Apakah AI Writing Terdeteksi Plagiarisme? Ini Tips Menghindarinya!

ai writer

Salah satu layanan dari platform berbasis teknologi AI adalah AI Writing atau AI Menulis. Sesuai dengan namanya, platform dengan layanan ini membantu pengguna menyusun tulisan. 

Teknologi AI yang saat ini mudah untuk diakses memungkinkan siapa saja bisa menjadi penulis. Namun, apakah tulisan yang dibuat AI dijamin bebas plagiarisme dan tidak akan terdeteksi? Berikut informasinya.  

Apakah AI Writing Bisa Terdeteksi Plagiarisme?

Platform AI Writing adalah platform berbasis teknologi AI yang membantu para pengguna menghasilkan berbagai jenis konten tertulis secara otomatis. Misalnya membantu membuat kerangka tulisan, menyusun kalimat, menyusun paragraf, melakukan parafrasa, dan sebagainya. 

Jika karya tulis dibuat dengan bantuan platform AI, apakah termasuk plagiarisme? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), plagiarisme adalah penjiplakan yang melanggar hak cipta. 

Sementara plagiat adalah pengambilan karangan (pendapat dan sebagainya) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dan sebagainya) sendiri. Jika suatu tulisan dibuat dengan AI, besar kemungkinan suatu kutipan tidak mencantumkan sumber. Sehingga memenuhi kriteria terjadi plagiarisme. 

Dalam dunia akademik, penggunaan AI untuk kebutuhan menyusun karya tulis ilmiah masih menjadi perdebatan. Beberapa dosen dan perguruan tinggi menetapkan kebijakan memperbolehkan penggunaan AI dengan batasan tegas. Namun beberapa dosen dan perguruan tinggi melakukan sebaliknya. 

Lalu, jika tulisan dibuat dengan AI Writing apakah terdeteksi plagiarisme? Jawabannya tergantung pada beberapa kondisi. Artinya, dalam kondisi tertentu tulisan buatan AI bisa terdeteksi plagiarisme. Namun, bisa juga terjadi sebaliknya. Hasil tulisan buatan AI bisa terdeteksi plagiarisme jika dalam beberapa kondisi berikut: 

1. Menghasilkan Kalimat yang Mirip dengan Sumber 

Tulisan yang dibuat AI bisa terdeteksi plagiarisme jika mirip dengan sumber atau suatu tulisan yang sudah terpublikasi. Platform AI biasanya merangkum sejumlah data atau informasi dari berbagai sumber. 

Sehingga dalam tulisan tertentu, AI menyusun tulisan baru yang mirip dengan suatu tulisan. Pada saat di cek di tools pendeteksi plagiarisme, maka tentu akan terdeteksi sekian persen. 

2. Menghasilkan Tulisan dengan Frasa Umum 

Kondisi kedua yang membuat tulisan buatan AI terdeteksi plagiarisme adalah ketika menghasilkan frasa umum. Harus diakui, terdapat beberapa frasa yang sifatnya umum dan akan melekat di sejumlah karya tulis. 

Frasa umum ini bisa masuk dalam tulisan yang dibuat platform AI. Sehingga bisa terdeteksi plagiarisme. Frasa umum menjadi salah satu susunan kalimat atau potongan kalimat yang sering dijumpai pada tulisan terpublikasi di blog, website, dll. Berikut beberapa contohnya: 

  • Dalam era perkembangan teknologi yang semakin pesat…”
  • “Tidak dapat dipungkiri bahwa…”
  • “Seiring dengan berjalannya waktu…”
  • “Hal ini menunjukkan bahwa…”
  • “Dapat disimpulkan bahwa…”

3. Menyusun Prompt Copy Paste di Platform AI

Beberapa platform berbasis teknologi AI memiliki cara kerja dengan prompt. Sehingga pengguna wajib menyusun prompt dan akan diproses oleh platform tersebut. Baru kemudian menampilkan respon sesuai isi prompt. 

Dalam menyusun prompt di platform AI Writing perlu teliti. Sebab jika prompt keliru dan meminta AI melakukan copy paste. Maka tulisan yang dibuat akan terdeteksi plagiarisme. Contohnya sebagai berikut: 

  • “Tulis ulang artikel ini tanpa mengubah struktur.”
  • “Berikut adalah teks yang saya miliki dan ingin saya salin ulang apa adanya. Tugas Anda hanya menampilkan ulang teks ini tanpa perubahan. Jangan merangkum atau mengedit. Copy secara persis seperti input saya berikut:”

4. Hasil Tulisan AI Digunakan Tanpa Parafrasa 

Kondisi keempat yang membuat hasil tulisan AI terdeteksi plagiarisme adalah digunakan apa adanya tanpa parafrasa. Dalam menyusun karya tulis baru dengan bantuan AI, idealnya tulisan buatan AI dilakukan parafrasa. 

Hal ini penting untuk mengantisipasi adanya frasa umum maupun kalimat yang mirip dengan tulisan lain yang sudah terpublikasi. Khususnya saat menyusun karya ilmiah, maka melakukan parafrasa menjadi wajib dilakukan. 

Bagaimana Sistem Plagiarisme Mendeteksi Tulisan AI?

Menulis dengan memanfaatkan AI Writing memang memberi efisiensi. Akan tetapi, perlu memastikan terhindar dari berbagai risiko pelanggaran etis. Salah satunya plagiarisme, yang ternyata masih bisa terdeteksi oleh AI. 

Namun, apakah platform pengecek plagiarisme bisa mendeteksi tulisan yang dibuat oleh AI? Dalam hal ini, tergantung pada teknologi dan algoritma yang menyusun platform deteksi plagiat tersebut. 

Salah satu contohnya yang bisa mendeteksi tulisan buatan AI adalah Turnitin. Turnitin memiliki fitur bernama AI Writing Detector. Fitur ini tidak mendeteksi tulisan buatan AI sebagai plagiarisme. Melainkan mendeteksi buatan AI berdasarkan pola. 

Tulisan yang dibuat oleh AI secara umum memiliki pola tersendiri. Pola ini berbeda dengan tulisan buatan manual manusia. Pola inilah yang diperiksa oleh fitur di Turnitin tersebut. Sehingga pada saat tulisan diperiksa dan memang buatan AI maka akan terdeteksi atau ketahuan. 

Risiko Menggunakan AI Writing Tanpa Parafrase

Mengandalkan AI Writing sepenuhnya dalam menyusun karya tulis jenis apapun tentu tidak dianjurkan. Hasil tulisan AI disarankan untuk dilakukan parafrasa atau ditulis ulang dengan bahasa sendiri tanpa mengubah makna tulisan aslinya. 

Parafrasa memang tidak mudah, karena perlu memahami tulisan asli dengan baik. Sekaligus memiliki keterampilan menulis dan memiliki perbendaharaan kata yang kompleks. Namun, jika mengabaikan parafrasa maka ada berbagai risiko bisa ditanggung. Seperti: 

1. Tulisan Terdeteksi Plagiat 

Risiko pertama dari malas melakukan parafrasa tulisan yang dibuat AI adalah terdeteksi plagiat. Hal ini sejalan dengan penjelasan sebelumnya. Bahwa pada kondisi tertentu, tulisan buatan AI mirip dengan tulisan aslinya. 

Jika ada banyak tulisan yang sama persis seperti ini. Maka saat mengecek similarity, skornya bisa terlalu tinggi. Jika mengecek lewat platform cek plagiat maka persentasenya juga tinggi. 

Jika tulisan tersebut akan dipublikasikan, misalnya berbentuk naskah buku dan berniat diterbitkan. Maka tentu pihak penerbit akan menolak naskah. Jika masih cukup beruntung, pihak editor penerbit akan meminta revisi skala besar. 

2. Tulisan Terdeteksi Buatan AI 

Risiko kedua jika memanfaatkan hasil AI Writing tanpa parafrasa adalah terdeteksi buatan AI. Sesuai penjelasan sebelumnya, beberapa platform cek plagiat dan similarity indeks mampu mendeteksi tulisan AI. Misalnya di platform Turnitin. 

Jika Anda dosen atau mahasiswa, dijamin akan ketahuan mengandalkan AI sepenuhnya. Hal ini tentu berdampak pada tulisan yang ditolak dan diminta menulis ulang. 

Jika ingin menghindari risiko terdeteksi buatan AI. Maka salah satu strateginya adalah melakukan parafrasa. Teks yang dibuat AI harus ditulis ulang dengan bahasa sendiri. Sehingga memiliki pola tulisan buatan manusia bukan buatan AI.  

3. Menerima Sanksi

Apabila kedapatan menulis dengan bantuan AI sepenuhnya atau melakukan tindak plagiarisme. Maka tentu ada risiko menerima sanksi dari pihak terkait. Jika Anda dosen atau mahasiswa, maka akan ada sanksi dari perguruan tinggi. 

Bagi mahasiswa, pada saat skripsi yang disusun ketahuan tindakan plagiat atau buatan AI. Pihak perguruan tinggi bisa memberi sanksi dari sanksi ringan berupa teguran sampai terberat ijazah ditarik. 

Sementara bagi kalangan dosen, ketahuan melakukan tindakan plagiat pada publikasi ilmiah juga bisa diberi sejumlah sanksi. Dimana sanksi paling ringan adalah menerima teguran lisan dan tertulis. Kemudian bisa juga tidak bisa mengajukan kenaikan jabatan fungsional sampai diberhentikan sebagai dosen. 

4. Ketergantungan pada AI Writing 

Risiko keempat jika berlebihan dalam mengandalkan AI Writing adalah menjadi ketergantungan. Apalagi jika tidak pernah ketahuan memakai AI dan tulisan juga tidak terdeteksi hasil plagiat. 

Maka akan menganggap memakai AI sepenuhnya tidak keliru dan menguntungkan. Sehingga merasa tidak perlu juga bersusah payah melakukan parafrasa. Pada akhirnya akan sangat bergantung pada AI. Jika menulis manual, maka akan kesulitan dan bahkan tidak menghasilkan tulisan sama sekali. 

5. Keterampilan Menulis Menurun 

Risiko selanjutnya jika terlalu mengandalkan AI dalam membuat karya tulis adalah menurunkan keterampilan menulis itu sendiri. Keterampilan menulis termasuk dalam keterampilan praktis. Dimana perlu rutin dipraktekan agar terasah dan berkembang. 

Jika selama menulis mengandalkan AI sepenuhnya dan malas melakukan parafrasa. Maka semakin tergantung pada AI dan keterampilan menulis semakin menurun. Jika sudah terjadi, maka tidak  memiliki kemampuan yang mendukung untuk menghasilkan karya tulis.

Tips agar Tulisan AI Tidak Terdeteksi sebagai Plagiat

Memanfaatkan AI Writing bisa membantu memudahkan proses menulis. Sekaligus memberi efisiensi waktu sampai tenaga. Namun, memahami tulisan yang dibuat dengan AI bisa terdeteksi plagiat dan terdeteksi sebagai buatan AI. Maka perlu teliti dalam memanfaatkan teknologi ini. 

Berikut adalah beberapa tips untuk menghindari risiko tulisan yang dibuat dengan bantuan AI terdeteksi plagiat: 

1. Menyusun Prompt dengan Benar 

Karya tulis yang dibuat tentu diharapkan merupakan hasil buah pikiran sendiri. Sehingga kualitasnya menunjukan keterampilan menulis yang dimiliki. Sekaligus menjaga integritas sebagai penulis profesional. 

Mengandalkan bantuan platform AI bukan hal yang dilarang. Namun, penting untuk memakainya dengan bijak agar tidak terdeteksi plagiat. Maupun terdeteksi tulisan yang dimiliki hasil buatan AI. 

Salah satu tips menghindari risiko tersebut adalah menyusun prompt dengan benar. Prompt yang disusun akan mempengaruhi respon platform AI sekaligus hasil tulisan yang dibuat. Jika isi prompt menyuruh AI copy paste tulisan asli. Maka dijamin terdeteksi plagiat. Jadi, hindari prompt seperti ini. 

2. Melakukan Parafrase Tulisan yang Dibuat AI Writing 

Platform AI memang disebut-sebut sebagai platform dengan teknologi terkini. Namun, secanggih apapun teknologi AI pada dasarnya tetaplah mesin. Sebagai mesin yang cara kerjanya menyesuaikan algoritma bahasa pemrograman yang menyusunnya. Maka masih ada kemungkinan error. 

Oleh sebab itu, menggunakan AI dalam bentuk dan tujuan apapun jangan sampai dipercaya 100%. Termasuk saat memakai AI Writing. Jadi, tulisan yang dibuat dengan bantuan AI sebaiknya dibaca ulang dan dipastikan kalimatnya natural. 

Jika ada suatu data atau informasi penting dan wajib kredibel. Maka perlu mengecek validitas tulisan AI tersebut. Sehingga menghindari data bias yang akan menurunkan kualitas dan kredibilitas tulisan. 

Selanjutnya, setelah mengecek hasil tulisan buatan AI adalah melakukan parafrasa. Sebab membantu menghindari similarity yang membuat tulisan terdeteksi plagiat. Jadi, pastikan sudah memahami bagaimana melakukan parafrasa. 

3. Menghindari Parafrase dengan AI 

Masih berkaitan dengan poin sebelumnya tentang wajib parafrasa tulisan buatan AI. Pastikan untuk tidak melakukan parafrasa dengan bantuan AI juga. Sebab nantinya akan ada risiko kemiripan dengan tulisan lain yang sudah terpublikasi. 

Sejumlah platform berbasis teknologi AI memang menyediakan layanan parafrasa. Namun, jika menghindari plagiat dan tulisan terdeteksi AI di AI detektor. Sebaiknya parafrasa dilakukan secara manual. 

Pada awal-awal melakukan parafrasa manual memang terasa berat. Akan tetapi, perlahan akan terbiasa. Kemudian bisa dengan mudah melakukan parafrasa. Bahkan sampai berkali-kali dalam satu momen menulis. 

4. Mengecek Plagiarisme dan Similarity 

Tips berikutnya untuk mencegah hasil tulisan AI Writing terdeteksi plagiat adalah melakukan cek plagiarisme. Bisa juga menggunakan platform yang mengecek similaritas atau kesamaan teks. Misalnya Turnitin. 

Mengecek plagiat dan similarity membantu mendeteksi lebih dini ada tidaknya plagiat. Jika memang skor plagiat terbilang tinggi. Maka bisa memperbaiki dan melakukan parafrasa pada bagian-bagian yang terdeteksi plagiat. 

Jadi, setelah selesai menyusun karya tulis dengan bantuan AI jangan langsung dikirim ke penerbit. Namun diperiksa dulu ada tidaknya plagiat dan skor similarity terbilang aman. Hal ini membantu memastikan karya tulis bebas plagiat sekaligus lebih mudah diterima penerbit. 

5. Memanfaatkan Detektor AI 

Selain terdeteksi plagiat, salah satu kekhawatiran menggunakan AI untuk menulis adalah terdeteksi memakai AI tersebut. Sesuai penjelasan sebelumnya, tulisan batan AI memiliki pola mirip dan cenderung kaku. 

berbeda dengan pola tulisan yang dibuat manual oleh manusia. Biasanya pilihan kosakata dalam satu kalimat bisa sulit ditebak. Tidak ada pola pasti. Hal ini yang kemudian membedakanya dengan tulisan buatan AI. 

Jadi, tulisan yang sudah dibuat sebaiknya di cek di platform detektor AI. Sehingga sejak awal bisa memastikan tulisan yang dibantu AI terdeteksi atau tidak. Jika terdeteksi maka bisa dikoreksi atau direvisi sampai tidak terdeteksi lagi. 

6. Memperbaiki Frasa Umum 

Salah satu penyebab tulisan buatan AI Writing terdeteksi plagiat adalah terdapat frasa umum. Frasa umum membentuk kalimat dengan pola sama dan ditemukan di berbagai tulisan yang terpublikasi (bisa diakses publik). 

Jadi, setiap memakai bantuan AI untuk menyusun kalimat maupun paragraf sebaiknya diperiksa. Cek betul-betul apakah ada frasa umum di dalamnya atau tidak. Jika sulit terdeteksi manual, maka bisa memakai platform cek plagiat. 

Frasa yang terlalu umum dan terdapat di banyak tulisan akan terdeteksi plagiat. Sehingga bisa dikoreksi sejak awal sebelum naskah dikirimkan ke penerbit. Selain memperbesar peluang naskah diterima, juga menjaga integritas serta reputasi Anda sebagai penulis. 

7. Memanfaatkan AI Writing sebagai Alat Bantu 

Tips selanjutnya untuk menghindari deteksi plagiat dari tulisan yang dibuat dengan AI adalah memanfaatkan AI itu sendiri dengan benar. Secara etika, platform AI hanya bisa dan hanya boleh digunakan sebagai alat bantu bukan pengganti. 

Tulisan yang dibuat oleh AI sebaiknya tidak asal disalin di naskah karya tulis. Sebab sama artinya tulisan tersebut buatan AI dan tidak dibuat oleh penulis. Jadi, gunakan AI seperlunya. Jika memungkinkan hindari meminta AI membuat tulisan. Namun lebih ke pembuatan kerangka, mencari tambahan data, dan sebagainya. 

Menulis memang menjadi keterampilan berbahasa yang tingkat kesulitannya tinggi. Apalagi jika dibandingkan dengan keterampilan berbahasa lain. Misalnya menyimak, berbicara, dan juga membaca. 

Tidak heran banyak yang merasa terbantu dengan kehadiran AI yang menyediakan layanan pembuatan tulisan otomatis. Namun, tulisan yang dihasilkan masih bisa terdeteksi plagiat. Sehingga perlu dilakukan parafrasa secara manual. 

Jika kesulitan dalam melakukan parafrasa dan teknik lain untuk menghindari plagiarisme. Maka bisa mengunduh dan membaca ebook Anti Plagiarisme dari Parafrasa Indonesia. Ebook ini gratis dan bisa memandu dalam menulis tanpa plagiat. 

Sumber: 

  1. Grehenson, G. (2023). Menulis Ilmiah Menggunakan Platform AI Berpotensi Kena Plagiarisme. Diakses pada 4 Desember 2025 dari https://ugm.ac.id/id/berita/23557-menulis-ilmiah-menggunakan-platform-ai-berpotensi-kena-plagiarisme/
  2. Nurcahyono, A. (2024). Bikin Skripsi Pakai AI, Termasuk Plagiarisme? Diakses pada 4 Desember 2025 dari https://www.hukumonline.com/klinik/a/bikin-skripsi-pakai-ai–termasuk-plagiarisme-lt670e2e09377fd/
  3. Kawalu. (2025). Apakah Teks dari AI Bisa Terdeteksi Plagiasi? Ini Penjelasan Lengkapnya. Diakses pada 4 Desember 2025 dari https://kawalu.id/article/apakah-teks-dari-ai-bisa-terdeteksi-plagiasi-ini-penjelasan-lengkapnya
  4. Redcomm Knowledge. (n.d). Penggunaan AI Writer dan AI Design Tools Meningkatkan Efektivitas Pemasaran. Diakses pada 4 Desember 2025 dari https://redcomm.co.id/knowledges/ai-tools-meningkatkan-efektivitas-pemasaran
  5. Yaniasih. (2025). Mengapa tulisan asli bisa terdeteksi buatan AI, benarkah deteksi AI tidak akurat? Pahami cara kerja dan tips mengatasinya. Diakses pada 4 Desember 2025 dari https://theconversation.com/mengapa-tulisan-asli-bisa-terdeteksi-buatan-ai-benarkah-deteksi-ai-tidak-akurat-pahami-cara-kerja-dan-tips-mengatasinya-248257

Bagikan artikel ini melalui

Picture of Dhea Salsabila
Dhea Salsabila
SEO Specialist dan Content Editor di Parafrase Indonesia

Tinggalkan Balasan