10 Cara Menghindari Plagiarisme pada Karya Ilmiah yang Benar

cara menghindari plagiarisme

Dosen dan mahasiswa, memiliki kebutuhan dan kewajiban untuk memahami cara menghindari plagiarisme. Sebab tindakan plagiarisme termasuk tindakan tercela dalam lingkungan pendidikan tinggi. 

Dosen maupun mahasiswa yang melakukan pelanggaran etika satu ini bisa berhadapan dengan berbagai konsekuensi. Sayangnya, masih banyak yang melakukan plagiarisme tanpa disengaja. Namun tentu tetap menanggung konsekuensi  sebagai pelaku plagiarisme. Jadi, apa saja yang bisa dilakukan untuk menghindarinya? Berikut informasinya. 

Baca Juga: 15 Situs Cek Plagiarisme Online yang Mudah Digunakan

Apa Itu Plagiarisme?

Memahami apa itu plagiarisme atau plagiat juga menjadi bagian dari tata cara menghindari plagiarisme itu sendiri. Jadi, penting untuk memahami definisinya dan bentuk perbuatan yang sudah masuk kategori plagiarisme. 

Mengacu dalam Permendiknas No. 17 Tahun 2010, plagiat atau plagiarisme adalah perbuatan secara sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau seluruh karya dan/atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai. 

Jadi, dari definisi tersebut maka tindakan plagiarisme adalah mengambil karya orang lain tanpa mencantumkan sumber. Sehingga seolah-olah bagian dari karya orang lain tersebut adalah karya diri sendiri. Padahal sebenarnya bukan. 

Berdasarkan definisi di atas juga, bisa dipahami ada beberapa bentuk tindakan yang masuk kategori plagiarisme dalam konteks penulisan karya ilmiah. Yaitu: 

  1. Mengutip kata, kalimat, maupun paragraf pada karya orang lain tanpa mencantumkan sumber (sitasi).
  2. Menggunakan ide, gagasan, maupun pandangan dari karya orang lain tanpa mencantumkan sumbernya. 
  3. Menggunakan data atau informasi dari suatu karya orang lain tanpa mencantumkan sumbernya. 
  4. Mengakui karya orang lain sebagai karya hasil atau ciptaan sendiri. 
  5. Melakukan parafrase kalimat atau paragraf dari karya orang lain tanpa mencantumkan sumbernya. 
  6. Mempublikasikan suatu karya milik orang lain yang sudah terpublikasi dan mengakuinya sebagai karya sendiri dan baru pertama kali dipublikasikan. 

Tindakan plagiarisme bisa karena sengaja dan tidak sengaja. Namun, di mata hukum semua bentuk plagiarisme tersebut tetap plagiarisme. Sehingga pelakunya tetap menerima sanksi sesuai ketentuan yang berlaku. 

Baca Juga: 5 Kasus Plagiarisme yang Pernah Terjadi di Dunia Akademik Indonesia, Apa Saja?

Mengapa Plagiarisme Harus Dihindari?

Memahami apa saja cara menghindari plagiarisme bukan sekedar penambah ilmu pengetahuan. Maupun sekedar memperluas wawasan. Namun, memberikan kebutuhan dan kewajiban untuk menerapkannya. 

Kenapa? Sebab, tindakan plagiarisme memberikan berbagai dampak negatif yang merugikan pelaku, korban plagiarisme (pemilik karya), dan institusi yang menaungi pelaku plagiarisme tersebut. Berikut detail penjelasannya: 

1. Bentuk Pelanggaran Aturan dan Ketentuan Pemerintah 

Plagiarisme merupakan suatu tindakan yang dilarang oleh pemerintah Indonesia. Sesuai dengan aturan ini, maka setiap perguruan tinggi di Indonesia juga melarang segala bentuk plagiarisme bagi civitas akademik. 

Sebagai larangan, tentunya mematuhi larangan menghindari plagiarisme menjadi bentuk kepatuhan hukum dan aturan. Jika dilanggar oleh dosen dan mahasiswa, maka ada sanksi dari perguruan tinggi. 

Mulai dari sanksi teguran, pencabutan hak dosen, pemberhentian, pembatalan ijazah mahasiswa, dan sebagainya. Jika pemilik karya melaporkan tindakan pelaku, maka tentu akan ada proses hukum yang dijalani dosen atau mahasiswa yang melakukan plagiat. Belum lagi dengan reputasi yang ikut runtuh dalam kasus tersebut. 

2. Menurunkan Keterampilan Menyusun Karya Ilmiah 

Dosen dan mahasiswa diharapkan mampu menyusun karya tulis ilmiah dengan baik dan untuk berbagai jenis karya ilmiah. Namun, plagiat membuat keterampilan ini tidak berkembang dan jika terus dilakukan justru terus menurun. Maka plagiarisme harus dihindari oleh dosen, mahasiswa, dan siapa saja. 

3. Perkembangan Iptek Bisa Terhenti 

Plagiarisme akan membentuk siklus tanpa ujung terhadap perputaran data, informasi, temuan, gagasan, ide, dan sebagainya. Sehingga stagnan dan tidak ada perkembangan data, informasi, ide, dan gagasan baru. 

Dampaknya, tentu akan membuat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) stagnan. Perlahan tidak akan ada ilmu pengetahuan dan wawasan baru. Hal ini tentu harus diwaspadai, sehingga plagiarisme harus benar-benar dihindari.  

4. Meningkatkan Sifat Malas 

Alasan selanjutnya kenapa perlu memahami dan menerapkan tata cara menghindari plagiarisme adalah untuk menghindari sifat malas. Plagiat yang dilakukan sekali, dua kali, dan berkelanjutan akan membuat keterampilan tumpul. 

Diikuti dengan tumbuhnya sifat malas untuk menemukan ide baru, berpikir kreatif dan inovatif. Sebab bisa tetap menghasilkan karya tanpa perlu repot bekerja keras. Oleh sebab itu, plagiarisme harus dihindari agar tidak menjadi generasi dan akademik pemalas. 

5. Kualitas Karya Tulis Hasil Plagiat Rendah 

Alasan berikutnya, adalah karena plagiarisme membuat karya tulis yang dibuat memiliki kualitas rendah. Pada mahasiswa, tugas dengan tindakan plagiat di dalamnya akan mudah terdeteksi. 

Selain itu, ada resiko bagian yang diambil dari karya orang lain tidak selaras dengan topik dalam karya tulis yang dibuat. Apalagi jika asal copy paste dan tidak dibaca dulu. Hal ini juga berlaku bagi dosen. 

Karya tulis ilmiah apapun jika hasil plagiarisme tentu mudah terdeteksi dan kualitas tidak maksimal. Hal ini akan membuatnya sulit menembus publikasi ilmiah kredibel seperti jurnal internasional bereputasi maupun jurnal nasional terakreditasi. 

Baca Juga: 10 Teknik Parafrase untuk Mengurangi Plagiarisme, Lengkap dengan Contoh

Cara Menghindari Plagiarisme

Memahami betul bahaya dari tindakan plagiarisme, tentu memberi motivasi untuk menghindarinya secara optimal. Berikut beberapa cara menghindari plagiarisme yang bisa diterapkan: 

1. Memahami Plagiarisme

Salah satu penyebab yang membuat seseorang melakukan plagiarisme adalah tidak memahami tindakannya termasuk plagiarisme tersebut. Hal ini juga terjadi di lingkungan akademik, khususnya di kalangan mahasiswa.

Tidak tertutup kemungkinan juga, masih ada dosen yang belum memahami seluruh bentuk plagiarisme. Hal ini dapat terjadi karena ada kalanya plagiarisme sudah terjadi dari lama, dianggap biasa, dan dianggap bukan plagiarisme. 

Padahal plagiarisme tanpa disengaja tetap plagiarisme, pelaku tetap akan menerima sanksi. Maka salah satu cara atau tips menghindari plagiarisme adalah dengan memahaminya. Pelajari apa itu plagiarisme, jenis-jenisnya, bentuknya, sanksinya, dampaknya, dan sebagainya. Semakin paham, semakin mudah menghindarinya. 

2. Gunakan Gaya Penulisan Diri Sendiri

Cara menghindari plagiarisme juga bisa dengan mencari dan menemukan gaya penulisan sendiri. Setiap orang ketika menulis akan memiliki gaya menulis yang khas. Mulai dari pemilihan kata ganti, pemilihan diksi, gaya bahasa (formal, semi formal, atau nonformal), dan sebagainya. 

Inilah alasan kenapa ketika dua penulis atau lebih dihadapkan pada topik yang sama. Maka mereka memiliki cara sendiri-sendiri untuk menjelaskan topik tersebut pada tulisan mereka. Sebab, masing-masing punya gaya penulisan sendiri yang sudah khas. 

Gaya menulis yang khas ini akan terbentuk secara alami. Yakni dari proses membaca yang terus berkelanjutan. Disusul dengan proses menulis yang dilakukan secara terus-menerus. Diikuti juga dengan ikut serta dalam berbagai pelatihan menulis, jika dirasa diperlukan. 

3. Melakukan Parafrase  dalam Kepenulisan

Parafrase juga termasuk tips menghindari plagiarisme yang banyak dianjurkan. Parafrase bisa dipahami sebagai proses menulis ulang suatu kutipan karya orang lain dengan bahasa sendiri tanpa mengubah makna dan mencantumkan sumbernya. 

Hasil parafrase ini bisa disebut sebagai salah satu bentuk kutipan tidak langsung pada karya ilmiah. Sehingga tetap wajib mencantumkan sumber di dalam kutipan tersebut. Baik di awal, di tengah, maupun di akhir kutipan tersebut. Kemudian diulang di halaman daftar pustaka. 

Parafrase sangat dianjurkan, karena efektif mengasah kemampuan menulis. Kemudian mendorong pemahaman pada kutipan dan data dari referensi yang digunakan. Nilai tambahnya, parafrase efektif menurunkan similarity indeks jika melakukan cek plagiarisme di Turnitin atau aplikasi sejenis. 

4. Memahami Cara Mengutip yang Benar 

Kutipan di dalam karya tulis ilmiah memang sangat penting. Sebab bisa membantu menguatkan data atau argumen yang disampaikan pada karya tulis. Bisa juga memperkaya informasi atau data yang dipaparkan. 

Namun, membuat kutipan tidak bisa asal dilakukan. Sebab kutipan tersebut juga harus diikuti dengan mencantumkan sumbernya. Jadi, pahami betul apa itu kutipan,  bagaimana cara mengutip yang benar, dan bagaimana teknik sitasinya. 

5. Menyusun Rencana Kegiatan Menulis 

Kegiatan menulis yang terencana dan dipersiapkan dengan baik, juga menjadi cara menghindari plagiarisme. Menulis perlu diatur jadwalnya agar tahapannya benar dan tepat. Sehingga ada tahap mencari referensi,membacanya, dan seterusnya sampai proses menulis berjalan. 

Sekaligus ada pengaturan jawal agar selesai jauh sebelum deadline. Sehingga godaan melakukan plagiarisme bisa lebih rendah. Sebab menulis tanpa persiapan cukup dan mepet deadline, cenderung memberi godaan tinggi melakukan plagiarisme. 

6. Melakukan Cek Plagiarisme 

Meskipun menulis dari nol dan murni mengandalkan hasil olah kata sendiri. Tetap ada kemungkinan terdeteksi plagiarisme. Maka salah satu upaya menghindarinya adalah dengan melakukan uji atau cek plagiarisme. Ada banyak aplikasi bisa digunakan untuk keperluan ini. Misalnya Turnitin, Grammarly, dll. 

7. Mengasah Keterampilan Menulis Karya Ilmiah 

Berikutnya adalah dengan mengasah keterampilan menulis. Bisa dengan mengikuti pelatihan menulis, membangun budaya membaca, aktif ikut lomba menulis, aktif menulis di blog pribadi, dan sebagainya. Sehingga keterampilan menulis meningkat dan percaya diri dengan kemampuan sendiri. 

8. Perguruan Tinggi Menerapkan Kebijakan Ketat dan Pengawasan 

Menurunkan angka kasus plagiarisme juga melibatkan pihak yang memiliki wewenang membuat kebijakan. Salah satunya perguruan tinggi yang bisa menyusun buku panduan bebas plagiarisme, menerbitkan surat edaran keputusan rektor yang mengatur plagiarisme, dan membentuk tim pengawasan untuk menjaga etika. 

9. Memahami Hak Cipta 

Tips berikutnya untuk menghindari plagiarisme adalah memahami Hak Cipta. Hak Cipta dipahami sebagai perlindungan hukum terhadap suatu karya, termasuk juga karya tulis. Hukum di Indonesia tentang Hak Cipta diatur di dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014. 

Memahami Hak Cipta dengan rinci juga memahami bahwa plagiarisme adalah salah satu bentuk pelanggaran Hak Cipta tersebut. Jika dipahami dengan baik, maka akan menghindarkan keinginan melakukan tindakan plagiarisme. Apalagi diatur pula sanksi hukuman kurungan untuk pelakunya. 

10. Menyusun Halaman Daftar Pustaka Sejak Awal 

Cara terakhir untuk menghindari tindakan plagiarisme adalah menyusun halaman daftar pustaka dari awal. Hindari menyusunnya di akhir, karena meningkatkan resiko ada referensi yang terlupa dan terlewat dicantumkan di dalamnya. 

Jadi, sangat disarankan halaman ini disusun beriringan dengan proses pengembangan naskah. Supaya seluruh referensi dipastikan benar-benar masuk. Hal ini sudah mencegah karya tulis yang disusun memenuhi kriteria plagiarisme, yakni tidak mencantumkan sumber dengan jelas. 

Ada banyak cara menghindari plagiarisme, dan tentunya tidak sulit untuk dilakukan. Jika merasa masih awam dalam dunia menulis karya ilmiah. Niatkan juga untuk menghindari plagiarisme apapun bentuknya.

Sebab bisa merugikan diri sendiri, institusi, dan orang lain yang karyanya diplagiat maupun pembaca karya Anda dari hasil plagiat tersebut. Parafrase Indonesia menyediakan E-Book Anti Plagiarisme yang bisa anda gunakan sebagai panduan kepenulisan dalam menyusun karya tulis ilmiah.

sumber: 

  1. Temesvari, N. A., Witri, D., & Qomarania, Z. (2022). Pendampingan Menghindari Plagiarisme dalam Penulisan Karya Tulis bagi Mahasiswa. Pendampingan Menghindari Plagiarisme Dalam Penulisan Karya Tulis Bagi Mahasiswa, 8, 281-286. https://digilib.esaunggul.ac.id/public/UEU-Journal-25632-11_2835.pdf
  2. Shadiqi, M. A. (2019). Memahami dan Mencegah Perilaku Plagiarisme dalam Menulis Karya Ilmiah. Buletin Psikologi, 27(1), 30-42. https://journal.ugm.ac.id/buletinpsikologi/article/view/43058
  3. Wibowo, A. (2012). Mencegah dan menanggulangi plagiarisme di dunia pendidikan. Kesmas, 6(5), 1. https://scholarhub.ui.ac.id/kesmas/vol6/iss5/1/
  4. Cloudeka, L. (2023). Cara Menghindari Plagiarisme untuk Menjaga Orisinalitas Tulisan! Diakses pada 10 Februari 2026 dari https://www.cloudeka.id/id/berita/tips-trik/cara-menghindari-plagiarisme/
  5. Universitas Pasundan. (2022). 5 Tips ampuh menghindari Plagiarisme.Diakses pada 10 Februari 2026 dari https://teknik.unpas.ac.id/blogs/5-tips-ampuh-menghindari-plagiarisme/

Bagikan artikel ini melalui

Picture of wahyu adji
wahyu adji
Saya merupakan SEO Specialist dan Conten Writer Profesional di bidang pendidikan seputar kampus, mahasiswa dan kedosenan di Parafrase Indonesia

Tinggalkan Balasan