Self Publishing: Pengertian, Manfaat dan Cara Melakukanya

Self Publishing

Menerbitkan naskah buku memang sama susahnya dengan proses penulisannya. Sebab ada banyak tantangan dalam proses penerbitan. Dalam kondisi ini, para dosen bisa mempertimbangan self publishing (penerbitan mandiri). 

Melalui penerbitan mandiri, seorang dosen atau penulis bisa menjamin naskahnya terbit. Bahkan memastikan isinya tidak mengalami perubahan sama sekali. Sebab, penulis memegang hak penuh atas naskah tersebut dan aspek lainnya. Jadi, apa itu self publishing buku? Berikut informasinya. 

Baca Juga: Cara Mendapatkan ISBN Tanpa Penerbit untuk Self Publishing

Apa Itu Self Publishing?

Dalam buku Self Publishing Langkah Mudah Menerbitkan Buku Secara Mandiri (2017), self publishing adalah salah satu cara menerbitkan buku oleh penulis tanpa bantuan penerbit konvensional atau penerbit besar (major publisher). 

Sesuai dengan namanya, penerbitan mandiri diurus secara langsung oleh penulis atau dosen yang menulis naskah buku. Mulai dari proses penulisan, editing, penyuntingan, desain cover, cetak buku, sampai promosi dan distribusi buku tersebut. 

Jadi, apakah dosen harus multitalenta? Jawabannya tidak. Sebab untuk proses atau tahap penerbitan tertentu, dosen tetap menggunakan penyedia jasa. Misalnya, untuk desain cover. Maka dosen bisa menggunakan jasa desain grafis. 

Contoh lain, jika dosen sudah masuk ke tahap cetak naskah buku. Maka perlu menggunakan jasa percetakan. Begitu juga dengan tahap lainnya dari editing, penyuntingan, dan sebagainya. Sehingga tidak dikerjakan sendiri, hanya saja diurus sendiri oleh dosen. 

Bandingkan dengan proses penerbitan konvensional, misalnya ke penerbit mayor. Dosen fokus mengirimkan naskah dan menunggu kabar baik. Disusul proses revisi sesuai kebijakan editor. Proses berikutnya seperti cetak, desain cover, dll akan diurus pihak penerbit dan dosen terima beres. 

Baca Juga: Harga Konversi KTI Menjadi Buku Referensi dan Monograf

Manfaat Melakukan Self Publishing

Para dosen yang memutuskan melakukan self publishing bisa mendapatkan cukup banyak manfaat. Diantaranya adalah: 

1. Dosen Memiliki Kontrol Penuh pada Isi Naskah 

Dalam penerbitan selain self publish, isi naskah bisa berubah. Hal ini terjadi karena ada penyesuaian dari pihak penerbit. Misalnya terkait pemilihan diksi, struktur kalimat, paragraf dan kalimat yang dirasa perlu dihapus, dll. 

Sehingga pada akhirnya, isi naskah tidak 100% sama seperti ketika selesai disusun oleh dosen. Bagi beberapa dosen, perubahan pada isi dinilai tidak tepat. Misalnya karena ada pandangan bisa menurunkan ilmiahnya atau atas pertimbangan lain. 

Melalui self publishing, resiko isi naskah berubah tidak ada. Kenapa? Sebab isi naskah hak prerogatif dosen selaku penulis. Naskah terbit apa adanya sesuai hasil akhir penulisan. 

2. Proses Penerbitan Lebih Cepat 

Tahukah Anda, proses penerbitan buku ilmiah melalui penerbit butuh waktu lama? Apalagi jika pihak editor meminta revisi dan lebih dari sekali. Bisa dibayangkan berapa lama naskah resmi terbit dan masuk ke toko buku. 

Jika dosen berencana mengejar jadwal pelaporan BKD, pengajuan usulan kenaikan jabatan fungsional di SISTER, dan alasan lain. Sehingga butuh buku yang disusun terbit secepatnya. Self publishing adalah solusi. Sebab tanpa ada proses editing sampai revisi. Bisa langsung terbit selesai dicetak dan dijilid. 

3. Hak Cipta di Tangan Dosen 

Manfaat self publishing berikutnya bagi dosen adalah mendapatkan Hak Cipta. Jika naskah buku diterbitkan lewat penerbit, umumnya Hak Cipta dimiliki penerbit tersebut. Khususnya pada penerbit mayor. 

Sehingga pihak penerbit yang menentukan naskah dicetak berapa, perlu dicetak ulang atau tidak, dan sebagainya. Pada penerbitan mandiri, Hak Cipta secara penuh ada di tangan dosen selaku penulis buku. Sehingga dosen yang menentukan akan mencetak berapa, dicetak berapa kali, dan sebagainya. 

4. Menerima Royalti 100% 

Self publishing adalah satu-satunya metode penerbitan buku yang membantu penulis mendapatkan royalti secara penuh. Sebab proses cetak, promosi, dan distribusi buku sepenuhnya dilakukan dan didanai penulis sendiri. 

Hasil penjualan tentu akan didapatkan oleh penulis juga. Berbeda dengan penerbitan buku secara konvensional ke penerbit. Biasanya royalti tidak sampai 100%. Rata-rata di Indonesia, royalti buku paling kecil 5% dan paling besar di 30% sampai 35%. 

5. Tetap Mendukung BKD dan Pengembangan Karir Akademik 

Buku ilmiah yang disusun dosen dan diterbitkan secara self publishing juga diakui Ditjen Dikti. Tentunya dengan catatan memenuhi standar yang berlaku. Misalnya terbit dengan ISBN, dicetak dalam ukuran Unesco, jumlah halaman sesuai, dll. 

1 Step 1
Apa yang Membuat Anda Tertarik Melakukan Parafrase?
keyboard_arrow_leftPrevious
Nextkeyboard_arrow_right
FormCraft - WordPress form builder

Jadi, buku ilmiah yang diurus penerbitannya oleh dosen secara mandiri tetap bisa masuk laporan BKD. Kemudian, buku ini juga menambah poin angka kredit. Sehingga tetap menunjang pengembangan karir akademik dosen. 

Baca Juga: 9 Karakteristik Buku Referensi Menurut PO Angka Kredit untuk Raih KUM Tinggi

6. Biaya Penerbitan Mudah Dikendalikan 

Berhubung proses penyuntingan, cetak, promosi, dan distribusi buku ditangani sendiri oleh penulis. Maka biaya selama proses tersebut bisa diketahui dan dikontrol sesuai kondisi dan kebutuhan. 

Misalnya, jika dana terbatas maka bisa mencetak di bawah 10 eksemplar. Sehingga biaya lebih relevan dengan kondisi keuangan. Pada penerbitan selain self publish, biaya ditetapkan penerbit sehingga tidak ada kendali dari penulis. Sementara pada penerbit mayor, tidak ada biaya penerbitan. Namun, royaltinya kecil. 

7. Buku Dosen Dijamin Terbit 

Pernah mengirim naskah buku dan ditolak penerbit? Pengalaman ini tentu kurang menyenangkan. Namun jika memilih metode penerbitan mandiri resiko semacam ini tidak akan dialami. Pasalnya, naskah diurus sendiri penerbitannya. Sehingga dijamin terbit tanpa resiko ditolak maupun revisi. 

Baca Juga: 30+ Penerbit Jurnal Gratis dan Terpercaya

Cara Melakukan Self Publish

Mengurus sendiri proses penerbitan dalam self publishing tentu tidak mudah. Sebab ada banyak tahapan dalam proses penerbitan naskah buku. Lalu, seperti apa langkah-langkahnya? Berikut penjelasannya: 

1. Pastikan Naskah Buku Sudah Siap Terbit

Langkah yang pertama, naskah buku sudah harus dalam kondisi siap terbit. Artinya, dosen sudah menyelesaikan proses penulisan dari bab pertama sampai bab terakhir. Jadi, jangan mengurus penerbitan mandiri sebelum naskah sudah diselesaikan. 

2. Melakukan Editing dan Penyuntingan Mandiri 

Langkah yang kedua adalah proses editing dan penyuntingan mandiri. Pada tahap ini, dosen bisa membaca ulang naskah buku yang sudah diselesaikan penyusunannya. Kemudian jika ada kesalahan, bisa dikoreksi atau diperbaiki. 

Baik dari segi penggunaan tanda baca, struktur kalimat dan paragraf, pemilihan diksi atau kosakata, merapikan naskah, dan lain sebagainya. Pada tahap ini, dosen perlu memastikan isi naskah sudah bagus atau berkualitas. Sehingga bisa disebut sudah layak terbit. 

3. Membuat Desain Layout dan Cover Buku 

Setelah naskah sudah rapi dan bebas dari kesalahan atau minim kesalahan. Maka langkah ketiga dalam self publishing adalah membuat desain. Mencakup desain layout buku dan desain cover atau sampul buku. 

Bagi dosen yang akrab dengan aplikasi desain grafis. Maka di tahap ini bisa dikerjakan mandiri. Sebaliknya, jika merasa tidak pandai membuat desain grafis. Apalagi desain layout buku lebih kompleks dibanding desain poster. 

Maka bisa menggunakan jasa desain grafis profesional. Memang akan keluar biaya, hanya saja hasil desainnya bisa dipastikan bagus karena dikerjakan ahlinya. Sekaligus sesuai harapan, selera, dan keinginan. 

4. Mengurus ISBN 

Jika naskah sudah siap, layout sudah jadi, dan cover juga sudah selesai digarap. Maka tahap berikutnya dalam self publishing adalah mengurus ISBN. Pengajuan ISBN dilakukan melalui website resmi Perpustakaan Nasional (Perpusnas). 

ISBN tak hanya bisa diajukan oleh penerbit, akan tetapi juga perorangan. Mengurus secara perorangan nantinya perlu registrasi akun di Perpusnas sebagai Penerbit Mandiri. Jadi untuk tahap registrasi sampai pengajuan ISBN tidak berbeda dengan proses yang dikerjakan penerbit. 

5. Mengurus Proses Cetak 

Setelah ISBN sudah diterbitkan Perpusnas, langkah berikutnya dalam self publish adalah mengurus proses cetak. Khusus untuk dosen yang memilih buku diterbitkan dalam versi fisik (buku cetak bukan buku elektronik). Maka akan ada proses cetak. 

Dalam tahap ini, dosen perlu menggunakan jasa percetakan. Silahkan mencari jasa percetakan yang sudah berpengalaman mencetak naskah buku. Umumnya, jasa percetakan buku sekaligus menyediakan jasa jilid. Jumlah cetak disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan dosen sendiri. 

6. Menentukan Harga Buku 

Langkah selanjutnya saat mengurus penerbitan mandiri adalah menentukan harga buku. Pada tahap ini, pastikan sudah memiliki catatan daftar pengeluaran selama proses mengurus penerbitan naskah secara mandiri. 

Mulai dari biaya menggunakan jasa desain grafis, biaya cetak, dan sebagainya. Kemudian, tentukan biaya untuk mencetak 1 eksemplar buku. Selanjutnya, tinggal menentukan berapa persen profit dari penjualan buku yang diharapkan. 

Sebagai contoh, setelah menghitung keseluruhan biaya didapatkan 1 eksemplar buku butuh biaya Rp50 ribu. Jika dosen ingin mendapat keuntungan penjualan Rp15 ribu. Maka buku tersebut bisa dijual di Rp75 ribu. 

7. Distribusi dan Promosi 

Tahap akhir dari self publishing yakni distribusi dan promosi. Keduanya bisa dikerjakan mandiri oleh dosen. Bisa juga menggunakan jasa profesional. Misalnya menggunakan jasa pemasaran daring maupun luring. 

Jika dikerjakan sendiri, maka promosi bisa lewat blog pribadi, akun media sosial milik dosen, dan media-media lainnya. Sangat mungkin dosen menjalin kerjasama dengan toko buku. Sehingga bukunya bisa masuk ke toko tersebut. 

Jika buku diterbitkan dalam bentuk buku elektronik (ebook), maka penjualan dan promosi bisa lewat toko buku online. Misalnya, lewat Google Play Books, Amazon, Apple Books, Kubuku, dan lain sebagainya. 

Baca Juga: Cara Membuat Buku Monograf, Lengkap dengan Pembahasannya

Terbitkan Karya Ilmiah Lewat Parafrase Indonesia

Self publishing tentu menjadi teknik penerbitan buku ilmiah yang layak dipertimbangkan. Namun, pastikan naskah buku sudah siap terbit. Bagaimana jika masih berbentuk artikel ilmiah, skripsi, tesis, dan disertasi? Maka tentu perlu melakukan konversi. 

Konversi KTI tidak menuntut dosen mengerjakannya secara mandiri. Sebab bisa menggunakan jasa profesional. Salah satunya lewat Layanan Konversi KTI dari Parafrase Indonesia. Apa saja keunggulannya?

  1. Proses konversi dikerjakan tim ahli, berpengalaman, dan bersertifikasi BNSP. 
  2. Dijamin terbit dengan ISBN. 
  3. Garansi skor similarity indeks dan plagiasi rendah. 
  4. Layanan lengkap dan disediakan pilihan paket, sehingga para dosen bisa memilih paket sesuai kebutuhan. 
  5. Sudah banyak buku terbit dengan ISBN hasil Konversi KTI tim Parafrase Indonesia. 
  6. Konversi KTI bisa untuk artikel ilmiah, skripsi, tesis, disertasi, dan karya ilmiah lain. Kemudian akan dibantu dikonversi menjadi naskah buku yang siap terbit. 

Melalui Layanan Konversi KTI dari Parafrase Indonesia, para dosen tinggal duduk manis dan terima beres. Sebab naskah akan dikerjakan tim ahli. Dosen sendiri bisa fokus mengerjakan tugas dan kewajiban akademik lainnya. Jadi, jangan ragu untuk menggunakan layanan ini. Kemudian, penerbitannya bisa dilakukan secara self publishing. 

sumber: 

  1. Mustaming, W. N. (n.d). Penerbit Self Publishing Vs Penerbit Mayor: Kelebihan dan Kekurangan. Diakses pada 31 Desember 2025 dari https://nasmedia.id/blog/penerbit-self-publishing-vs-penerbit-mayor-kelebihan-dan-kekurangan/
  2. Tim Penerbit Buku Deepublish. (2017). Self Publishing Langkah Mudah Menerbitkan Buku Secara Mandiri. Penerbit Deepublish. https://dosen.perbanas.id/wp-content/uploads/2017/04/Ebook-Self-Publishing.pdf
  3. Mandalika Institute. (2025). Cara Daftar ISBN Buku. Diakses pada 31 Desember 2025 dari https://blog.institutemandalika.com/cara-daftar-isbn-buku/

Bagikan artikel ini melalui

Picture of wahyu adji
wahyu adji
Saya merupakan SEO Specialist dan Conten Writer Profesional di bidang pendidikan seputar kampus, mahasiswa dan kedosenan di Parafrase Indonesia

Tinggalkan Balasan

Cari Artikel Lainnya

Jangan Lewatkan!

Ebook Terbaru🔥