Jangan Keliru! Ini Perbedaan Turnitin dan Plagiarisme

Perbedaan Turnitin dan Plagiarisme

Tahukah Anda, terdapat perbedaan Turnitin dan plagiarisme? Secara umum, keduanya adalah dua hal yang jauh berbeda. Turnitin merujuk pada sebuah perangkat lunak berbentuk website. Sedangkan plagiarisme merujuk pada suatu perbuatan (tindakan). Jadi, apa bedanya? Berikut informasinya. 

Apa Itu Turnitin?

Memahami perbedaan Turnitin dan plagiarisme, tentu dimulai dari definisi masing-masing. Turnitin adalah sebuah perangkat lunak berbentuk website yang menyediakan layanan mendeteksi (mengecek) kemiripan teks (similarity) pada karya tulis. 

Turnitin cukup populer di Indonesia, khususnya di lingkungan akademik. Sebab sering digunakan untuk memastikan orisinalitas karya tulis yang disusun akademisi. Baik itu dosen maupun para mahasiswa. 

Turnitin membantu mengecek karya tulis ilmiah (KTI) orisinil melalui similarity indeks. Similarity indeks sendiri adalah skor yang menunjukan tingkat kemiripan teks (tulisan) pada KTI dengan teks yang terdapat pada KTI lain. 

Baca Juga: Sanksi Plagiarisme dan Dampaknya Terhadap Karier Dosen

Apa Itu Plagiarisme?

Perbedaan Turnitin dan plagiarisme,tentunya tidak bisa langsung dipahami dengan mengenal definisi Turnitin. Plagiarisme adalah tindakan seseorang yang mengambil karya orang lain dan mengakuinya sebagai karya hasil buah pikirannya sendiri sehingga menjadi bentuk pelanggaran Hak Cipta. 

Plagiarisme menjadi tindakan tercela dan dalam dunia akademik, pelakunya bisa mendapat sanksi yang berat. Hal serupa juga berlaku di bidang selain bidang akademik. Sebab plagiarisme termasuk tindakan melanggar Hak Cipta. Sedangkan Hak Cipta sendiri diatur di dalam Undang-Undang No. 28 Tahun 2014. 

Hubungan Turnitin dan Plagiarisme

Meskipun ada perbedaan Turnitin dan plagiarisme, termasuk fakta bahwa Turnitin tidak mendeteksi plagiarisme pada karya tulis akan tetapi mendeteksi similarity (kesamaan teks). Namun, Turnitin dengan plagiarisme tetap memiliki keterkaitan. 

Hubungan plagiarisme dan Turnitin juga berkaitan dengan skor similarity yang ditampilkan Turnitin. Similarity ini menunjukan tingkat kesamaan teks pada naskah dengan naskah lainnya. Semakin tinggi, maka semakin besar pula dugaan terjadi tindakan penjiplakan. 

Secara umum, karya tulis yang disusun dengan buah pikiran sendiri tidak mungkin mirip 100% bahkan sampai di atas 50% dengan karya tulis lain. Namun, adanya kemiripan sekitar belasan persen sampai 20 persenan masih  masuk akal. 

Menjaga agar skor similarity di bawah 10% bukan hal yang mudah. Oleh sebab itu, perguruan tinggi di Indonesia kebanyakan menetapkan batas aman skor similarity. Rata-rata di kisaran 20% sampai 25%. 

Baca Juga:

Perbedaan Turnitin dan Plagiarisme

Melalui penjelasan sebelumnya, maka bisa dipahami hal signifikan yang menjadi perbedaan Turnitin dan plagiarisme. Yakni bentuk atau sifatnya. Turnitin berbentuk perangkat lunak yang membantu mengecek tingkat kesamaan teks pada naskah karya tulis dengan naskah lain. 

Fungsinya untuk mencegah plagiarisme, sebab ketika tindakan penjiplakan dilakukan maka skor similarity menjadi sangat tinggi. Selain itu, jika diperkuat dengan terpenuhinya ciri-ciri tindakan plagiarisme. Misalnya pada kutipan tidak diikuti sitasi bisa juga karena referensi yang dikutip juga tidak tercantum di daftar pustaka. 

Sedangkan bentuk dan sifat dari plagiarisme adalah sebuah perbuatan (tindakan). Yaitu menjiplak karya orang lain karena menyalin kalimat atau keseluruhan isi karya dan mengakuinya sebagai hasil buah pikiran sendiri. Sehingga hasil mencomot karya orang lain tersebut tidak ada sitasi. 

Cara Menurunkan Skor Similarity Indeks di Turnitin

Meskipun cek plagiarisme di Turnitin tidak bisa dilakukan, karena hanya bisa mengecek tingkat kesamaan teks (similarity). Namun, dengan adanya Turnitin yang bisa mengecek kesamaan teks bisa mendorong penulis menghindari bahaya dari perbuatan plagiarisme. Berikut beberapa caranya: 

1. Memastikan Topik Utama KTI Dipahami Secara Mendalam 

Riset yang memadai dan referensi yang sesuai, bisa membantu memahami topik yang akan disusun. Pemahaman ini penting, karena semakin paham pada topik semakin mudah menjelaskannya di dalam naskah.  

Selain itu, pemahaman pada topik bisa membantu menjelaskan dengan gaya bahasa sendiri. Sehingga secara alami bisa memudahkan skor similarity lebih rendah sekaligus memenuhi batas aman yang ditetapkan perguruan tinggi maupun publisher. 

2. Melakukan Parafrase dalam Menulis KTI

Data yang disajikan di dalam naskah KTI tentu kebanyakan dari data yang tercantum pada referensi yang digunakan. Menjelaskan data ini sebaiknya tidak dibuat sama persis dengan yang tercantum pada referensi.  Salah satu cara paling efektif adalah melakukan parafrase.

Jadi, pahami data dari referensi. Kemudian ditulis ulang ke dalam naskah dengan gaya bahasa sendiri tanpa mengubah makna.  Parafrase mencegah penulis membuat kutipan langsung berlebihan. Sekaligus mencegah data disajikan sama persis dengan referensi yang digunakan. Sehingga membantu menurunkan skor similarity. 

3. Meminimalkan Kutipan Langsung pada Naskah KTI 

Kutipan di dalam menyusun KTI adalah hal penting, sehingga tepat serta lumrah ada di dalam naskah. Hanya saja jumlahnya jangan sampai berlebihan, pastikan memang tepat dan relevan.  Pasalnya kutipan langsung artinya kutipan tersebut disusun sesuai dengan referensi. Sehingga tidak ada parafrase yang tentunya berdampak pada skor similarity yang bisa naik. 

4. Melakukan Pengaturan Exclude yang Tepat di Turnitin

Selanjutnya, adalah dengan melakukan pengaturan yang tepat di Turnitin. Yaitu dengan mengaktifkan fitur Exclude yang tepat sesuai dengan karakter dari naskah KTI yang disusun. 

Fitur Exclude sendiri adalah fitur di dalam Turnitin yang membantu mengecualikan bagian-bagian tertentu di dalam naskah yang dilakukan pengecekan kesamaan teks. Misalnya, mencegah halaman daftar pustaka terdeteksi smartly. Maka dikecualikan dengan mengaktifkan fitur Exclude Bibliography. 

Sebab penulisan referensi di daftar pustaka bisa sama persis dengan karya tulis lain. Maka sewajarnya dikecualikan untuk mencegah skor similarity terlalu tinggi padahal bukan karena copy paste. 

Fitur Exclude pada Turnitin ada beberapa jenis. Mencakup Exclude Bibliography, Exclude Quotes (untuk mengecualikan kutipan langsung, khususnya yang secara aturan tidak boleh diparafrase), Exclude Small Matches (untuk kesamaan yang rendah), dan Exclude Sources (untuk mengecualikan sumber data tertentu). 

5. Menggunakan Berbagai Referensi Kredibel 

Cara berikutnya yang efektif untuk menurunkan skor similarity di Turnitin adalah menggunakan berbagai referensi kredibel. Referensi yang digunakan minimal memenuhi 3 kriteria mendasar. Yakni relevan dengan topik, kredibel, dan terbitan terkini. 

Menggunakan berbagai referensi, sehingga tidak hanya bergantung pada referensi yang terbatas. Bisa membantu memahami topik dan mendapatkan data, serta mendapatkan inspirasi untuk memaparkan data tersebut secara unik.  

6. Hindari Kebiasaan Copy Paste dari Referensi 

Kebiasaan menyalin tanpa parafrase alias copy paste harus diakui bukan kebiasaan baik. Hal ini bisa menjadi kebiasaan rutin dan bahkan menjadi budaya. Dalam menulis KTI, kebiasaan ini bisa membuat skor similarity tinggi. 

Selain itu, meningkat ke tindakan plagiarisme. Sebab bisa jadi, merasa similarity adalah cek plagiarisme di Turnitin. Jika hanya copy paste beberapa kalimat, maka skor tetap di batas aman. Padahal copy paste dan tidak diikuti sitasi, tetap menjadi plagiarisme sekaligus similarity rendah. 

Baca Juga: 10 Cara Menghindari Plagiarisme pada Karya Ilmiah yang Benar

Pentingnya Menghindari Manipulasi KTI untuk Menurunkan Similarity di Turnitin 

Sebagai informasi tambahan, dalam memahami perbedaan Turnitin dan plagiarisme. Hindari manipulasi KTI untuk menurunkan similarity, alasanya:

1. Menghasilkan Skor Similarity yang Bias 

Melakukan manipulasi pada naskah memang bisa menurunkan similarity indeks dengan pengorbanan sedikit karena saking mudahnya. Hanya saja, skor similarity tersebut pada akhirnya bias atau keliru. 

Sebab dihasilkan dari pemeriksaan naskah yang telah mengalami manipulasi. Sehingga tidak disusun sesuai dengan ketentuan yang berlaku serta standar penulisan KTI. Jika ketahuan, maka tentu skor similarity tersebut dianggap atau dinyatakan tidak berlaku. 

2. Merupakan Perbuatan Curang (Kecurangan) 

Jika naskah berisi karya tulis adalah hasil manipulasi. Maka tentu karya tulis tersebut tidak disusun sebagaimana mestinya. Ada tindakan curang yang tentu sama buruknya dengan plagiarisme. 

3. Tidak Membuat Tulisan Menjadi Orisinil 

Manipulasi tulisan bisa saja mencomot karya orang lain dalam format berbeda agar tidak terdeteksi oleh sistem di Turnitin. Sehingga pada dasarnya ada tindakan plagiarisme, yang menjadikan tulisan tersebut tidak orisinil sekalipun skor similarity sesuai batas aman. 

4. Berpotensi pada Sanksi Akademik 

Manipulasi pada karya tulis ilmiah atau KTI bisa dengan mudah diketahui, khususnya jika diperiksa oleh dosen yang teliti. Sehingga jika manipulasi dilakukan oleh mahasiswa, baik saat menyusun KTI untuk tugas kuliah maupun tugas akhir (skripsi, tesis, atau disertasi). 

Maka tentunya akan ada sanksi akademik yang diberikan oleh dosen maupun perguruan tinggi. Bisa saja mahasiswa tersebut mendapat teguran, pembatalan sidang, dan sanksi lain sesuai kebijakan internal perguruan tinggi yang bersangkutan. 

5. Naskah KTI Bisa Gagal Terbit 

Jika manipulasi naskah dilakukan demi skor similarity sesuai regulasi publisher. Kemudian ketahuan oleh editor, reviewer (mitra bestari), atau pihak lainnya. Maka naskah bisa gagal terbit, jika sudah terbit bisa dihapus oleh publisher, dan dikenakan sanksi lainnya. 

Melalui penjelasan di atas, maka bisa dipahami ada perbedaan Turnitin dan Plagiarisme. Turnitin bukan perangkat lunak untuk cek plagiarisme, akan tetapi untuk mengecek similarity (kesamaan teks). Selain itu untuk menurunkan skor ini pastikan melakukan cara-cara etis bukan dengan memanipulasi naskah KTI. 

sumber: 

  1. Khasanah, A. N. (2026). Turnitin, Parafrase, dan Plagiarisme, Apa Bedanya? Diakses pada 20 Agustus 2026 dari https://manuru.id/article/turnitin-parafrase-plagiarisme
  2. Santri, R. R. A. (2024). Apa itu Uji Kemiripan atau Similarity Index dan Turnitin? Diakses pada 20 Agustus 2026 dari https://klc2.kemenkeu.go.id/kms/knowledge/apa-itu-uji-kemiripan-atau-similarity-index-dan-turnitin-21b70a48/detail/
  3. Muhammad, I. H. (2025). Strategi Lolos Cek Plagiarisme (Turnitin) di Bawah 20%: Tips Parafrase yang Efektif. Diakses pada 20 Agustus 2026 dari https://telkomuniversity.ac.id/strategi-lolos-cek-plagiarisme-turnitin-di-bawah-20-tips-parafrase-yang-efektif/
  4. Maftuhin, A. (2023). Ternyata Turnitin Tidak Mendeteksi Plagiat! Diakses pada 20 Agustus 2026 dari https://www.maftuh.in/2023/01/ternyata-turnitin-tidak-mendeteksi.html
  5. Tambunan, F. R. (2025). Memahami Cara Kerja Similarity Detection seperti Turnitin: Bukan Sekadar Mesin Anti-Plagiarisme. Diakses pada 20 Agustus 2026 dari https://socs.binus.ac.id/2025/10/17/memahami-cara-kerja-similarity-detection-seperti-turnitin-bukan-sekadar-mesin-anti-plagiarisme/
Picture of wahyu adji
wahyu adji
Saya merupakan SEO Specialist dan Conten Writer Profesional di bidang pendidikan seputar kampus, mahasiswa dan kedosenan di Parafrase Indonesia

Tinggalkan Balasan