Pada saat menyusun karya tulis panjang seperti buku, maka akan ada pembagian bagian menjadi bab dan sub bab. Penulisan sub bab yang benar tentu penting untuk dipahami. Khususnya saat menyusun buku ilmiah.
Buku ilmiah dan jenis karya tulis ilmiah lain terikat oleh aturan struktur, gaya bahasa, dan sebagainya. Maka ada aturan juga yang berkaitan dengan penulisan bab, sub bab, sampai subsub bab. Berikut penjelasannya.
Baca Juga: Cara Efektif Menurunkan Similarity dan Tips Memilih Jasa Parafrase yang Aman
Daftar Isi
TogglePengertian Bab, Sub bab, dan Sub-sub bab
Memahami penulisan sub bab yang benar, diawali dengan memahami definisi dan fungsinya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bab dalam konteks karya tulis panjang (buku) adalah bagian isi buku.
Karya tulis panjang seperti buku memiliki jumlah kata sampai ribuan bahkan belasan ribu. Praktis, jumlah halamannya pun sangat banyak. Antara puluhan lembar halaman sampai ratusan. Inilah alasan buku-buku di toko buku dan perpustakaan, banyak yang tebal dengan jumlah halaman sampai 300, 500, dan bahkan di atasnya.
Maka untuk meningkatkan keterbacaan seluruh teks di dalamnya, dibagi menjadi beberapa bagian. Bagian-bagian inilah yang disebut sebagai bab pada buku. Sejalan dengan proses penulisan naskah, bab pada buku perlu dibagi lagi menjadi beberapa bagian. Bagian ini yang disebut sub bab.
Dikutip dari salah satu artikel ilmiah yang terbit di jurnal Kutubkhanah, menjelaskan bahwa sub bab adalah bagian-bagian kecil dari bab yang masing-masing mengetengahkan satu pokok bahasan dari keseluruhan isi bab.
sub bab tersebut jika pembahasan cukup banyak, maka dipecah lagi menjadi beberapa bagian yang disebut subsub bab. Subsub bab sendiri adalah bagian-bagian kecil dari sub bab yang setiap satunya menyajikan satu pokok bahasan dari keseluruhan isi sub bab. Subsub bab juga bisa dibagi lagi menjadi subsubsub bab. Begitu seterusnya.
Selain pada buku, pembagian isi menjadi bab, sub bab, subsub bab, dan seterusnya juga pada karya tulis panjang lainnya. Misalnya karya tulis ilmiah seperti tugas akhir mahasiswa. Mencakup skripsi, tesis, dan disertasi.
Baca Juga: 10 Keunggulan Jasa Parafrase Konversi dari Parafrase Indonesia
Fungsi Sub Bab dalam Karya Tulis ilmiah
Tidak semua karya tulis memiliki bentuk panjang seperti tugas akhir dan naskah buku. Maka tidak semua karya tulis akan dibagi menjadi bab, sub bab, dan subsub bab atau seterusnya. Misalnya pada karya ilmiah adalah artikel ilmiah yang diterbitkan di prosiding maupun jurnal. Umumnya tidak ada pembagian bab, melainkan bagian-bagian tertentu.
Sebagian besar artikel pada jurnal menggunakan struktur penulisan IMRad (Introduction (Pendahuluan), Method (Metode), Result (Hasil), and Discussion (Pembahasan)). Pada karya tulis fiksi, contohnya seperti cerpen (cerita pendek). Lalu, apa fungsi dari pembagian dan penulisan sub bab yang benar? Berikut beberapa diantaranya:
1. Mengatur Isi Naskah Buku
Pembagian isi buku ke dalam beberapa bab, sub bab, dan seterusnya memiliki fungsi untuk mengatur isi naskah buku tersebut. Pengaturan ini membuat naskah terlihat rapi dibanding tidak dibagi-bagi menjadi beberapa bab dan sub bab.
Secara umum, keterbacaan suatu naskah akan lebih tinggi jika disusun dalam bentuk pendek-pendek. Mulai dari kalimat pendek, yang cenderung menjadi kalimat efektif.
Kemudian, paragraf pendek, dan isi buku yang tadinya panjang dipecah menjadi beberapa bagian pendek. Yakni bab dan sub bab tadi. Sehingga naskah lebih rapi dan keterbacaannya juga lebih tinggi.
2. Menjaga Alur Logika Penulisan Naskah
Fungsi kedua, pembagian bab ke sub bab dan seterusnya adalah menjaga alur logika penulisan. Jika buku tidak dibagi menjadi beberapa bab dan sub bab. Maka akan menjadi satu bab saja yang cukup atau sangat panjang.
Bagi penulis, mengembangkan naskah buku dalam satu bab saja tentu memusingkan. Menjaga alur tetap sesuai logika juga semakin sulit. Sebaliknya, jika dibagi menjadi bab dan sub bab maka pengembangan naskah lebih mudah.
Yakni bagian per bagian, sehingga penulis bisa mengembangkan setiap bagian dengan lebih terfokus. Kemudian setiap bab dan sub bab bisa diatur agar membentuk alur yang jelas dan sesuai logika.
3. Meningkatkan Keterbacaan Buku
Pembagian isi buku ke dalam penulisan sub bab yang benar dan sesuai kebutuhan juga meningkatkan keterbacaannya. Hal ini sudah disinggung sekilas di poin sebelumnya.
Jika naskah buku disatukan dalam satu bab saja. Maka menjadi karya tulis panjang yang tidak memberi jeda bagi pembaca. Dalam kondisi ini, naskah memiliki keterbacaan yang rendah. Artinya, tidak menarik untuk dibaca dan menyulitkan proses membacanya sendiri.
4. Meningkatkan Pengalaman Pembaca saat Membaca Buku
Membagi isi buku ke dalam beberapa bab, sub bab, subsub bab, dan seterusnya juga memberi pengalaman positif bagi pembaca. Pertama, naskah buku menjadi rapi. Kedua, pembaca diberi jeda sebelum membaca halaman berikutnya.
Sehingga energi tidak habis untuk membaca keseluruhan isi buku. Sebab dibagi-bagi dan membantu pembaca mengatur jeda dan manajemen waktu membaca. Selain itu, dengan membagi beberapa bagian maka lebih enak dibaca. Sekaligus lebih mudah dipahami.
Baca Juga: Panduan Menulis Karya Ilmiah Sesuai Etika Penelitian
5. Menjaga Fokus pada Pembaca
Fungsi pembagian isi buku ke dalam beberapa bagian, yakni bab sampai sub bab dan seterusnya adalah menjaga fokus pembaca. Jika isi buku dikumpulkan menjadi satu bab. Maka pembaca tidak diberi jeda istirahat yang cukup.
Hal ini membuat fokus dan konsentrasi dalam membaca mudah berkurang bahkan hilang. Sebab pembaca kehilangan terlalu banyak energi dan memiliki beban kognitif tinggi dalam memahami isi buku.
Sebaliknya, jika dipecah menjadi beberapa bab dan sub bab maka membantu pembaca fokus di setiap bab dan sub bab tersebut. Sebab membuat buku lebih menarik untuk dibaca dan mudah dipahami penjelasannya.
6. Memudahkan Penyuntingan dan Revisi
Tak hanya memiliki fungsi bagi pembaca dan penulis buku. Pembagian buku menjadi beberapa bab dan sub bab juga memudahkan penyuntingan serta revisi. Baik oleh penulis buku itu sendiri maupun oleh editor dari penerbit buku.
Naskah buku yang dibagi menjadi beberapa bab. Memudahkan penyuntingan bagian per bagian tanpa ada yang terlewat karena keterbacaan tinggi. Pada saat ada bagian yang harus direvisi, penulis bisa fokus di bagian tersebut. Sehingga tidak perlu membaca dari awal untuk menemukan bagian yang dimaksud editor penerbit.
7. Memudahkan dalam Menyusun Daftar Isi
Fungsi lainnya dari penulisan sub bab yang benar saat menyusun naskah buku adalah memudahkan penyusunan daftar isi. Daftar isi memuat daftar bagian dari naskah buku lengkap dengan judul setiap bagian dan nomor halaman lokasinya.
Daftar isi menjadi peta bagi pembaca dan bahkan penulis untuk membaca bagian-bagian tertentu dengan efektif serta efisien. Penyusunannya akan sulit jika isi buku menjadi satu bab. Lain halnya jika dibagi ke beberapa bab dan sub bab, maka daftar isi bisa dibuat panjang ke bawah dan spesifik.
Baca Juga: 100+ Kata Majemuk yang Ditulis Serangkai dan Dipisah
Format Penulisan Bab dan sub bab pada KTI
Hal penting berkaitan dengan penulisan sub bab yang benar adalah format penulisannya. Secara umum, penulisan bab sampai sub bab dan bagian terkecil berikutnya disesuaikan ketentuan format yang ditetapkan. Pada mahasiswa, format ditentukan perguruan tinggi.
Pada dosen, untuk publikasi ilmiah maka format ditentukan penerbit (publisher). Baik penerbit buku maupun pengelola jurnal dan prosiding. Dalam ruang lingkup perguruan tinggi, ada 4 format umum penulisan bab dan sub bab pada karya tulis ilmiah panjang. Yaitu:
1. Penulisan Bab dengan Kombinasi Huruf Kapital yang Dicetak Tebal, Cetak Miring Atau Digaris Bawah
Format penulisan sub bab yang benar mengacu pada penulisan bab dan sub bab beserta penulisan judulnya. Diikuti dengan format penomoran. Format umum pertama di perguruan tinggi adalah kombinasi huruf.
Penulisan bab dan sub bab beserta judulnya menggabungkan kombinasi antara huruf kapital dengan huruf bold (di cetak tebal), cetak miring, atau diberi garis bawah. Secara umum, berikut penjelasan untuk format pertama ini:
- Penulisan bab dan judul menggunakan huruf kapital.
- Penulisan sub bab dan judul menggunakan kombinasi huruf kapital dan huruf kecil.
- Jika ditulis manual dengan tangan, penggunaan huruf dicetak tebal maupun ditulis miring diberi tanda garis bawah.
Supaya tidak bingung, berikut adalah contoh penulisan sub bab yang benar dengan format kombinasi beberapa teknik penulisan yang dimaksud:
BAB II LANDASAN TEORI
(Ditulis seluruhnya dengan huruf kapital, dibuat rata tengah, dan dicetak tebal)
- Konsep Dasar Manajemen (Ditulis dengan kombinasi huruf kapital dan huruf kecil, penomoran memakai huruf kapital, biasanya dicetak tebal).
Teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks.
- Teori Kinerja Pegawai
Teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks.
2. Penomoran dengan Bilangan Desimal
Format penulisan sub bab yang benar berikutnya adalah terkait sistem penomoran. Yakni menggunakan bilangan desimal. Umumnya, bilangan desimal ditandai dengan dua angka yang dipisahkan tanda koma (,). Contoh 2,5.
Pada format penomoran untuk bab, sub bab, dan subsub bab, maupun seterusnya. Maka menggunakan tanda titik (.) untuk memisahkan angka dalam penomoran. Berikut penjelasannya dalam bentuk contoh:
BAB II LANDASAN TEORI
2. Landasan Teori
2.1 Konsep Dasar Manajemen
Teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks.
2.2 Teori Kinerja
2.2.1 Pengertian Kinerja
Teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks.
2.2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja
Teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks.
2.2.3 Indikator Kinerja
Teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks.
2.3 Penelitian Terdahulu
dan seterusnya.
3. Penomoran dengan Kombinasi Angka Romawi, Huruf, dan Angka Arab
Format penulisan sub bab yang benar berikutnya adalah mengkombinasikan antara angka romawi, huruf, dan angka arab. Sehingga membentuk kombinasi untuk 3 jenis huruf maupun angka. Berikut penjelasannya dalam contoh:
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
1. Kondisi Umum
Teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks.
2. Permasalahan Penelitian
Teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks.
B. Rumusan Masalah
1. Identifikasi Masalah
Teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks.
2. Batasan Masalah
Teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks.
C. Tujuan Penulisan
Pada contoh di atas, penulisan nomor bab menggunakan angka romawi. Kemudian judul bab menggunakan huruf kapital seluruhnya. Sementara penomoran sub bab menggunakan huruf kapital dan judul sub bab menggunakan kombinasi huruf kapital dan huruf kecil. Kemudian, penomoran subsub bab menggunakan angka arab.
Baca Juga: Contoh Motivation Letter untuk Beasiswa S2 dan S3
4. Penulisan Bab dengan Kombinasi Huruf dan Angka Arab
Format keempat dalam penulisan sub bab yang benar di dalam KTI untuk ruang lingkup perguruan tinggi adalah mengkombinasikan huruf dan angka arab. Artinya, pada format ini ada kombinasi huruf kapital dengan huruf kecil.
Kemudian untuk penomoran, memakai kombinasi huruf (kapital dan kecil) dan angka arab. Berikut penjelasannya dalam contoh:
BAB I Pendahuluan
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks.
2. Rumusan Masalah
Teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks teks.
3. Tujuan Penulisan
dan seterusnya.
Format penulisan bab dan sub bab yang dijelaskan di atas adalah format umum yang diterapkan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Jadi, format penulisan sub bab yang benar menyesuaikan format yang berlaku. Baik itu ditetapkan perguruan tinggi maupun penerbit.
Bagi para dosen yang kesulitan mengubah struktur bab dan ketentuan format penulisan sub bab yang benar. Tak perlu cemas, karena bisa mengandalkan Layanan Konversi KTI dari Parafrasa Indonesia.
Melalui layanan ini, proses konversi akan dikerjakan tim Parafrase Indonesia yang berpengalaman dan bersertifikat. Hasil konversi menjadi naskah buku dijamin siap terbit. Sekaligus terbit dengan ISBN sesuai ketentuan Ditjen Dikti.
sumber:
- Arnel, I., Irwandra, I., Az-zahra, F., & Nur, S. Format dan Pengaturan Indensi Pecahan Bab Dan Daftar Dalam Paragraf. Kutubkhanah, 22(2). http://dx.doi.org/10.24014/kutubkhanah.v22i2.19153
- Abbadia, J. (2023). How Long Should a Chapter Be? Discover the Optimal Length. Diakses pada 26 Desember 2025 dari https://mindthegraph.com/blog/how-long-should-a-chapter-be/