Contoh Penulisan Research Gap dalam Latar Belakang Penelitian Ilmiah

Contoh Penulisan Research Gap dalam Latar Belakang

Contoh penulisan research gap dalam latar belakang karya tulis ilmiah (KTI) menjadi hal yang penting untuk diikuti karena eorang akademisi maupun peneliti dituntut untuk tidak hanya mampu mengidentifikasi atau menemukan research gap.

Research gap atau kesenjangan penelitian menjadi faktor penting dalam menunjang jalannya penelitian yang orisinil dan memiliki novelty (kebaruan). Kesenjangan penelitian umumnya tercantum di bagian pendahuluan, sehingga menjadi satu dengan latar belakang penelitian. Berikut informasinya. 

Baca Juga: Novelty Penelitian: Pengertian, Jenis-Jenis, dan Cara Menemukannya

Apa Itu Research Gap?

Research gap atau gap penelitian adalah kondisi dimana suatu penelitian terdahulu memiliki kesenjangan, celah, atau inkonsistensi yang membuka peluang untuk diteliti lebih lanjut di masa sekarang. 

Secara umum, setiap penelitian memiliki gap atau kesenjangan. Baik itu pada teori, pengetahuan, metode penelitian, populasi penelitian, dan sebagainya. Inilah yang membuat research gap terbagi menjadi beberapa jenis. 

Sebab setiap penelitian punya batasan masalah tersendiri. Begitu juga dengan fokus utama penelitian, teori yang tersedia, pengetahuan yang dimiliki peneliti, dan lain sebagainya. Namun, justru dengan adanya kesenjangan ini justru mendorong dilakukan penelitian lebih lanjut. 

Apa Itu Latar Belakang pada KTI? 

Memahami bagaimana penyusunan research gap dalam latar belakang KTI, tentunya tidak cukup hanya membahas definisi research gap. Akan tetapi juga membahas mengenai apa itu latar belakang dalam sistematika penulisan KTI. 

Latar belakang dalam KTI adalah bagian dari sistematika penulisan KTI yang berisi penjelasan mengenai alasan suatu topik (fenomena maupun masalah) dipilih oleh peneliti untuk diteliti secara ilmiah.  

Contohnya, dalam sistematika penulisan artikel jurnal ilmiah. Bagian Pendahuluan (Introduction) menjadi bagian yang disusun penulis setelah Abstrak. Pendahuluan umumnya terdiri dari beberapa unsur. Mencakup latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, research gap, dan novelty. 

Baca Juga:

Bisakah Research Gap Dicantumkan pada Bagian Latar Belakang KTI?

Jawabannya adalah bisa, dan bahkan sangat bisa atau wajib bisa. Sebab baik latar belakang maupun research gap menjadi unsur yang menyusun bagian pendahuluan pada KTI. 

Sehingga setelah menjelaskan latar belakang (alasan) pemilihan topik. Maka peneliti (penulis KTI) akan mulai menjelaskan research gap yang berhasil diidentifikasi melalui proses kajian pustaka maupun teknik lain yang relevan. 

Jadi, hal penting berikutnya yang perlu dipahami peneliti adalah bagaimana cara menuliskan research gap dalam latar belakang KTI tersebut. Sebab setelah menjelaskan latar belakang penelitian, secara umum peneliti tidak bisa langsung menjelaskan research gap penelitian terdahulu dan hubungannya dengan penelitian yang dilakukan. 

Cara Menuliskan Research Gap dalam Latar Belakang

Research gap dalam latar belakang KTI perlu disusun berurutan. Sehingga bagian pendahuluan di dalam KTI memiliki alur yang jelas dan sesuai logika keilmuan. Ada beberapa unsur lain yang perlu dicantumkan di antara keduanya. Berikut detail tata cara penulisannya: 

1. Membuka Pendahuluan dengan Menjelaskan Suatu Fenomena 

Bagian pendahuluan di dalam KTI tentunya selalu dibuka dengan latar belakang penelitian. Namun, membuka latar belakang tersebut harus dilakukan dengan benar. Artinya, penulis tidak bisa langsung menjelaskan alasan pemilihan topik penelitian. 

Dalam membuka pendahuluan, penulis perlu menjelaskan atau memaparkan suatu fenomena, isu, atau masalah yang ada di masyarakat. Maupun yang dihadapi oleh pemerintah. 

2. Menjelaskan Perkembangan Penelitian pada Topik yang Dipilih 

Setelah membuat bagian pendahuluan, tahap kedua penulisan research gap dalam latar belakang KTI adalah menjelaskan perkembangan penelitian yang relevan dengan topik yang diteliti. 

Pada tahap ini, penulis perlu mencantumkan judul penelitian, nama peneliti, dan tahun pelaksanaan penelitian. Disusul dengan menjelaskan temuan atau hasil dari penelitian tersebut. 

Membantu menguatkan hasil identifikasi research gap, maka penelitian terdahulu yang dipaparkan sebaiknya lebih dari satu. Minimal ada 2 penelitian terdahulu, jika memungkinkan setidaknya ada 3 penelitian terdahulu. 

3. Memaparkan Keterbatasan atau Kesenjangan Penelitian Terdahulu 

Tahap selanjutnya di pemaparan research gap dalam latar belakang KTI adalah menyampaikan  keterbatasan atau kesenjangan penelitian terdahulu tersebut. Sesuai penjelasan sebelumnya, setiap penelitian tanpa terkecuali punya kekurangan. 

Kekurangan ini perlu disampaikan dengan jelas dan mudah dipahami di bagian pendahuluan KTI. Sehingga menguatkan alasan kenapa penelitian lanjutan perlu dilakukan. 

Sekaligus membantu menguatkan research gap yang akan disampaikan kepada pembaca. Pahami dengan baik kesenjangan apa saja yang dimiliki penelitian terdahulu, kemudian dijelaskan dengan rinci dan efektif (tidak berbelit–belit). 

4. Mencantumkan Research Gap yang Ditemukan 

Tahap berikutnya, tentu saja menuliskan research gap dalam latar belakang. Biasanya rsearch gap disampaikan dengan kata maupun frasa yang eksplisit (tersurat—disampaikan secara langsung). Misalnya “Research gap..” atau “…adanya kesenjangan..” dan sejenisnya. 

5. Menghubungkan Research Gap dengan Penelitian yang Dijalankan 

Tahap terakhir, adalah menghubungkan research gap yang berhasil diidentifikasi dengan penelitian yang akan atau telah dilakukan. Misalnya dengan menjelaskan keberadaan research gap tersebut mendorong peneliti melakukan kegiatan penelitian lanjutan. Berikut contoh kalimatnya: 

Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan penelitian (research gap) mengenai efektivitas media pembelajaran digital pada konteks pembelajaran akuntansi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk ….”

Contoh Penulisan Research Gap dalam Latar Belakang KTI 

Jika melalui penjelasan sebelumnya masih bingung bagaimana menuliskan research gap dalam latar belakang atau pendahuluan KTI. Maka berikut beberapa contoh research gap di penulisan latar belakang sehingga bisa dijadikan referensi: 

1. Contoh Research Gap dalam Latar Belakang 1

Judul: Persepsi Mahasiswa Tentang Pemanfaatan Teknologi AI dalam Pembelajaran Bahasa Arab di Perguruan Tinggi Islam Indonesia (Aunur Shabur Maajid Amadi dan  Khizanatul Hikmah) 

Penggunaan teknologi AI dalam pembelajaran Bahasa Arab telah banyak diteliti, menunjukkan minat akademisi pada perannya dalam mendukung penguasaan bahasa. 

Penelitian pertama berjudul Penggunaan  Artificial  Intelligence  (AI)  dalam  Pembelajaran:  Fenomena  Transformasi  Otoritas Pengetahuan di Kalangan Mahasiswa, Penelitian ini menemukan bahwa mahasiswa menggunakan kecerdasan buatan, seperti Chat GPT, chatbot, dan kamus elektronik berbasis AI, terutama dalam mata kuliah alih bahasa. Selain itu, terdapat pergeseran otoritas pengetahuan dari dosen dan buku otoritatif ke situs web terpercaya, pendapat intelektual, dan jurnal perguruan tinggi (Djakfar Musthafa, 2024). 

Penelitian kedua berjudul The Use of ChatGPT among Arabic Language and Literature Students: Opportunities and Challenges, Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab lebih banyak menggunakan Chat GPT untuk kebutuhan tugas mereka, terutama tugas-tugas yang berhubungan dengan penulisan makalah (Robbani et al., 2023). 

Penelitian ketiga berjudul Efektivitas Artificial Intelligence Text to Speech dalam Meningkatkan Keterampilan Membaca, Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi Text-to-Speech (TTS) berbasis AI dapat secara signifikan membantu pengguna, terutama mereka yang belum dapat membaca tulisan Arab, dalam memahami bacaan teks berbahasa Arab  dan  meningkatkan  keterampilan  membaca  melalui  suara yang  jelas  dan  akurat, sehingga memudahkan pendengar dalam memahami dan meniru pengucapan dengan benar (Sarif & Ar, 2024).

Kajian mengenai penggunaan teknologi AI dalam pembelajaran Bahasa Arab telah diteliti dari berbagai  aspek,  perubahan  sumber  otoritas  pengetahuan  di  kalangan  mahasiswa,  peluang  dan tantangan penggunaan ChatGPT dalam pembelajaran Bahasa Arab, serta efektivitas teknologi TTS dalam  meningkatkan  keterampilan  membaca  dan  pengucapan  teks  Arab.  

Namun,  pembahasan mengenai persepsi mahasiswa Program studi pendidikan bahasa arab terhadap integritas mahasiswa dalam penggunaan AI dan implikasi dalam pembelajaran Bahasa Arab masih belum dianalisis secara spesifik.  Penelitian  ini  memiliki  kesamaan  dengan  studi  sebelumnya  dalam  penggunaan  metode kualitatif, tetapi berbeda dalam rumusan masalah yang diangkat.

2. Contoh Research Gap dalam Latar Belakang 2

Judul: Analisis Kebijakan Sertifikasi Dosen Dan Penguatan Profesionalisme Akademik Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Tinggi (Rike Junia Ningarumsari, Ashima Ailya, Eva Dianawati Wasliman, dan Iim Wasliman). 

Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa tantangan implementasi sertifikasi dosen masih cukup tinggi, terutama di lingkungan perguruan tinggi swasta berbasis keagamaan. Berdasarkan laporan Republika (2023) lebih dari 30% dosen di PTS keagamaan belum tersertifikasi. 

Hal ini disebabkan oleh keterbatasan fasilitas pelatihan, lemahnya dukungan kelembagaan serta minimnya akses terhadap pendampingan profesional. Fakta ini mengindikasikan bahwa meskipun kebijakan sertifikasi telah dirumuskan dengan baik, implementasinya di tingkat institusi belum sepenuhnya efektif. 

Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa pelaksanaan sertifikasi dosen memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pembelajaran dan produktivitas akademik. Sertifikasi terbukti mendorong dosen untuk lebih siap dalam melaksanakan tugas mengajar, aktif dalam mengembangkan bahan ajar, serta meningkatkan partisipasi mereka dalam kegiatan publikasi ilmiah (Ramli, 2021). 

Penelitian Andriani juga menemukan bahwa dosen tersertifikasi menunjukkan keterlibatan yang lebih aktif dalam kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi (Andriani & Yusuf, 2022). Namun, berbagai penelitian juga mengungkap adanya tantangan dalam implementasi kebijakan sertifikasi dosen. 

Penelitian Nugroho (2023) menggarisbawahi bahwa ketimpangan pelaksanaan sertifikasi masih terjadi, terutama disebabkan oleh keterbatasan sumber daya dan lemahnya manajemen kelembagaan. Hal ini diperkuat oleh temuan Sari dan Mustofa (2021) yang menunjukkan bahwa sertifikasi belum sepenuhnya berdampak pada perubahan pola pikir dosen dalam mengembangkan profesionalismenya secara mandiri. 

Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara tujuan normatif kebijakan sertifikasi dengan realitas pelaksanaannya di tingkat institusi pendidikan tinggi. Sertifikasi di satu sisi menjadi instrumen strategis untuk meningkatkan kapasitas dosen namun di sisi lain, implementasinya belum menjamin tercapainya profesionalisme akademik yang diharapkan. 

Hal ini terutama terjadi di lingkungan perguruan tinggi keagamaan swasta yang seringkali menghadapi kendala administratif, lemahnya budaya akademik serta minimnya akses terhadap pelatihan dan pendampingan profesional. 

Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini disusun untuk menganalisis implementasi kebijakan sertifikasi dosen dan dampaknya terhadap profesionalisme akademik di STIT Al-Ihsan Baleendah, Kabupaten Bandung. Pemilihan lokus di STIT Al-Ihsan Baleendah dilandasi oleh realitas bahwa institusi ini sedang dalam proses akselerasi mutu dan pembenahan manajemen akademik melalui peningkatan kompetensi sumber daya manusia. 

3. Contoh Research Gap dalam Latar Belakang 3

Judul: E. Ostrom – Inspirasi Reformasi Tata Kelola Sertifikasi Dosen di Indonesia: Rekomendasi Kebijakan dan Wawasan Strategis (Hikmat, Maya Puspita Dewi, dan Izzatusholekha). 

Data sertifikasi dosen (Serdos) periode 2020-2024 menunjukkan fluktuasi signifikan dalam jumlah DYS, dengan angka tertinggi pada tahun 2020 (10.758 peserta) dan 2024 (10.235 peserta). tetapi persentase kelulusan menunjukkan peningkatan konsisten dari 89,21% (2020) menjadi 97,61% (2024), dan tingkat ketidaklulusan menurun dari 9,96% menjadi 2,39%, 

Penelitian menunjukkan bahwa dosen yang terlibat dalam program sertifikasi cenderung lebih termotivasi untuk berpartisipasi dalam penelitian dan pengabdian masyarakat, yang merupakan bagian integral dari tri dharma perguruan tinggi (Kartika et al., 2023). Penelitian lainnya menunjukkan bahwa sertifikasi dapat membantu menciptakan standar yang lebih tinggi dalam pengajaran, sehingga meningkatkan kualitas pengalaman belajar mahasiswa (Hasanah & Widyanto, 2024). 

Dengan demikian, sertifikasi dosen tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan profesionalisme individu, tetapi juga sebagai sarana untuk memperkuat sistem pendidikan secara keseluruhan, yang selanjutnya dapat berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan dan inovasi sosial di masyarakat (McCaskill et al., 2024); (Robert et al., 2021). 

Penelitian lainnya mengkonfirmasi dampak positif sertifikasi terhadap kinerja dosen. (Safitri & Pujiyanto, 2021) menemukan perbedaan signifikan dalam kinerja antara dosen bersertifikat dan nonsertifikasi. (Nugraha, 2021) menegaskan efektivitas kebijakan sertifikasi dalam pengembangan profesionalisme dosen. 

Sementara itu, (Julaeha et al., 2019) dan (Gozali et al., 2019) menggarisbawahi pentingnya sertifikasi sebagai indikator kunci dalam menghadapi tantangan revolusi industri 4.0. Dalam perkembangan terkini, (Anam et al., 2023) mengungkapkan bahwa sertifikasi dosen berkontribusi signifikan terhadap pengembangan profesionalisme dosen, yang mencakup peningkatan kemampuan pedagogik, profesional, personal, dan interpersonal. Temuan ini diperkuat oleh penelitian (Krisna et al., 2022) yang menekankan dampak positif program sertifikasi dosen terhadap kinerja dan profesionalisme dosen, serta dukungannya terhadap tujuan pendidikan nasional. 

Penelitian tentang sertifikasi dosen di Indonesia terbagi dalam tiga klaster utama: (1) evaluasi dampak sertifikasi terhadap kualitas pembelajaran dan kinerja dosen, (2) persiapan kompetensi dosen (termasuk kemampuan bahasa Inggris), dan (3) korelasi tunjangan sertifikasi dengan motivasi dan kinerja. Overlay Visualization (Gambar 2) menunjukkan pergeseran tren penelitian ke topik seperti Serdos SMART, implementation, dan development (klaster kuning), yang mengindikasikan transformasi digital dalam proses sertifikasi. 

Namun, analisis Density Visualization menegaskan bahwa topik-topik tersebut masih memiliki kepadatan rendah (biru), terutama dalam konteks tata kelola kelembagaan dan implementasi multidimensi di berbagai jenis perguruan tinggi (PT). 

Penelitian terdahulu cenderung terbatas pada pendekatan evaluasi kinerja, motivasi, atau analisis kebijakan konvensional, tanpa mengintegrasikan perspektif kelembagaan untuk memahami kompleksitas tata kelola Serdos SMART. Lokus penelitian yang homogen menambah kesenjangan teoretis ini—fokus pada PT tertentu—sehingga gagal merepresentasikan variasi tantangan di PTS, PTN dan PTNBH. 

Selain itu, meskipun Serdos SMART telah memperkenalkan inovasi digital, aspek kolaborasi pemangku kepentingan, adaptasi aturan kelembagaan, dan keberlanjutan sistem belum dieksplorasi secara holistik. Kebaruan penelitian ini terletak pada penerapan teori new institutionalism Elinor Ostrom untuk menganalisis tata kelola Serdos SMART sebagai common-pool resource. 

Melalui beberapa contoh penulisan research gap dalam latar belakang atau pendahuluan KTI tersebut. Tentunya bisa lebih memberi gambaran mengenai bagaimana penulisan yang baik dan benar. Maupun terkait urutan setiap unsur di dalam bagian pendahuluan. Penulisan dengan benar meningkatkan kualitas naskah dan memberi peluang besar diterima publisher. 

sumber: 

  1. Randi Pratama Murtikusuma. [@randipopo]. (2026, Aug 08). Lanjut cara menulis Research Gap pada latar belakang #skripsi…[Foto]. Instagram. https://www.instagram.com/p/DbyVnEvE4Sf/?img_index=1 
  2. Dari research gap hingga tujuan penelitian: inilah tips jitu menulis latar belakang penelitian tesis. (2022). Universitas Brawijaya. Diakses pada 17 Agustus 2026 dari https://ppskomunikasi.ub.ac.id/berita/dari-research-gap-hingga-tujuan-penelitian-inilah-tips-jitu-menulis-latar-belakang-penelitian-tesis/
  3. Mifta. (2025). Menemukan Gap Penelitian untuk Disertasi: Strategi dan Pendekatan Efektif. Diakses pada 17 Agustus 2026 dari https://tesis.id/blog/menemukan-gap-penelitian-untuk-disertasi-strategi-dan-pendekatan-efektif/
  4. Savitri, D. (2023). Latar Belakang Karya Tulis Ilmiah: Fungsi, Aspek hingga Contohnya. Diakses pada 17 Agustus 2026 dari https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6738315/latar-belakang-karya-tulis-ilmiah-fungsi-aspek-hingga-contohnya
Picture of wahyu adji
wahyu adji
Saya merupakan SEO Specialist dan Conten Writer Profesional di bidang pendidikan seputar kampus, mahasiswa dan kedosenan di Parafrase Indonesia

Tinggalkan Balasan