Contoh Laporan Hasil Wawancara Penelitian, Fungsi dan Cara Menyusun

contoh laporan hasil wawancara

Memperhatikan sejumlah contoh laporan hasil wawancara tentu penting untuk dilakukan. Terutama jika memiliki kewajiban untuk menyusun laporan hasil wawancara tersebut. Laporan ini bisa diwajibkan untuk siapa saja pasca melakukan wawancara. 

Dalam dunia jurnalistik, seluruh kegiatan wawancara dilaporkan secara tertulis. Sementara dalam dunia akademik, mahasiswa yang menyusun tugas akhir dan memakai wawancara sebagai metode pengumpulan data. Maka ada kewajiban menyusun laporan wawancara. Lalu, bagaimana cara menyusunnya? Berikut informasinya.

Baca Juga: Wawancara Kualitatif: Jenis, Cara Membuat Pertanyaan, dan Panduannya

Apa Itu Laporan Hasil Wawancara dalam Penelitian? 

Laporan hasil wawancara adalah sebuah dokumen yang berisi rangkuman dari hasil proses wawancara yang telah dilakukan, baik dari tahap wawancara dimulai sampai diakhiri atau ditutup oleh pewawancara. 

Dalam ruang lingkup dunia pendidikan tinggi, laporan wawancara mahasiwa disusun sebagai bagian untuk melengkapi naskah skripsi, tesis, maupun disertasi. Biasanya dicantumkan di halaman lampiran tugas akhir tersebut. 

Jadi, para mahasiswa semester akhir yang memilih instrumen penelitian berbentuk wawancara. Bisa sejak awal memperhatikan dan mempelajari contoh laporan hasil wawancara mahasiswa. Sebab dijamin perlu menyusun laporan ini dan dilampirkan ke tugas akhir. 

Secara umum, laporan ini berisi informasi mengenai judul penelitian, identitas narasumber, dan daftar pertanyaan. Pada beberapa perguruan tinggi mungkin menetapkan struktur tersendiri. Sehingga pada laporan wawancara memuat informasi lainnya.

Baca Juga: Contoh Transkrip Wawancara dan Rekomendasi Aplikasinya

Fungsi Laporan Hasil Wawancara Penelitian

Jika wawancara dilakukan peneliti dan dosen, maka biasanya tidak ada kewajiban menyusun laporan hasil wawancara. Namun, secara umum justru menjadi kewajiban untuk mahasiswa ketika menyusun tugas akhir. Hal ini tidak terlepas dari fungsi laporan tersebut. Diantaranya adalah: 

1. Menjadi Bukti Keabsahan Data Penelitian 

Laporan wawancara menjadi lampiran di dalam tugas akhir atau karya tulis ilmiah lain merupakan bukti keabsahan data. Melampirkan laporan ini bisa menjadi informasi bagi pembaca yang menjelaskan sumber data didapatkan dari mana. 

Semakin rinci informasi di dalam laporan, semakin jelas proses wawancara yang dilakukan seperti apa dan dengan siapa. Sehingga data yang dicantumkan di dalam naskah bisa divalidasi lewat isi laporan wawancara tersebut. 

2. Bentuk Transparansi Metodologi Penelitian 

Fungsi kedua dari laporan hasil wawancara adalah bentuk transparansi dalam penelitian. Khususnya dalam menjelaskan metodologi yang digunakan untuk proses pengumpulan data. 

3. Dokumentasi Kegiatan Penelitian Mahasiswa 

Fungsi ketiga, laporan wawancara yang disusun menjadi bagian dari dokumentasi seluruh kegiatan penelitian. Jadi, jika sewaktu-waktu dibutuhkan untuk verifikasi data maupun kebutuhan lainnya. Maka dengan mudah bisa ditelusuri, dicari, dan digunakan kembali. 

4. Memenuhi Ketentuan Penyusunan Tugas Akhir

Fungsi lainnya, tentu saja menjadi bagian dari pemenuhan syarat dan ketentuan dalam menyusun tugas akhir. Jika perguruan tinggi mensyaratkan adanya laporan hasil wawancara penelitian. Maka tentu mahasiswa harus mematuhi ketentuan tersebut. Sehingga melampirkan laporan sebagai bentuk kepatuhan aturan.

Baca Juga: Cara Menyusun Proposal Tesis Beserta Langkah-Langkahnya

Struktur Umum Laporan Hasil Wawancara Penelitian 

Jika memperhatikan beberapa contoh hasil laporan wawancara. Maka akan menemukan struktur yang berbeda-beda. Hal ini tentu lumrah, karena ketentuan terkait format sampai struktur wawancara dalam penelitian mahasiswa ditetapkan perguruan tinggi. 

Sehingga ketentuan antara satu perguruan tinggi dengan lainnya bisa berbeda-beda. Adapun untuk struktur umum contoh laporan hasil wawancara adalah sebagai berikut: 

1. Judul Laporan Hasil Wawancara 

Bagian yang pertama di dalam struktur laporan wawancara adalah judul laporan wawancara tersebut. Setiap perguruan tinggi biasanya sudah menetapkan format judul laporan seperti apa. Sehingga para mahasiswa tinggal menyesuaikan. 

Misalnya, ditetapkan judul harus dengan format atau template “Laporan Hasil Wawancara Narasumber 1” dan seterusnya. Maka judul laporan menyesuaikan dengan format atau template tersebut. Begitu juga dengan jenis font, ukuran font, dan detail teknis lainnya. 

2. Identitas Narasumber 

Bagian kedua dari laporan hasil wawancara penelitian adalah identitas narasumber. Jika narasumber lebih dari satu, maka biasanya disusun dalam bentuk tabel. Identitas ini menjelaskan nama narasumber, jabatan di organisasi tempat wawancara dan penelitian dilakukan, dan lain sebagainya. 

3. Tujuan Wawancara 

Bagian ketiga di dalam struktur laporan hasil wawancara adalah tujuan wawancara tersebut dilakukan. Mahasiswa atau penulis laporan bisa menjelaskan tujuan dilakukannya wawancara dalam kalimat tunggal atau satu paragraf. 

Misalnya menjelaskan wawancara untuk tujuan penyusunan skripsi. Berikut contoh penulisannya: 

“Wawancara ini bertujuan untuk memperoleh data dan informasi yang mendalam mengenai fenomena yang diteliti, sebagai bahan pendukung analisis dalam penyusunan skripsi.”

“Wawancara ini dilakukan untuk memperoleh data primer yang relevan dengan fokus penelitian sebagai dasar analisis dalam penyusunan skripsi.” 

4. Pedoman Wawancara 

Bagian keempat di dalam struktur umum laporan hasil wawancara penelitian adalah pedoman wawancara. Pedoman wawancara berisi daftar pertanyaan inti yang disampaikan mahasiswa kepada narasumber. 

Sebagai daftar pertanyaan inti, tentu bisa berbeda dengan hasil laporan wawancara yang disusun. Sebab dalam proses wawancara, tentunya ada kemungkinan pertanyaan dikembangkan oleh mahasiswa sesuai kebutuhan. 

Jika narasumber lebih dari 1 orang, maka pedoman wawancara disesuaikan. Contohnya, jika narasumber ada 2 orang atau 2 narasumber punya jabatan berbeda di organisasi. Maka pedoman wawancara terdiri dari 2 bagian untuk masing-masing jabatan narasumber. Berikut contohnya: 

contoh pedoman wawancara
contoh wawancara kepada guru

5. Hasil Wawancara 

Bagian yang kelima di dalam struktur laporan hasil wawancara adalah hasil wawancara itu sendiri. Hasil wawancara bisa disajikan dalam 2 pilihan model. Yakni disajikan dengan model transkrip dan model ringkasan naratif. Berikut penjelasan detailnya: 

a. Model Transkrip Wawancara 

Model transkrip wawancara adalah penyajian hasil wawancara dalam bentuk hasil transkripsi proses wawancara tersebut. Sehingga mencantumkan daftar pertanyaan dan jawaban dari narasumber. 

Biasanya model ini disusun dalam bentuk tabel agar lebih ringkas. Selain itu, model ini yang paling banyak digunakan karena bisa menyajikan hasil wawancara lebih detail dan apa adanya. Berikut contohnya: 

Transkrip wawancara 

Nama : Sutardi 

Jabatan : Kepala Sekolah SD Negeri 04 Bejen Karanganyar 

Hari/Tanggal: Selasa, 10 Februari 2015 

Pukul : 09.00 WIB 

Tempat : SD Negeri 04 Bejen Karanganyar

Peneliti Sutardi (Narasumber)
Bagaimana pendapat Bapak mengenai kegiatan perencanaan dalam rangka pengembangan etos kerja guru di SD Negeri 04 Bejen Karanganyar ?Bapak/ibu guru sebelum melaksanakan tugas pokok dan fungsinya harus memiliki perencanaan etos kerja yang kuat agar dapat mencapai tujuannya. Perencanaan etos kerja itu dapat dituangkan dalam rancangan pembelajarannya misalnya dalam tahap awal atau pendahuluan berupa apersepsi dan motivasi diri dan motivasi kepada peserta didik agar dapat bekerjasama dalam pembelajaran.
Apa saja yang dipersiapkan guru dalam perencanaan etos kerja ?Dalam perencanaan etos kerja guru harus melaksanakan kerjasama dengan teman sejawat, kepala sekolah, anggota MGMP, dinas pendidikan, atau pihak lainnya dalam upaya mengikuti pendidikan dan pelatihan, dan sebagainya sehingga mampu melaksanakan dan meningkatkan etos kerja yang tinggi
dan seterusnya. 

b. Model Ringkasan Naratif 

Model ringkasan naratif adalah penyajian hasil wawancara dalam bentuk teks naratif yang menjelaskan proses dan hasil wawancara dalam kegiatan penelitian yang dilakukan. 

Model ini biasanya digunakan untuk menyajikan data hasil wawancara pada bagian Hasil dan Pembahasan di karya tulis ilmiah. Namun, pada beberapa perguruan tinggi juga menggunakannya sebagai bagian dari laporan hasil wawancara mahasiswa. Berikut contohnya: 

Pemahaman Informan terhadap Kurikulum OBE

Berdasarkan hasil wawancara dengan lima narasumber (I1–I5), diperoleh temuan bahwa pemahaman narasumber terhadap kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE) masih bervariasi. Dua narasumber menyatakan telah memahami konsep dasar OBE, khususnya terkait perumusan capaian pembelajaran. Namun, tiga narasumber lainnya mengungkapkan bahwa pemahaman mereka masih terbatas pada aspek administratif penyusunan RPS.

Salah satu narasumber menyatakan “Saya memahami OBE sebatas pada penyesuaian RPS, belum sampai pada perubahan strategi pembelajaran.” 

Temuan ini menunjukkan bahwa implementasi OBE belum sepenuhnya dipahami sebagai pendekatan pembelajaran yang komprehensif, melainkan masih dipersepsikan sebagai tuntutan dokumen akademik.

6. Lampiran Laporan Wawancara 

Bagian terakhir dari struktur umum laporan hasil wawancara penelitian adalah lampiran laporan tersebut. Biasanya pada bagian ini bersifat opsional sehingga tidak wajib ada. 

Sedangkan untuk isinya, jika memang perlu ada yang dilampirkan bisa berbentuk foto saat proses wawancara dilakukan. Sehingga menjadi bukti ada dokumentasi nyata saat wawancara sedang berlangsung.

Baca Juga: 4 Perbedaan Skala Likert dan Ordinal dalam Pengukuran Penelitian

Cara Merangkum Hasil Wawancara

Seperti yang sudah disebutkan pada bagian sebelumnya, laporan ini bisa berupa rangkuman dari keseluruhan hasil wawancara yang sudah Anda lakukan.

Lalu bagaimana cara merangkum hasil wawancara tersebut jika Anda melakukan proses interviu dalam jangka waktu yang lama?

Terdapat beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk merangkum hasil wawancara agar tetap sesuai dengan informasi yang didapatkan, yakni:

1. Mempersiapkan Transkrip Wawancara

Pertama, Anda bisa mempersiapkan transkrip dari wawancara yang sudah dilakukan. Transkrip sendiri merupakan dokumen tertulis yang mencatat percakapan yang Anda lakukan selama proses wawancara bersama narasumber yang digunakan.

Untuk mempermudah pembuatan transkrip, Anda bisa merekam proses interviu yang dilakukan, baik dalam bentuk rekaman suara maupun video.

Nantinya Anda bisa memindahkan rekaman percakapan tersebut ke dalam bentuk dokumen tertulis agar bisa lebih mudah dianalisis nantinya.

2. Identifikasi Tema Utama

Setelah mendapatkan transkrip wawancara, Anda bisa mengidentifikasi tema atau informasi utama yang didapatkan dari pihak narasumber.

Kemudian Anda bisa mengelompokkan jawaban dari narasumber berdasarkan tema atau topik tertentu yang saling berkaitan.

Hal ini akan membantu Anda untuk lebih mudah memahami informasi utama yang bisa dirangkum dari hasil wawancara tersebut.

3. Menganalisis Semua Data Wawancara

Langkah selanjutnya yang bisa Anda lakukan adalah menganalisis semua informasi dan data yang didapatkan dari hasil wawancara.

Identifikasi apakah ada pola yang muncul dari setiap jawaban narasumber yang sudah Anda kelompokkan sebelumnya.

Setelah itu, Anda bisa menarik kesimpulan dari pola-pola jawaban yang saling berkaitan tersebut. Tahapan ini akan membantu Anda untuk merangkum hasil wawancara tanpa melewatkan informasi penting yang ada di dalamnya.

4. Menyusun Laporan Wawancara

Setelah mendapatkan hasil analisis dari wawancara yang sudah Anda lakukan, tahapan berikutnya adalah menyusun laporan hasil interviu tersebut. Anda bisa membuat laporan wawancara sesuai dengan format penulisan yang berlaku.

Tata Cara Menyusun Laporan Hasil Wawancara Penelitian 

Pada saat membaca sejumlah contoh laporan hasil wawancara penelitian, mungkin masih bingung dengan tahap penyusunannya. Berikut adalah seluruh tahapan dalam tata cara menyusun laporan wawancara tersebut: 

1. Menyiapkan Seluruh Data dan Peralatan Wawancara 

Tahap yang pertama dalam menyusun laporan dari hasil wawancara yang dilakukan adalah menyiapkan seluruh data wawancara tersebut. Pada tahap ini, tentu mencakup menyiapkan seluruh peralatan yang digunakan dalam wawancara. 

Misalnya hasil rekaman wawancara, catatan saat wawancara berlangsung, dan lain sebagainya sesuai kondisi. Menyiapkan semua ini penting untuk menunjang kelancaran penyusunan laporan. 

Pasalnya, isi dari laporan akan menyesuaikan dengan seluruh data yang didapat dari wawancara. Sehingga perlu kroscek beberapa kali ke hasil rekaman, hasil catatan, dan lain sebagainya. Maka perlu disiapkan semuanya di meja kerja. Termasuk perangkat menyusun laporan seperti PC atau laptop dan sebagainya. 

2. Menyusun Transkrip Hasil Wawancara 

Tahap kedua, bisa mempertimbangkan untuk menyusun transkrip hasil wawancara. Artinya, wawancara dalam bentuk rekaman diubah dalam bentuk teks. Sehingga bisa dibuat versi teks berisi daftar pertanyaan yang diajukan dan jawaban narasumber. 

Hal ini penting sekali pun bersifat opsional. Sebab di dalam laporan hasil wawancara biasanya akan mencantumkan pertanyaan dan jawaban narasumber. Baik seluruhnya maupun sebagian. 

Jadi, supaya proses penyusunan laporan lebih lancar dan tidak memakan waktu terlalu lama karena harus mendengarkan ulang rekaman wawancara. Sebaiknya dibuat transkripsinya dari awal. 

3. Mengecek Struktur dan Format Laporan 

Tahap ketiga dalam menyusun laporan wawancara penelitian adalah mengecek dulu ketentuan terkait struktur dan format laporan. Jika Anda mahasiswa, tentu struktur dan format ditetapkan oleh fakultas atau perguruan tinggi. 

Jadi, jangan sampai menulis laporan tanpa mengecek ada tidaknya ketentuan format. Sebab jika ada dan tidak dicek sebelumnya, bisa jadi laporan tidak sesuai. Anda pun harus menyusun dua kali. 

Biasanya, jika ada ketentuan struktur dan format maka disediakan pula template laporan wawancara. Silahkan mengakses template tersebut untuk menjadi panduan dalam penyusunan laporan yang lebih sistematis dan tidak memakan waktu lama. 

4. Menyusun Laporan Hasil Wawancara Sesuai Ketentuan 

Tahap keempat, silahkan mulai menyusun laporan hasil wawancara mengikuti template yang sudah disediakan. Jika tidak ada template, akan tetapi ada ketentuan struktur dan format. Maka bisa dijadikan acuan sambil mengerjakan laporan dari nol. 

Menyusun laporan bisa dibuat dari bagian paling awal menuju ke bagian berikutnya. Sesuai struktur umum yang dijelaskan sebelumnya. Maka dimulai dari menyusun judul laporan, menuliskan data atau identitas narasumber, dan seterusnya. 

5. Memeriksa dan Mengoreksi Laporan Hasil Wawancara 

Jika laporan hasil wawancara sudah selesai disusun mengikuti ketentuan struktur dan format yang berlaku. Maka tahap akhir adalah memeriksa laporan tersebut. Yakni dibaca ulang dan jika menjumpai kesalahan bisa langsung dikoreksi. 

Tujuannya untuk menghindari kesalahan teknis pada laporan. Serta meningkatkan keterbacaannya. Sebab laporan ini tentu akan dilampirkan ke tugas akhir yang pada akhirnya dibaca banyak pembaca. Pastikan pembaca mudah memahami isi laporan tersebut.

5. Meninjau Kembali Hasil Laporan Wawancara

Terakhir, Anda bisa meninjau kembali contoh hasil laporan wawancara yang sudah dibuat. Periksa kembali apakah masih ada kesalahan yang masih perlu diperbaiki sebelum Anda menggunakan hasil laporan wawancara tersebut sesuai keperluan masing-masing.

Baca Juga: Landasan Teori dalam Penelitian Ilmiah, dari Pengertian, Isi, hingga Contohnya

Format Laporan Hasil Wawancara

Lalu apa saja informasi yang mesti Anda cantumkan dalam penulisan laporan hasil wawancara? Berikut beberapa format yang mesti Anda cantumkan ketika menulis laporan hasil wawancara, yaitu:

1. Latar Belakang Wawancara

Seperti namanya, bagian ini berisi penjelasan terkait latar belakang dilakukannya wawancara tersebut. Selain itu, Anda juga menjelaskan tujuan yang ingin dicapai dari hasil interview tersebut.

2. Topik Wawancara

Format berikutnya yang ada dalam sebuah laporan adalah topik wawancara. Anda bisa menjelaskan secara spesifik topik apa yang dibahas dalam wawancara pada bagian ini.

3. Identitas Narasumber

Anda juga perlu mencantumkan identitas narasumber secara jelas pada laporan hasil wawancara. Anda bisa menjelaskan identitas narasumber secara lengkap, mulai dari nama, gelar, bidang keahlian, dan lainnya.

4. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Wawancara

Selain itu, Anda juga mesti mencantumkan waktu dan tempat dilaksanakannya wawancara tersebut. Jika proses interviu dilakukan jarak jauh, maka Anda bisa mencantumkan media komunikasi yang digunakan pada saat pelaksanaan wawancara.

5. Informasi dan Data yang Didapatkan

Bagian ini bisa dibilang merupakan inti dari laporan wawancara. Sebab Anda bisa mencantumkan setiap informasi penting yang disampaikan oleh narasumber pada bagian tersebut.

6. Kesimpulan Wawancara

Setelah mencantumkan setiap informasi penting, Anda bisa menarik kesimpulan dari seluruh pembahasan tersebut.

7. Kritik dan Saran

Terakhir, Anda bisa mencantumkan kritik dan saran dari informasi yang disampaikan oleh narasumber dalam proses wawancara.

Contoh Laporan Hasil Wawancara

Membantu menyusun laporan wawancara dengan baik dan benar, berikut contoh laporan hasil wawancara yang disusun dengan struktur umum sesuai penjelasan sebelumnya: 

Judul penelitian: “Analisis Prinsip Good Corporate Governance Sebelum Dan Sesudah Penerapannya Pada Bank Perkreditan Rakyat” 

Laporan Hasil Wawancara Narasumber I 

Data Narasumber: 

  • Nama : Indah 
  • Jabatan : Ka. Bag Operasional 
  • Hari/Tanggal : Rabu, 26 Januari 2025 

Wawancara ini bertujuan untuk memperoleh data dan informasi yang mendalam mengenai analisis prinsip Good Corporate Goverment saat sebelum dan sesudah diterapkan di Bank Perkreditan Rakyat. Wawancara juga dilakukan sebagai bahan pendukung analisis dalam penyusunan skripsi. 

Pedoman Wawancara untuk Kepala Bagian: 

  1. Bagaimana transparency sebelum dan sesudah penerapan Good Corporate Governance di BPR?
  2. Apakah pada prinsip transparency, BPR telah memberikan kemudahan untuk mengakses informasi?

Hasil Wawancara: 

Pertanyaan Indah (Narasumber) 
Bagaimana transparency sebelum dan sesudah penerapan Good Corporate Governance di BPR?Sebelum penerapan GCG transparency pada BPR Sudah terlaksana, seperti adanya laporan publikasi di kanal OJK serta website resmi perusahaan. Dan sesudah penerapan GCG pihak bank hanya tinggal meneruskan transparency yang sudah berjalan sebelumnya.
Apakah pada prinsip transparency, BPR telah memberikan kemudahan untuk mengakses informasi?iya, BPR Karinamas telah memberikan kemudahan kepada masyarakat dan stakeholders untuk mengakses informasi terkait visi, misi, profil perusahaan, sejarah perusahaan, laporan triwulan perusahaan di website resmi bank. Selain itu pengungkapan laporan keuangan juga dapat di akses di portal resmi OJK

Itulah informasi terkait contoh laporan hasil wawancara mahasiswa maupun umum yang bisa anda gunakan dalam menuliskan ulang hasil wawancara. Jika karya ilmiah anda sudah selesai dibuat dan ingin dikonversi menjadi buku monograf ataupun referensi, Parafrase Indonesia menyediakan layanan konversi kti menjadi buku berkualitas yang siap terbit untuk pemenuhan poin BKD dan peningkatan poin KUM untuk Jabatan Fungsional.

sumber: 

Universitas Mulawarman. (n.d). Wawancara. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Psikologi Universitas Mulawarman. https://psikologi.fisip-unmul.ac.id/main/wp-content/uploads/2016/06/Wawancara.pdf

Enago Academy. (2023). Research Interviews: An effective and insightful way of data collection. Diakses pada 26 Januari 2026 dari https://www.enago.com/academy/research-interviews/

Kumparan. (2021). Pengertian dan Cara Membuat Laporan Hasil Wawancara. Diakses pada 26 Januari 2026 dari https://kumparan.com/kabar-harian/pengertian-dan-cara-membuat-laporan-hasil-wawancara-1wMq8kQswJP/full

Universitas Muhammadiyah Surakarta. (n.d). Lampiran 1 Data Hasil Wawancara. https://eprints.ums.ac.id/37924/13/09.%20LAMPIRAN.pdf

Bagikan artikel ini melalui

Picture of wahyu adji
wahyu adji
Saya merupakan SEO Specialist dan Conten Writer Profesional di bidang pendidikan seputar kampus, mahasiswa dan kedosenan di Parafrase Indonesia

Tinggalkan Balasan