Dalam keterampilan ini, tidak hanya fokus pada kemampuan mengubah ide abstrak di dalam pikiran menjadi tulisan yang punya makna namun juga memiliki cara menentukan diksi atau penggunaan kata yang benar.
Akan tetapi juga mampu menyampaikan ide tersebut dalam gaya bahasa yang ilmiah dan akademis. Gaya bahasa bisa menjadi ilmiah ketika pemilihan diksi atau kosakata terbilang tepat. Diksi yang tepat akan meningkatkan kualitas dan kredibilitas artikel ilmiah. Berikut informasinya.
Baca Juga: Jasa Parafrase dan Penyesuaian Similarity
Daftar Isi
ToggleApa Itu Diksi?
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diksi adalah pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan).
Secara sederhana, diksi bisa dipahami sebagai pemilihan kosakata yang tepat untuk membantu mengungkapkan gagasan atau ide. Pemilihan diksi yang tepat akan membantu kalimat menjadi punya makna, enak dibaca, dan bisa dipahami.
Dalam karya tulis ilmiah seperti artikel ilmiah, diksi yang digunakan tentu berbeda dengan karya tulis nonilmiah. Jenis diksi yang dipilih pada artikel blog pribadi dengan artikel pada jurnal akan ditemukan perbedaan signifikan.
Jadi, bagi para dosen maupun mahasiswa dan peneliti yang akan menyusun artikel untuk prosiding maupun jurnal. Tentunya memiliki kebutuhan untuk memahami tata cara pemilihan diksi yang ilmiah dan akademis.
Baca Juga: Cara Merapikan Paragraf di Word, Lengkap dengan Shortcutnya
Hal-Hal yang Harus Diperhatikan dalam Memilih Diksi pada Karya Tulis Ilmiah
Mengutip dari salah satu artikel ilmiah yang terbit di jurnal Arbitrer: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Menjelaskan bahwa diksi pada karya tulis ilmiah, termasuk artikel pada jurnal, harus memperhatikan beberapa hal. Yaitu:
1. Memperhatikan Ketepatan Makna
Kriteria yang pertama, diksi yang dipilih atau yang digunakan dalam artikel jurnal harus memiliki ketepatan makna. Sehingga makna dalam diksi tersebut jelas. Kemudian mendukung pembentukan kalimat dengan makna yang jelas juga.
Jadi, penting untuk menghindari pemilihan diksi dengan makna yang samar. Kemudian mengedepankan penggunaan diksi sesuai dengan istilah yang umum digunakan dalam bidang keilmuan penulis. Berikut penjelasannya dalam contoh:
- Makna kurang tepat: pengaruh yang cukup besar
- Makna yang tepat: pengaruh signifikan secara statistik (p < 0,05).
2. Kejelasan Penyampaian
Kriteria kedua, diksi yang digunakan dalam artikel ilmiah harus punya kejelasan penyampaian. Artinya, diksi tersebut memiliki makna yang jelas dan tersusun menjadi kalimat efektif. Sehingga langsung ke inti pembahasan dan tidak bertele-tele. Penyampaian menjadi jelas dan bisa langsung dipahami pembaca.
3. Kesesuaian dengan Ragam Bahasa Formal
Salah satu ciri khas gaya bahasa dalam karya tulis ilmiah adalah menggunakan ragam bahasa formal. Sehingga mengedepankan kosakata baku sesuai ketentuan di dalam EYD (Ejaan yang Disempurnakan).
Maka, diksi yang dipilih juga harus sesuai dengan ragam bahasa formal tersebut. Yakni mengedepankan diksi dalam bentuk formal dibanding sebaliknya. Sehingga membentuk kalimat dan paragraf yang sifatnya formal dan terkesan profesional.
Baca Juga: Biaya Publikasi Jurnal SINTA, Lengkap dengan Manfaat dan Cara Menerbitkan
Pentingnya Ketepatan Diksi dalam Karya Tulis Ilmiah
Ketepatan dalam memilih diksi untuk artikel ilmiah sangat penting. Sebab akan ada sejumlah risiko dan dampak negatif jika ada kesalahan diksi. Berikut adalah arti penting yang dimaksud:
1. Mencegah Terjadinya Ambiguitas
Diksi yang kurang tepat akan membuat susunan kalimat di dalam artikel jurnal memiliki makna ambigu. Kondisi ini terjadi karena diksi tersebut tidak memiliki makna yang jelas dan tegas.
Sehingga makna yang dimiliki bisa lebih dari satu. Pada persepsi masing-masing pembaca, ambiguitas bisa meningkatkan perbedaan pemahaman. Pada karya tulis ilmiah seperti artikel jurnal, hal ini perlu dihindari.
Sebab apa yang disampaikan adalah data valid yang didapat dari penelitian. Jika makna data tidak jelas, maka data menjadi tidak kredibel. Pemanfaatannya bisa keliru. Oleh sebab itu, diksi harus tepat agar tidak terjadi ambiguitas di kalangan pembaca.
2. Menghindari Penurunan Tingkat Formalitas
Arti penting kedua dari pemilihan diksi yang tepat pada artikel ilmiah adalah menghindari penurunan tingkat formalitas. Gaya bahasa di dalam karya tulis ilmiah adalah bahasa formal. Sehingga diksi yang dipilih adalah ragam kosakata baku.
Formalitas dalam karya tulis terlihat tidak hanya dari ragam kata baku. Akan tetapi juga pemilihan ragam kata yang objektif, presisi, dan netral. Diksi yang kurang tepat bisa membuat kalimat formal menjadi kurang formal lagi. Berikut contohnya:
- Kurang formal: Penulis merasa…
- Formal: penelitian yang dilakukan menunjukan…
3. Memastikan Kesesuaian Makna
Arti penting ketiga, diksi yang tepat membantu memastikan makna sudah sesuai. Sehingga makna dalam setiap kalimat yang disusun penulis sesuai dengan gagasan yang dimiliki.
Makna yang sesuai tersebut akan menghasilkan makna yang jelas. Kemudian ketika dibaca oleh orang lain. Maka pembaca ini bisa memahami makna atau gagasan yang ingin disampaikan penulis.
Jadi, pemilihan diksi tidak bisa sembarangan. Bahkan ketika menurunkan repetisi kata dengan sinonim pun, belum tentu tepat. Sebab sinonim sejumlah kata kadang hanya sesuai untuk kalimat dengan konteks tertentu. Jadi, diksi tidak bisa asal-asalan dipilih dan tidak asal mencari sinonim.
4. Meningkatkan Objektivitas dan Profesionalisme Tulisan
Arti penting selanjutnya, diksi yang tepat akan menunjukan objektivitas penulis. Kemudian dengan hal ini, maka profesionalisme penulis akan terlihat jelas dari tulisan yang disusun.
Diksi yang relevan dengan gaya bahasa formal membantu tulisan lebih objektif. Seperti contoh sebelumnya, dibanding memakai diksi “penulis merasa…”. Maka peneliti perlu menggunakan diksi yang menjelaskan apa yang disampaikan berdasarkan data penelitian.
Sehingga diganti dengan “penelitian yang dilakukan, menunjukan bahwa…”. Semakin objektif, maka semakin kuat kesan formal dalam tulisan ilmiah. Hal ini sekaligus meningkatkan kesan profesional penulis.
Baca Juga: Cara Menyusun Pembahasan Jurnal dan Hasil Penelitian, Lengkap dengan Contoh
Cara Menentukan Diksi yang Tepat dalam Artikel Ilmiah
Membantu dalam menentukan diksi yang tepat saat menyusun artikel ilmiah. Maka bisa menerapkan beberapa cara berikut ini:
1. Hindari Bahasa Sehari-hari atau Tutur Lisan
Tata cara menentukan diksi pada artikel jurnal pertama adalah menghindari bahasa informal. Misalnya bahasa atau kosakata yang sering dipakai dalam komunikasi sehari-hari.
Namun, gunakan gaya bahasa formal. Misalnya ketika berkomunikasi dengan orang tua di rumah, orang yang lebih tua di dekat rumah seperti tetangga, guru atau dosen, berkomunikasi dengan atasan di tempat kerja, dan sejenisnya. Sebab, gaya bahasa di dalam karya ilmiah adalah formal.
2. Gunakan Kalimat Objektif, Hindari Opini Pribadi
Kedua dalam cara menentukan diksi maupun mengganti diksi ketika konversi KTI dilakukan, adalah menyusun kalimat maupun frasa objektif. Artinya, setiap diksi dan kalimat maupun frasa yang disusun harus bersifat objektif bukan subjektif.
Semua pilihan diksi membangun frasa dan kalimat yang menjelaskan data bukan opini pribadi. Sekalipun ada opini atau argumen, maka diikuti dengan penjelasan data atau fakta yang menjadi dasarnya.
Jadi, penting untuk memahami diksi seperti apa saja yang membantu membangun frasa dan kalimat objektif. Berikut beberapa contohnya:
- Subjektif: penelitian ini sangat penting…
Objektif: penelitian ini berkontribusi pada…
- Subjektif: hasilnya sangat mengejutkan…
Objektif: hasil analisis menunjukkan perbedaan signifikan sebesar 20%…
3. Ubah Kalimat Aktif Personal Menjadi Pasif Ilmiah
Ketiga. cara menentukan diksi atau mengganti diksi pada artikel ilmiah adalah mengubah kalimat aktif personal menjadi kalimat pasif ilmiah. Kalimat aktif personal dipahami sebagai kalimat aktif yang menonjolkan pelaku.
Sementara kalimat pasif ilmiah adalah kalimat pasif yang menonjolkan objek, proses, maupun hasil penelitian. Ciri khas dari kalimat pasif ilmiah adalah tidak menonjolkan pelaku (misalnya tidak memakai kata ganti “saya” melainkan “penulis” atau “peneliti”), fokus pada proses dan aspek lain dalam penelitian, dan bersifat objektif.
Membantu lebih memahami perbedaan dan bagaimana cara mengubah kalimat aktif personal ke kalimat pasif ilmiah, berikut beberapa contohnya:
| Kalimat Aktif Personal | Kalimat Pasif Ilmiah |
|---|---|
| Saya mengumpulkan data melalui wawancara | Data dikumpulkan melalui wawancara |
| Kami melakukan uji validitas instrumen | Uji validitas instrumen dilakukan |
| Penulis membahas hasil penelitian | Hasil penelitian yang dibahas… |
4. Hindari Kata Bermakna Ganda atau Ambigu
Langkah ketiga dalam mencari pilihan diksi yang tepat untuk artikel ilmiah adalah menghindari diksi yang berpotensi punya makna ganda (ambigu). Diksi yang ambigu akan membantu kalimat dengan makna ambigu juga.
Jika anda menggunakan cara menentukan diksi yang kurang ilmiah akan cenderung subjektif dan rentan menjadi ambigu. Ambigu disini membuat kalimat yang disusun menjadi punya banyak makna. Sehingga setiap pembaca bisa memiliki pemahaman berbeda. Berikut penjelasannya dalam contoh:
- Kalimat ambigu: “Sebagian besar responden memiliki pemahaman yang baik terhadap materi.” (ambigu karena memakai diksi “sebagian besar” sehingga tidak jelas berapa jumlah atau angka pastinya).
- Kalimat tidak ambigu: “Sebanyak 78 dari 100 responden (78%) memperoleh skor pemahaman pada kategori tinggi.” (jumlah responden disebutkan dengan jelas sehingga tidak ambigu).
Baca Juga: 30 Platform AI Penerjemah Dokumen PDF
5. Gunakan Istilah Teknis Sesuai Bidang Keilmuan
Ketika memilih cara menentukan diksi yang sesuai usahakan memakai istilah-istilah teknis yang umum digunakan dalam bidang keilmuan yang ditekuni. Sehingga membentuk susunan kalimat dan paragraf yang punya kesan ilmiah yang kuat.
Semakin ilmiah, semakin menunjukan isi naskah objektif bukan subjektif. Sekaligus menunjukan penulisnya memahami istilah-istilah yang umum digunakan oleh masyarakat ilmiah. Berikut beberapa contohnya:
| Diksi Umum | Diksi Ilmiah |
|---|---|
| Perubahan | Transformasi |
| Penjelasan | Eksplanasi |
| Dugaan | Hipotesis |
| Nyata | Empiris |
| Anggapan | Asumsi |
| Kesimpulan | Konklusi |
6. Hindari Gaya Bahasa Emotif dan Retoris
Cara selanjutnya dalam memilih diksi untuk artikel ilmiah maupun karya ilmiah jenis lain adalah menghindari gaya bahasa emotif dan retoris. Artinya, perlu menghindari pemilihan dan penggunaan kosakata yang mengekspresikan perasaan, penilaian pribadi, dan sejenisnya.
Sebab akan membuat kalimat menjadi subjektif dan tidak memenuhi kriteria gaya bahasa di dalam karya tulis ilmiah. Sebaiknya, memilih diksi yang menjelaskan apa yang disampaikan berbasis data dari penelitian yang dilakukan. Sehingga kalimat menjadi objektif.
7. Gunakan Rujukan untuk Memperkuat Diksi
Tak hanya butuh pemilihan diksi yang tepat dan membangun kalimat formal serta objektif. Diksi yang dipilih juga didasarkan pada data valid. Jika mengandalkan sumber sekunder dan tersier, maka pastikan rujukan yang digunakan kredibel. Jika rujukan terjamin kredibel, maka memperkuat diksi yang dipilih.
Menerapkan sejumlah cara menentukan diksi di atas akan membantu menentukan diksi dengan lebih tepat. Sehingga artikel ilmiah yang disusun berisi kalimat-kalimat efektif. Sekaligus terkesan formal, profesional, dan ilmiah atau akademis.
Sebenarnya terdapat banyak cara menentukan diksi yang sesuai dan benar. Mulai dari perbendaharaan kata yang bisa ditambah.
Sampai meningkatkan pengalaman menyusun karya tulis ilmiah. Membantu meningkatkan keterampilan memilih diksi sekaligus menghindari plagiarisme. Anda bisa mengunduh dan membaca Ebook Anti Plagiarisme dari Parafrase Indonesia.
sumber:
- Zamahsari, G. K. (2021). Syarat-Syarat Pemilihan Kata (Diksi) yang Tepat dalam Bahasa Indonesia. Diakses pada 29 Desember 2025 dari https://binus.ac.id/malang/2021/12/syarat-syarat-pemilihan-kata-diksi-yang-tepat-dalam-bahasa-indonesia/
- Khoiroh, I., & Damayanthi, N. P. D. (2025). Diksi dan Problematikanya dalam Penulisan Karya Ilmiah Mahasiswa Program Studi Akuntansi Politeknik Negeri Bali. Arbitrer: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 7(3), 207-226. https://mplk.politanikoe.ac.id/index.php/144-teknik-penulisan-laporan/praktek-tekpen/323-prinsip-prinsip-umum-ejaan-diksi-dalam-karya-ilmiah
- Lembaga Publikasi Jurnal Ilmiah. [@literasiku_publishing.id]. (2025, Nov 18). Upgrade kosakata kamu biar terdengar lebih ilmiah dan profesional!.. [Foto]. Instagram. https://www.instagram.com/p/DRMPEcSEzdc/?img_index=1