mudah diakses sekaligus dipahami. Melalui rumus yang sederhana, siapa saja bisa dengan mudah menghitung IF suatu jurnal selama jumlah artikel dan jumlah sitasi diketahui. 

Tak hanya itu, sejumlah jurnal dan database yang menggunakan IF sebagai bagian dari layanan ke para pengguna. Menampilkan data IF tersebut saat menginformasikan identitas jurnal yang terindeks. Misalnya di Journal Citation Reports (JCR) yang menampilkan IF secara langsung. 

2. Mendorong Pengelola Jurnal Meningkatkan Mutu Tata Kelola

IF yang menunjukan rata-rata jumlah kutipan dari artikel yang diterbitkan suatu jurnal dalam kurun beberapa tahun. Tentu menjadi salah satu sumber motivasi bagi pengelola jurnal untuk terus berbenah. 

Adanya IF mendorong mereka untuk meningkatkan skor IF yang dimiliki. Salah satunya meningkatkan mutu tata kelola, bekerja sama dengan mitra  bestari, dan sebagainya. Sebab semakin tinggi mutu tata kelola publikasi, semakin berkualitas artikel yang diterbitkan. Secara alami akan mengundang banyak pembaca. 

3. IF Menjadi Bagian dari Strategi Penelitian 

Sesuai dengan salah satu fungsi IF yang dijelaskan sebelumnya, yakni membantu menganalisis tren penelitian. Maka IF punya kelebihan tersebut yang membantu para akademisi dan peneliti menentukan arah penelitian. Sehingga relevan dengan tren yang sedang naik dan meningkatkan visibilitas dari publikasi ilmiah yang dimiliki. 

IF pada jurnal tidak disarankan menjadi satu-satunya indikator untuk menilai kualitas suatu jurnal. Melankan dikombinasikan dengan alat ukur kualitas lainnya, misalnya CiteScore yang diterapkan publisher Elsevier. Saran ini sangat direkomendasikan, karena IF memang punya beberapa kelemahan.

Baca Juga: Impact Factor Jurnal yang Bagus untuk Publikasi, Seperti Apa?

 Kelemahan Impact Factor

1. Tidak Menunjukan Kualitas Artikel Ilmiah 

IF pada jurnal secara umum memberi gambaran mengenai mutu atau kualitas suatu jurnal. Sehingga bukan kualitas per artikel ilmiah yang terbit di jurnal tersebut. Hal ini menunjukan bahwa beberapa artikel pada jurnal dengan IF tinggi minim sitasi. 

Misalnya, jurnal A menerbitkan 150 artikel di tahun 2025. Namun, sitasi terbanyak hanya pada 10 artikel ilmiah saja. Sisanya memiliki jumlah sitasi yang rendah. Hal ini menunjukan bahwa IF tidak menggambarkan mutu artikel yang diterbitkan jurnal. Melainkan mutu jurnal secara umum berdasarkan rata-rata jumlah sitasi. 

2. IF Tinggi untuk Bidang Keilmuan Tertentu 

Harus diakui, bahwa jurnal di bidang keilmuan eksakta cenderung lebih tinggi dibanding bidang sosial dan humaniora. Alasannya bukan karena jurnal soshum punya mutu jelek atau lebih jelek. 

Secara umum, karya tulis ilmiah dari bidang eksakta memprioritaskan referensi dari jurnal dan bisa mengutip puluhan jurnal sekaligus. Sehingga jumlah sitasi cenderung lebih tinggi dan cepat naiknya. 

Hal sebaliknya terjadi pada jurnal di bidang soshum. Sebab jurnal ilmiah tidak menjadi satu-satunya referensi yang dianjurkan. Namun digabungkan dengan referensi lain. Selain itu, per satu artikel ilmiah tidak selalu mengambil banyak kutipan. Sehingga kenaikan sitasi lambat dan jumlah IF jurnal soshum lebih rendah dibanding jurnal eksakta. 

3. Rentan Resiko Manipulasi IF 

Kelemahan Impact Factor jurnal berikutnya adalah rentan terjadi manipulasi. Berhubung IF didasarkan pada jumlah sitasi. Maka rentan melakukan kecurangan untuk mendongkrak jumlah sitasi tersebut. 

Misalnya, seorang dosen yang ingin menaikan IF jurnal tempatnya mengurus publikasi ilmiah. Maka bisa melakukan self citation, mendorong dan bahan mewajibkan mahasiswa mengutip artikel ilmiahnya, dll. Sehingga IF tidak lagi murni alami, melainkan ada teknik manipulasi yang diterapkan. 

4. Mengabaikan Jurnal dengan Bahasa Selain Bahasa Inggris 

Kelemahan IF jurnal berikutnya adalah dari segi bahasa. Secara umum, bahasa untuk jurnal ilmiah beragam. Pada jurnal nasional, akan disusun memakai bahasa ibu dari negara asal penulisnya. 

Sementara pada jurnal internasional, paling sering menggunakan bahasa Inggris. Secara standar, jurnal internasional bisa menggunakan bahasa resmi PBB. Sayangnya, jurnal dengan bahasa Inggris cenderung lebih populer dan banyak dikutip. Sementara jurnal dengan bahasa lain IF tetap rendah dan lambat untuk naik. 

5. Mendorong Peningkatan Kuantitas Publikasi Bukan Kualitas 

Kelemahan dari IF berikutnya adalah mendorong publikasi ilmiah yang fokus pada kuantitas. Namun mengabaikan kualitas dan peran kontribusi publikasi tersebut pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 

Hal ini terjadi, karena jika jurnal menerbitkan lebih banyak artikel maka cenderung meningkatkan jumlah sitasi yang didapat. Sehingga lebih banyak artikel diterbitkan dan menurunkan kualitas seleksi sampai peer review.

Rumus Perhitungan Impact Factor

Seperti yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya, salah satu indikator utama yang diperhatikan dalam menghitung impact factor adalah jumlah sitasi yang didapatkan oleh sebuah publikasi.

Oleh sebab itu, jumlah sitasi ini akan digunakan dalam rumus perhitungan dalam menentukan nilai IF.

Selain itu, jumlah publikasi dalam kurun waktu tertentu juga digunakan dalam rumus perhitungan IF ini. Biasanya jangka waktu yang digunakan untuk mencari nilai IF ini adalah jumlah publikasi dalam dua tahun.

Dari penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa rumus untuk mencari nilai IF dari publikasi ilmiah adalah:

IF = Jumlah Publikasi/Jumlah Sitasi

Adapun contoh kasus dari penerapan rumus perhitungan nilai IF ini adalah:

Seorang dosen diketahui berhasil menerbitkan jumlah publikasi ilmiah sebanyak 16 buah dalam jangka waktu dua tahun belakang. Dari keseluruhan publikasi ilmiah ini, dosen tersebut diketahui mendapatkan jumlah sitasi sebanyak 60 kali.

Maka cara mencari nilai IF dari publikasi ilmiah yang dilakukan oleh dosen tersebut dalam jangka waktu dua tahun belakangan adalah.

IF = 16/60 = 0,27

Artinya nilai IF yang didapatkan dari total publikasi ilmiah dosen ini adalah sebesar 0,27. Besaran nilai IF ini bisa Anda ketahui berdasarkan ketentuan yang berlaku di instansi terkait.

Cara Melihat Impact Factor Jurnal

Setelah memahami cara menghitung nilai IF, informasi berikutnya yang penting untuk Anda ketahui adalah cara melihat impact factor jurnal. Terdapat beberapa cara yang bisa Anda lakukan ketika ingin melihat nilai IF ini, yakni:

1. Journal Citation Report (JCR)

Cara pertama yang bisa Anda lakukan untuk melihat impact factor jurnal adalah dengan mengakses Journal Citation Report. Anda bisa mengakses JCR ini dengan mengunjungi laman https://clarivate.com/webofsciencegroup/solutions/journal-citation-reports/.

Situs ini akan menunjukkan dampak yang diberikan oleh publikasi ilmiah yang terindeks database Web of Science atau WoS. Umumnya jurnal yang termasuk dalam pemeringkatan situs ini berasal dari bidang keilmuan teknologi, sains, dan ilmu sosial.

Beberapa informasi terkait penilaian IF yang bisa Anda dapatkan dalam situs ini adalah jumlah kutipan, faktor dampak, indeks, dan lainnya.

2. Scopus

Anda juga bisa melihat impact factor dari sebuah jurnal dengan mengakses Scopus. Perlu untuk Anda ketahui bahwa Scopus merupakan salah satu database ilmiah yang memiliki reputasi dan kredibilitas tinggi.

Setiap jurnal yang terindeks database yang dikelola oleh Elsevier ini biasanya memiliki kualitas yang mumpuni. Oleh sebab itu, jurnal yang terindeks Scopus ini biasanya juga memiliki dampak yang besar bagi sebuah bidang keilmuan tertentu.

Anda bisa mengakses Scopus dengan mengunjungi laman https://www.scopus.com/. Kemudian Anda bisa mengakses kolom ‘Cited’ yang ada pada hasil pencarian jurnal untuk melihat seberapa banyak publikasi ilmiah tersebut disitasi oleh penelitian lainnya.

3. SCImago Journal Rank (SJR)

Cara berikutnya yang bisa Anda lakukan untuk melihatimpact factor sebuah jurnal adalah dengan mengakse SCImago Journal Rank atau SJR. Anda bisa mengakses SJR ini dengan mengunjungi situs https://www.scimagojr.com/.

Anda bisa mengakses bagian ‘Journal Ranking’ yang terdapat pada laman SCImago JR ini. Bagian ini akan memperlihatkan rangking dari setiap jurnal internasional. Makin tinggi peringkat jurnal tersebut, maka akan makin besar pula nilai IF dalam setiap publikasinya.

4. Source Normalized Impact per Paper (SNIP)

Source Normalized Impact per Paper atau SNIP merupakan situs berikutnya yang bisa Anda gunakan untuk melihatimpact factor sebuah jurnal. Anda bisa mengakses situs https://www.journalindicators.com/indicators untuk masuk ke dalam laman SNIP.

Dengan menggunakan situs ini, Anda akan mengetahui jumlah sitasi dari sebuah publikasi ilmiah secara rinci. Selain itu, Anda juga akan mengetahui jurnal ilmiah apa saja yang sering digunakan sebagai rujukan dalam penelitian lainnya.

5. CiteScore

Cara terakhir yang bisa Anda gunakan untuk melihat impact factor jurnal adalah dengan menggunakan CiteScore. Sama seperti situs lainnya, CiteScore juga akan memperlihatkan nilai IF dari setiap jurnal internasional.

Itulah beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk melihat impact factor sebelum mengirim artikel ilmiah pada jurnal.

Itulah informasi lengkap terkait impact factor yang harus Anda ketahui sebelum mengirimkan artikel ilmiah pada suatu jurnal.

Selain publikasi dalam bentuk jurnal, Anda juga bisa menerbitkan hasil penelitian menjadi buku berkualitas, loh!

Hanya dengan Layanan Parafrase Konversi, Anda cukup menyiapkan karya ilmiah (skripsi, tesis, disertasi, atau hasil penelitian lainnya), lalu tim profesional bersertifikasi BNSP dari Parafrase Indonesia akan mengubah karya ilmiah Anda menjadi buku ber-ISBN yang sesuai standar Dikti.

Setelah itu, Anda bisa mengajukan buku tersebut saat pelaporan BKD guna menunjang percepatan karier Anda sebagai dosen.

Tunggu apa lagi? Yuk, konversikan karya ilmiah Anda dan raih jabatan fungsional yang lebih baik!

Bagikan artikel ini melalui

Tinggalkan Balasan