Melakukan konversi artikel ilmiah menjadi buku siap terbit, bisa menjadi agenda rutin para dosen. Misalnya saat mengoptimalkan capaian luaran dalam kegiatan penelitian. Jadi, tidak hanya publikasi di jurnal. Akan tetapi juga diterbitkan menjadi buku referensi atau monograf.
Proses konversi artikel jurnal menjadi buku, pada tahap awal memang terasa sulit dan rumit. Namun dengan berjalannya waktu, maka akan terasa lebih mudah dan bisa dilakukan berulang kali. Jadi, seperti apa tata caranya? Berikut informasinya.
Baca Juga: Percepat Jabatan Fungsional dengan Konversi KTI
Daftar Isi
ToggleApa Itu Konversi KTI?
Konversi KTI atau konversi karya tulis ilmiah adalah proses mengubah struktur maupun gaya penulisan antara satu jenis KTI ke jenis KTI lainnya. Adapun jenis KTI sendiri cukup beragam seperti artikel ilmiah pada jurnal, buku ilmiah (buku referensi, monograf, dll), makalah, modul, dan lain sebagainya.
Konversi artikel ilmiah adalah proses mengubah struktur maupun gaya bahasa dari artikel ilmiah jurnal menjadi KTI jenis lainnya. Artikel pada jurnal ilmiah umumnya dikonversi para dosen menjadi buku referensi maupun buku monograf.
Konversi artikel jurnal ilmiah menjadi proses konversi yang paling sering dilakukan oleh dosen. Sebab menjadi salah satu upaya meraih luaran tambahan selain luaran wajib dalam penelitian.
Baca Juga: Cara Meningkatkan Angka Kredit Prestasi Melalui Konversi KTI
Mengapa Harus Melakukan Konversi KTI?
Secara umum, berikut beberapa alasan konversi artikel jurnal dilakukan:Â
1. Pembahasan pada Artikel Ilmiah Lebih Terbatas
Alasan yang pertama kenapa konversi karya tulis ilmiah perlu dilakukan dosen adalah untuk memperluas pembahasan. Sehingga bisa lebih detail, rinci, dan juga lebih jelas agar tidak ada pertanyaan lagi dari pembaca.
Hal ini penting karena pembahasan pada artikel jurnal lebih terbatas mengingat jumlah halaman rata-rata 10-15 saja. Sehingga pembahasan dibuat padat dan ringkas, yang kadangkala perlu diperluas dan bisa direalisasikan dosen dengan dikonversi menjadi buku.
2. Hasil Penelitian Perlu Disebarluaskan Seoptimal MungkinÂ
Alasan kedua, hasil kegiatan penelitian idealnya disebarluaskan dan berdampak sebesar mungkin. Jika dipublikasikan ke jurnal saja, maka akan kurang optimal. Maka disarankan untuk disebarluaskan lewat publikasi ilmiah bentuk lainnya. Konversi membantu memperluas penyebaran hasil penelitian tersebut.
3. Menjangkau Pembaca yang Tidak Membaca JurnalÂ
Alasan yang ketiga, karena publikasi hasil penelitian di jurnal tidak bisa menjangkau semua pembaca. Ada banyak pembaca yang tidak terbiasa membaca jurnal, melainkan membaca buku. Jadi, konversi membantu dosen menjangkau semua pembaca dari berbagai kalangan.
4. Konversi Bisa Mendukung Pengembangan Karir DosenÂ
Alasan yang keempat, konversi naskah jurnal menjadi buku bisa mendukung karir akademik dosen. Sebab dari satu kegiatan penelitian, dosen menghasilkan setidaknya 2 bentuk publikasi ilmiah. Keduanya sama-sama memberi tambahan poin angka kredit untuk kenaikan jenjang jabatan akademik.
5. Hasil Penelitian Bisa Menunjang PembelajaranÂ
Alasan lainnya adalah hanya dengan konversi maka hasil penelitian bisa menjadi bahan ajar. Sebab saat diterbitkan menjadi buku maka buku ini bisa dijadikan pegangan dosen saat mengajar. Bisa juga dijadikan pegangan mahasiswa agar lebih mudah mengikuti perkuliahan dan memahami materi secara optimal.
Baca Juga: Penerbit HKI Buku Ber-ISBN Berkualitas dari Karya Tulis Ilmiah
Bagaimana Cara Melakukan Konversi Artikel Ilmiah Menjadi Buku
Setelah memahami apa itu konversi KTI dan alasan atau latar belakang melakukannya. Para dosen tentunya juga perlu memahami bagaimana proses atau tata cara konversi artikel ilmiah menjadi naskah buku siap terbit. Berikut langkah-langkahnya:
1. Melakukan Penyesuaian Struktur PenulisanÂ
Langkah yang pertama dalam proses konversi naskah artikel jurnal menjadi buku adalah penyesuaian pada struktur penulisan. Artinya, dosen perlu memahami apa saja perubahan dalam struktur penulisan.
Secara umum, struktur penulisan artikel jurnal menggunakan format IMRaD (Introduction, Methods, Results, dan Discussion). Sementara struktur penulisan pada naskah buku menggunakan susunan bab, subbab, subsubbab, dan turunannya.
2. Menyusun Outline BukuÂ
Setelah menyusun catatan perubahan struktur penulisan. Maka langkah kedua dalam konversi artikel ilmiah adalah menyusun outline buku. Outline atau kerangka buku menjadi peta jalan yang memudahkan penulisan naskah bab per bab.
Meskipun tanpa outline, menulis naskah buku masih bisa dilakukan. Namun, outline ini berfungsi semacam alat bantu. Sehingga proses menulis lebih efektif dan efisien, serta dijamin terjaga fokusnya pada topik inti pembahasan.
3. Mengatur Jadwal Menulis Sesuai OutlineÂ
Setelah outline buku selesai disusun, maka langkah ketiga dalam proses konversi artikel ilmiah menjadi buku adalah konsisten menulis. Artinya, langkah ketiga adalah menyusun jadwal menulis dan mematuhi jadwal tersebut.
Setiap dosen tentunya punya agenda akademik sendiri-sendiri. Ada yang sangat sibuk, ada yang punya waktu luang lumayan. Maka jadwal harus dibuat personal, silahkan menyesuaikan dengan agenda akademik yang dimiliki.
Baca Juga: 9 Daftar Penerbit Konversi KTI Berkualitas di Indonesia
4. Mengubah JudulÂ
Langkah yang keempat adalah mengubah judul. Perumusan judul buku hasil konversi dilakukan setelah proses konversi selesai dilakukan. Alasannya agar judul bisa mempresentasikan isi buku hasil konversi dengan tepat.
Mengubah judul agar sesuai isi jauh lebih mudah. Dibanding sebaliknya. Jika judul dirumuskan di awal, dan saat naskah dikembangkan ternyata pembahasan lebih banyak di topik yang berbeda.
Mungkin dosen memutuskan merevisi isi. Jadi, untuk efisiensi perumusan judul disarankan di akhir. Judul pada buku harus dibuat lebih menarik dan tidak kaku seperti judul artikel jurnal ilmiah.
5. Melakukan Editing dan PenyuntinganÂ
Setelah selesai merumuskan judul, tahap berikutnya adalah editing dan penyuntingan. Artinya, dosen perlu membaca ulang naskah hasil konversi artikel ilmiah dan mengoreksi saat menemukan kesalahan. Baik itu kesalahan ketik, penggunaan tanda baca, susunan kalimat, dll.
6. Memilih Penerbit dan Mengirimkan Naskah Hasil KonversiÂ
Tahap akhir dalam proses konversi KTI adalah penerbitan. Naskah hasil konversi yang sudah diselesaikan bisa dikirimkan ke penerbit yang tepat dan kredibel. Sehingga peluang naskah diterima dan segera terbit lebih besar. Pengiriman naskah mengikuti ketentuan dari penerbit yang dipilih.
Manfaat Konversi Artikel Ilmiah Menjadi Buku
Melakukan konversi artikel ilmiah menjadi buku memang tidak mudah dan kadang bisa butuh waktu yang lama. Namun, lelah para dosen dalam proses konversi KTI tersebut terbayar dengan beragamnya manfaat yang dirasakan. Diantaranya adalah:
1. Meningkatkan Capaian Luaran PenelitianÂ
Konversi karya tulis ilmiah membantu dosen meningkatkan capaian luaran penelitian. Seperti yang diketahui, kategori luaran penelitian ada 2 jenis. Yakni luaran wajib dan luaran tambahan yang sifatnya opsional.
Dosen mencapai luaran wajib adalah keharusan dan juga menjadi pencapaian atau prestasi. Namun jika ditambah luaran tambahan, maka menjadi pencapaian yang lebih optimal lagi. Konversi memudahkan dosen mencapai luaran tambahan tersebut.
2. Mendukung Perolehan Angka KreditÂ
Publikasi ilmiah pada dasarnya membantu dosen mengembangkan karir akademik. Sebab memberikan tambahan poin angka kredit. Publikasi hasil penelitian membantu dosen menambah poin AK Prestasi.
Jika dosen melakukan konversi, maka dari satu kegiatan penelitian bisa memberikan setidaknya 2 sumber angka kredit. Misalnya publikasi di jurnal sekaligus buku monograf. Dosen pun bisa segera memenuhi AK Kumulatif untuk mengajukan usulan kenaikan jabatan akademik.
3. Mendukung Pemenuhan BKDÂ
Konversi artikel ilmiah sebagai luaran penelitian tak hanya membantu dosen mendapatkan 2 sumber angka kredit. Namun juga membantu dosen memenuhi BKD dengan 2 sumber SKS sekaligus.
Sebab publikasi hasil penelitian dalam jurnal dan buku ilmiah sama-sama diakui dalam pelaporan BKD. Tentunya dengan catatan keduanya memenuhi standar Kemdiktisaintek. Misalnya jurnal tersebut bukan predator dan buku terbit ber-ISBN. Jadi dosen semakin mudah dan cepat memenuhi target 12 SKS dalam BKD.
4. Meningkatkan Dampak Hasil PenelitianÂ
Dosen tentu berharap penelitian yang dijalankan bisa bermanfaat untuk masyarakat luas. Memaksimalkan manfaat tersebut, maka hasil penelitian harus disebarluaskan secara maksimal.
5. Menyediakan Bacaan dan Referensi KredibelÂ
Manfaat konversi karya tulis ilmiah berikutnya adalah bisa menyediakan bahan bacaan dan referensi kredibel kepada masyarakat. Hal ini tentu penting, karena tanpa publikasi yang rutin dna kredibel maka masyarakat kekurangan bacaan.
Dampaknya minat baca masyarakat bisa semakin turun. Oleh sebab itu, publikasi ilmiah dosen sebaiknya tidak hanya pada jurnal dan prosiding. Namun juga rutin menerbitkan buku berisi hasil penelitian. Sehingga ikut berkontribusi menyediakan bacaan dan referensi kredibel kepada masyarakat luas.
6. Berpotensi Memberikan RoyaltiÂ
Manfaat berikutnya, konversi artikel ilmiah menjadi buku membuka potensi royalti bagi dosen. Sebab menerbitkan buku memberi hak ekonomi dalam bentuk royalti pada penulisnya.
Royalti bisa disebut sebagai komisi hasil penjualan buku yang diterima penulis. Sehingga ketika buku sudah terbit dan terjual, maka memberi royalti. Semakin banyak buku yang terjual, semakin besar royalti yang diterima dosen.
Banyaknya manfaat yang diberikan proses konversi artikel ilmiah menjadi buku. Tentunya memberi motivasi bagi para dosen untuk rutin melakukan konversi tersebut. Jika ada keterbatasan waktu dan sumber daya lain. Maka bisa mempertimbangkan jasa konversi KTI profesional dari Parafrase Indonesia.Â
sumber:
- Aribowo, E. K. (2023). Begini Cara Mengubah Hasil Penelitian menjadi Buku dengan 6 Langkah. Diakses pada 2 Juni 2026 dari https://www.erickunto.com/2023/02/begini-cara-mengubah-hasil-penelitian-menjadi-buku-dengan-6-langkah.html
- Mustaming, W. N. (n.d). Manfaat Konversi Karya Tulis Ilmiah (KTI). Diakses pada 2 Juni 2026 dari https://nasmedia.id/blog/manfaat-konversi-karya-tulis-ilmiah-kti/
- Suseno, S., Subyantoro, S., Neina, Q. A., Zuliyanti, Z., Kusrini, E., Septiani, L., … & Hadana, I. N. (2024). Pelatihan Mengonversi Hasil Penelitian Menjadi Buku Dan Artikel Ilmiah Sebagai Upaya Peningkatan Gerakan Sadar Research Literacy Di Sma N 1 Bukateja. Varia Humanika, 5(1), 1-9. https://journal.unnes.ac.id/sju/vh/article/view/76368/26731

