Dosen di Indonesia dalam melaksanakan tugas pendidikan dan pengajaran, memiliki kewajiban mengembangkan bahan ajar. Termasuk menyusun modul ajar dan modul pembelajaran. Namun, apa perbedaan modul ajar dan modul pembelajaran tersebut?
Keduanya sekilas memiliki nama hampir sama, sehingga sering dianggap sama. Namun, keduanya termasuk jenis-jenis bahan ajar yang bisa menjadi buku ajar. Sehingga satu sama lain berbeda. Jadi, apa saja perbedaannya? Berikut informasinya.Â
Baca Juga: Rekomendasi Penerbit Buku Ajar yang Kredibel dan Terpercaya
Daftar Isi
TogglePerbedaan Modul Ajar dan Modul Pembelajaran
Memahami bahwa modul pembelajaran dan modul ajar adalah sama-sama bahan ajar. Sehingga sama-sama wajib disusun oleh dosen di Indonesia. Maka tentu perlu memahami perbedaan keduanya agar tidak keliru dalam proses penyusunan.
Secara umum, terdapat beberapa aspek yang menjadi perbedaan modul ajar dan modul pembelajaran. Berikut penjelasan rincinya:
1. Definisi
Perbedaan yang pertama bisa dilihat dari definisi antara modul ajar dan modul pembelajaran. Modul ajar adalah panduan belajar untuk mendukung pembelajaran, baik mandiri maupun tatap muka.
Sementara modul pembelajaran adalah bahan ajar terstruktur yang memuat materi lengkap untuk belajar mandiri. Jadi, modul ajar secara umum disusun dosen atau guru dan digunakan sebagai panduan kegiatan mengajar.
Sehingga menjelaskan rencana kegiatan pembelajaran, baik secara tatap muka maupun secara jarak jauh. Sedangkan modul ajar disusun oleh dosen atau guru dan ditujukan untuk peserta didik (mahasiswa atau siswa – pelajar).
2. Tujuan
Aspek kedua yang menunjukan perbedaan modul ajar dan modul pembelajaran adalah pada tujuan penyusunan. Modul ajar disusun dengan tujuan menjadi panduan bagi dosen dalam mengisi perkuliahan.
Sehingga isinya menjelaskan topik atau materi perkuliahan, media pembelajaran yang digunakan, metode pembelajaran yang diterapkan, dan unsur pembelajaran lainnya. Kemudian menjadi pegangan dosen untuk melaksanakan pembelajaran atau perkuliahan dengan baik dan terstruktur.
Sementara tujuan dari penyusunan modul pembelajaran adalah untuk menyediakan pegangan bagi mahasiswa. Sehingga mereka mendapatkan penjelasan materi perkuliahan untuk melengkapi penjelasan dosen. Kemudian bisa digunakan mahasiswa sebagai pegangan saat pembelajaran dan saat belajar mandiri.
3. Target Pembaca
Aspek ketiga adalah dari target pembaca. Sesuai definisi maupun poin kedua yang dijelaskan sebelumnya. Tentu bisa langsung dipahami bahwa perbedaan perbedaan modul ajar dan modul pembelajaran memiliki target pembaca yang berbeda.Â
Modul ajar ditargetkan untuk pendidik seperti dosen. Sebab isinya menjadi panduan dalam melaksanakan kegiatan perkuliahan. Sedangkan pada modul pembelajaran, ditargetkan untuk kalangan mahasiswa.
Sehingga menjadi salah satu sumber untuk memperdalam pemahaman materi perkuliahan. Sekaligus membantu dalam mengikuti perkuliahan. Pada saat dosen memberi penjelasan, maka mahasiswa bisa mengikuti dengan mengacu pada isi modul pembelajaran.
4. Fokus dan Isi
Poin ketiga yang menjadi perbedaan modul ajar dan modul pembelajaran adalah fokus dan isi. Modul ajar berfokus pada panduan pelaksanaan kegiatan mengajar atau transfer ilmu yang dilaksanakan dosen.
Sehingga isi atau konten di dalamnya mencakup materi perkuliahan, media pembelajaran, metode pembelajaran, dan proses evaluasi. Isinya membantu dosen memahami apa saja yang harus disampaikan, dilakukan, dan proses evaluasi dari kegiatan perkuliahan yang diisi atau diampu.
Sementara itu, fokus dari modul pembelajaran adalah materi pembelajaran pada mata kuliah tertentu. Isinya informasi atau penjelasan secara rinci mengenai materi di suatu mata kuliah tersebut. Sehingga membantu mahasiswa untuk memahami materi dengan baik dan mendalam.
Selain itu, isinya juga mencakup latihan soal yang bisa dikerjakan mahasiswa. Sehingga bisa menjadi sarana mengukur tingkat pemahaman materi yang dipelajari dari modul pembelajaran tersebut.
Baca Juga: Panduan Menulis Buku Ajar untuk Mahasiswa S1 (Terbaru 2025)
5. Fleksibilitas
Perbedaan modul ajar dan modul pembelajaran juga bisa dilihat dari aspek fleksibilitas. Secara umum, keduanya sama-sama fleksibel untuk digunakan oleh target pembaca. Hanya saja tingkat fleksibilitasnya berbeda.
Pada modul ajar, sifatnya fleksibel. Sebab bisa menjadi panduan dosen dalam mengampu perkuliahan secara tatap muka (luring) maupun jarak jauh (daring). Sehingga fleksibel untuk berbagai model pembelajaran dan relevan diterapkan di masa sekarang.
Sedangkan pada modul pembelajaran, sifatnya sangat fleksibel. Sehingga fleksibilitasnya lebih tinggi dibanding modul ajar. Sebab, modul pembelajaran bisa dibaca oleh mahasiswa kapan saja. Baik ketika ikut perkuliahan daring perkuliahan luring, belajar mandiri di rumah, maupun diskusi bersama mahasiswa lain.
6. Evaluasi dan Pendekatan
Aspek terakhir yang menjadi pembeda antara modul pembelajaran dan modul ajar adalah evaluasi dan pendekatan. Pada modul ajar, sifatnya formatif. Isinya berisi perencanaan dan pengendalian kegiatan pembelajaran (perkuliahan).
Dosen terbantu dengan isi di dalamnya untuk merencanakan kegiatan pembelajaran dengan baik. Sehingga dalam durasi sesuai kebijakan perguruan tinggi, dosen bisa menyampaikan materi dengan rinci. Sekaligus mengisi kegiatan tanpa kemungkinan diam saja di kelas atau di platform telekonferensi seperti Zoom Meeting.
Sementara pada modul pembelajaran, evaluasi berisi latihan soal. Secara umum juga dilengkapi kunci jawaban. Latihan soal ini relevan dengan materi yang dipaparkan di dalamnya.
Sehingga membantu menguji tingkat pemahaman sampai kompetensi yang berhasil dikuasai mahasiswa. Selain latihan soal, pada materi dengan karakteristik tertentu diganti dengan tugas. Sehingga menjadi tugas berbasis proyek, studi kasus, atau lainnya.
Meskipun memiliki cukup banyak perbedaan. Pada dasarnya modul ajar dan juga modul pembelajaran saling melengkapi. Tidak bisa saling menggantikan. Sebab, dosen butuh modul ajar untuk menjalankan perkuliahan secara efektif.
Sedangkan dari sisi mahasiswa, modul pembelajaran berperan dalam meningkatkan pemahaman materi sepanjang perkuliahan. Sehingga kegiatan perkuliahan berjalan lancar karena dosen dan mahasiswa saling memiliki pegangan mengikuti perkuliahan tersebut.
Memahami perbedaan ini tentu penting bagi dosen. Sehingga memahami betul bagaimana proses pembuatan modul yang baik dan tepat. Sebab tidak saling tertukar, karena ada kesalahpahaman.
Baca Juga: Contoh Buku Ajar dan Template-nya
Ciri-Ciri Modul
Melalui penjelasan sebelumnya, bisa dipahami juga bahwa modul pembelajaran dan modul ajar adalah jenis-jenis dari modul.
Modul sendiri adalah salah satu bentuk bahan ajar yang dikemas secara utuh dan sistematis, didalamnya memuat seperangkat pengalaman belajar yang terencana dan didesain untuk membantu peserta didik menguasai materi.
Modul yang termasuk dalam bahan ajar kemudian memiliki sejumlah ciri khas yang membedakannya dengan bahan ajar lain. Berikut ciri-ciri yang dimaksud:
1. Self Instructional
Ciri khas yang pertama dari modul adalah self instructional. Artinya, modul dirancang atau disusun untuk menunjang kegiatan pembelajaran mandiri dan memiliki fleksibilitas dalam penggunaan.
Membaca modul tanpa didampingi dosen, diharapkan sudah cukup membantu mahasiswa memahami materi. Namun, tentunya modul tersebut tidak serta merta mampu menggantikan peran dosen sepenuhnya. Sehingga dampingan dan penjelasan tambahan dari dosen masih dibutuhkan.
Ciri khas ini pula yang membuat modul fleksibel dibaca kapan saja dan dimana saja. Mahasiswa bisa membacanya saat perkuliahan berjalan, pada saat belajar mandiri di rumah, dan sebagainya.
2. Self Contained
Ciri khas yang kedua dari modul adalah self contained. Artinya, isi dari modul adalah seluruh materi pembelajaran dari satu unit kompetensi atau sub kompetensi yang dipelajari terdapat di dalam satu modul secara utuh.
Satu modul akan memaparkan materi secara lengkap. Mulai dari penjelasan mendasar, penjelasan yang lebih mendalam, latihan soal atau evaluasi, dan dilengkapi kunci jawaban.
Modul biasanya terdiri dari beberapa bab, setiap bab saling terhubung dan menjelaskan urutan materi dalam perkuliahan. Sehingga isi modul sudah didesain lengkap dan menunjang pembelajaran mandiri.
Pada modul ajar, isi atau komponen modul juga secara rinci menjelaskan rancangan atau rencana pembelajaran. Mulai dari identitas mata kuliah (nama mata kuliah, kode, semester, dll), CPL, CPMK, alur pembelajaran, dll.
3. Stand Alone
Ciri ketiga dari modul secara umum adalah stand alone atau berdiri sendiri. Artinya, modul yang dikembangkan tidak tergantung pada media lain atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan media pembelajaran lain.
Modul dirancang untuk menunjang kegiatan pembelajaran mandiri. Sehingga penjelasan suatu materi di dalamnya dibuat selengkap mungkin. Mahasiswa bisa mengandalkannya secara tunggal tanpa perlu mencari sumber bacaan atau referensi lain.
Oleh sebab itu, modul disusun secara sistematis untuk bisa memaparkan materi secara lengkap dan detail. Termasuk adanya latihan soal atau evaluasi hasil pembelajaran. Sehingga mahasiswa yang kesulitan mengakses sumber lain, bisa tetap belajar dan paham materi dengan mengandalkan modul tersebut.
4. Adaptive
Ciri khas selanjutnya dari modul pembelajaran dan modul ajar adalah adaptif. Artinya, modul dapat menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta fleksibel digunakan.
Modul menjadi adaptif karena cocok dibaca mahasiswa manapun. Bagaimanapun karakternya dalam belajar atau gaya belajarnya. Kemudian, modul mudah untuk diubah dan dimodifikasi mengikuti perubahan kurikulum maupun perkembangan ilmu pengetahuan.
Sehingga isi di dalamnya tinggal diubah sedikit tanpa perlu disusun dari nol saat ada perkembangan terbaru. Selain itu, modul disebut adaptif karena fleksibel untuk digunakan. Yakni kapan saja, dimana saja, dan cocok untuk berbagai metode pembelajaran.
5. User Friendly
Ciri khas terakhir dari modul adalah user friendly. Artinya, komponen modul yang mencakup instruksi dan paparan informasi yang tampil bersifat membantu dan bersahabat dengan pemakainya.
Sehingga membuatnya mudah dipahami. Termasuk juga memberi kemudahan pembaca (mahasiswa) dalam merespon dan mengakses sesuai dengan keinginan. Isinya leluasa dibaca di bagian mana saja dan diulang di bagian mana saja oleh mahasiswa.
Bahasa yang sederhana dan umum digunakan serta penjelasan yang rinci. Membuatnya enak dibaca dan dengan mudah dipahami oleh kalangan mahasiswa. Kemudahan ini yang membuatnya disebut user friendly.
Baca Juga: 9 Karakteristik Buku Ajar Menurut PO Angkat Kredit [Free Ebook]
Cara Mudah Menyusun Modul
Dalam pembuatan modul, baik itu modul ajar maupun modul pembelajaran tentu butuh kemudahan lebih. Meskipun sifatnya adaptif, para dosen yang menyusun modul pertama kali tentu berhadapan dengan sejumlah kesulitan.
Salah satu cara termudah adalah melakukan konversi KTI. Misalnya mengubah artikel ilmiah pada jurnal menjadi modul ajar atau modul pembelajaran. Prosesnya tentu butuh penyederhanaan gaya bahasa, penambahan contoh-contoh di lapangan, dan juga evaluasi atau latihan soal dan tugas.
Bagaimana jika kesulitan melakukan konversi? Jika masih terkendala dan kesulitan menyusun modul. Maka bisa menggunakan Layanan Konversi KTI dari Parafrase Indonesia. Melalui layanan ini, dosen akan dibantu mengkonversi karya tulis ilmiah lain menjadi modul.Â
Proses konversi dikerjakan oleh tim ahli, berpengalaman, dan bersertifikasi. Hasilnya juga bisa dimasukan dosen dalam pelaporan BKD. Sehingga memenuhi target BKD sekaligus menambah poin angka kredit untuk kenaikan jenjang jabatan fungsional dosen.
sumber:
- Spada Indonesia. (n.d). Perbandingan Modul Ajar, RPP dan Modul Pembelajaran. https://lmsspada.kemdiktisaintek.go.id/mod/folder/view.php?id=148545
- Universitas Negeri Surabaya. (2024). Perbedaan Modul Ajar dengan Bahan Ajar. Diakses pada 8 Januari 2026 dari https://s2pendidikanbahasainggris.fbs.unesa.ac.id/post/perbedaan-modul-ajar-dengan-bahan-ajar
- Famulaqih, S., & Lukman, A. (2024). Pengembangan Bahan Ajar Modul Pembelajaran. Karakter: Jurnal Riset Ilmu Pendidikan Islam, 1(2), 01-12. https://doi.org/10.61132/karakter.v1i2.156
- Sampoerna University. (2022). Apa Itu Modul Pembelajaran? Pengertian, Ciri, Fungsi. Diakses pada 8 Januari 2026 dari https://www.sampoernauniversity.ac.id/id/news/contoh-modul-pembelajaran