Dalam kegiatan penelitian, dosen maupun mahasiswa tentunya perlu mencari research gap (kesenjangan penelitian). Kesenjangan ini memberi celah atau peluang untuk melanjutkan penelitian tersebut.
Tentunya dengan menentukan strategi agar kesenjangan tersebut bisa ditutup oleh penelitian yang akan dilakukan. Namun, apa itu gap penelitian dan kenapa penting untuk ditemukan? Berikut informasinya.
Baca Juga: Cara Mudah Mencari Research Gap dengan Menggunakan 10 Tools Otomatis
Daftar Isi
TogglePengertian Research Gap
Research gap adalah kesenjangan antara penelitian terdahulu dengan area yang belum ikut diteliti dalam penelitian tersebut. Sehingga masih ada celah yang memungkinkan peneliti di masa sekarang untuk fokus di area yang belum diperhatikan atau tersentuh oleh penelitian sebelumnya.
Adanya kesenjangan penelitian yang tercantum di dalam proposal penelitian, bisa memberi nilai tambah. Penelitian yang diusulkan bisa dinilai layak untuk didukung dan segera dilaksanakan.
Oleh sebab itu, membahas gap penelitian tidak hanya memahami cara menemukannya. Akan tetapi juga bagaimana menuliskannya pada KTI. Sebab bisa meningkatkan peluang proposal penelitian diterima maupun lolos dalam seleksi program hibah.
Fungsi Research Gap dalam Penelitian
Mencari, menemukan, dan menjelaskan research gap tentunya bukan sekadar bagian dari sistematika pelaksanaan penelitian. Gap penelitian sendiri memiliki fungsi yang penting dan membantu menunjang kelancaran penelitian tersebut. Jadi, apa saja fungsi dari kesenjangan penelitian? Fungsi yang dimiliki antara lain:
1. Mengidentifikasi Area yang Belum Diteliti
Fungsi yang pertama dari gap penelitian adalah membantu peneliti mengidentifikasi area yang belum diteliti oleh peneliti sebelumnya. Area ini yang menjadi fokus utama penelitian. Sebab belum diteliti oleh penelitian sebelumnya.
Jika area yang belum diteliti penelitian terdahulu tidak diketahui oleh peneliti di masa sekarang. Maka tentunya memberi risiko area yang sama diteliti kembali. Hal ini akan menciptakan redudansi atau pengulangan penelitian.
2. Mendorong Penelitian yang Orisinil dan Punya Novelty
Fungsi research gap yang kedua dalam research (penelitian) adalah mendorong penelitian tetap orisinil. Sekaligus mampu menjalankan penelitian yang memiliki novelty (kebaruan). Meskipun mendorong kebaruan, tetapi research gap memiliki perbedaan dengan novelty.
Jika peneliti tidak melakukan identifikasi gap penelitian, maka ada kemungkinan mengulangi penelitian terdahulu. Penelitian tersebut menjadi tidak orisinil, karena sama artinya menjiplak penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya.
3. Research Gap Menjadi Fokus Utama Penelitian
Fungsi ketiga dari research gap adalah menjadi fokus utama dalam penelitian. Penelitian sendiri sama seperti menulis buku. Satu judul buku akan fokus membahas satu topik secara mendalam.
Penelitian pun sama, fokus utamanya satu. Jadi, dalam satu penelitian hanya ada satu topik yang akan diteliti. Kemudian agar terfokus, ditetapkan rumusan masalah yang membantu menciptakan batasan masalah yang diteliti.
4. Membantu Menyempurnakan Teori Ilmu Pengetahuan
Fungsi keempat dari research gap dalam penelitian adalah membantu menyempurnakan teori dalam ilmu pengetahuan. Fungsi ini terpenuhi melalui area penelitian yang berbeda dengan penelitian lain.
Sehingga temuan penelitian juga berbeda satu sama lain. Pada akhirnya, penelitian di topik yang sama menghasilkan temuan yang saling melengkapi. Jika menghasilkan teori baru mengenai suatu fenomena. Maka gap penelitian membantu menyempurnakan teori, karena sudah semakin lengkap.
5. Membantu Memudahkan Pelaksanaan Penelitian
Fungsi kelima dari research gap atau gap penelitian adalah membantu peneliti dalam melaksanakan penelitian itu sendiri. Bagaimana hal ini dapat terjadi? Adanya gap penelitian membantu peneliti merancang penelitian dengan lebih baik.
Mulai dari menentukan tujuan penelitian, rumusan masalah, metode penelitian, serta membantu menentukan penentuan target luaran yang tepat. Sebab dengan fokus penelitian yang sudah jelas, maka merancang seluruh tahapan penelitian menjadi lebih mudah.
Baca Juga:
- 7 Cara Menyusun Buku Referensi dari Menggabungkan Artikel Jurnal Ilmiah
- Cara Menulis Buku Referensi Tanpa Harus Riset Ulang
- Panduan Menyusun Buku Ajar Berbasis OBE
Jenis-Jenis Research Gap
Setiap penelitian akan fokus pada satu area dan mengabaikan area lainnya. Otomatis, setiap penelitian punya research gap dan jenisnya beragam. Berikut penjelasannya:
1. Theoretical Gap
Jenis gap penelitian yang pertama adalah theoretical gap atau kesenjangan teori. Kesenjangan teori adalah kondisi dimana penelitian terdahulu memiliki area yang belum diteliti karena belum ada teori yang sesuai.
Teori tersebut belum ada umumnya karena belum ada penelitian yang menghasilkan teori tersebut. Namun setelah 5 tahun atau 10 tahun berikutnya, teori semakin lengkap. Sehingga penelitian sebelumnya punya gap dari aspek teori dan membantu dilanjutkan.
2. Empirical Gap
Empirical gap (kesenjangan empiris) kondisi dimana penelitian terdahulu memiliki area yang belum diteliti karena belum ada data empiris yang sesuai atau yang mendukung.
Sehingga peneliti belum memfokuskan area tersebut dan memilih fokus ke area yang sudah ada bukti empiris. Gap ini kemudian mendorong peneliti di era sekarang melanjutkan penelitian di area yang diabaikan karena sudah ada data empiris yang sesuai.
3. Methodological Gap
Methodological gap (kesenjangan metode) adalah kondisi dimana penelitian terdahulu memiliki area yang belum diteliti karena belum ada atau memilih fokus di satu metode penelitian dan tidak menggunakan metode penelitian lainnya.
Sehingga peneliti fokus pada satu metode penelitian, sedangkan metode penelitian lainnya diabaikan sebagai batasan masalah yang diteliti. Kondisi ini menciptakan celah yang mendukung penelitian lanjutan menggunakan metode penelitian yang diabaikan tersebut.
Contoh: penelitian ada topik A di 5 tahun yang lalu diteliti dengan metode kualitatif. Sehingga belum ada penelitian di topik A yang menggunakan metode kuantitatif. Celah ini mendorong penelitian baru dengan metode kuantitatif.
4. Population Gap
Population gap (kesenjangan populasi) adalah kondisi dimana penelitian terdahulu memiliki area yang belum diteliti karena tidak meneliti populasi lain yang relevan. Sehingga menciptakan celah untuk peneliti masa sekarang fokus ke populasi lain tersebut.
Contoh: peneliti sebelumnya meneliti dampak penggunaan AI bagi pelajar sekolah. Sehingga belum meneliti dampaknya bagi mahasiswa. Sebab siswa dan mahasiswa adalah populasi penelitian yang sama-sama akrab atau sering menggunakan teknologi AI.
Celah ini membantu peneliti di masa sekarang menganalisis populasi lain yang relevan. Sehingga fokus di populasi tersebut dan membedakannya dengan penelitian sebelumnya, meski topik penelitian sama.
5. Evidence Gap
Jenis research gap yang kelima adalah evidence gap (kesenjangan bukti). Kesenjangan bukti adalah kondisi dimana penelitian terdahulu memiliki hasil penelitian atau temuan yang berbeda meski meneliti topik yang sama.
Contoh: peneliti A meneliti dampak penggunaan media sosial yang cenderung positif. Temuannya mendapati media sosial bisa membantu meningkatkan kesehatan mental karena bisa menjadi sarana hiburan.
Namun, di tahun berikutnya peneliti B menemukan temuan yang kontradiktif atau berseberangan. Penggunaan media sosial justru memperburuk kesehatan mental. Salah satunya karena potensi menjadi korban verbal bullying dari warganet.
Adanya temuan-temuan atau bukti-bukti yang berseberangan dari beberapa penelitian terdahulu tersebut. Kemudian menciptakan celah yang mendorong peneliti masa sekarang melakukan penelitian serupa.
6. Knowledge Gap
Jenis keenam adalah knowledge gap (kesenjangan pengetahuan). Kesenjangan pengetahuan adalah kondisi dimana penelitian terdahulu memiliki area yang belum diteliti karena belum ada pengetahuan mengenai area tersebut.Â
Contoh: penelitian mengenai metode pembelajaran jarak jauh (pembelajaran daring). Pada 10 tahun yang lalu, penelitian terkait metode pembelajaran ini belum pernah ada. Sebab memang belum ada pengetahuan bagaimana dijalankan, tidak ada data efek ketika diterapkan, dll.
Baca Juga: Panduan Menulis Buku Ajar untuk Mahasiswa S1
Tata Cara Menuliskan Research Gap pada KTI
Setelah mencari research gap dalam penelitian, langkah selanjutnya yaitu mencantumkan secara jelas di dalam naskah KTI yang berkaitan dengan penelitian. Misalnya saja pada proposal penelitian, laporan penelitian, artikel jurnal jika luaran berbentuk publikasi di jurnal ilmiah, dll.
Jadi, dosen maupun para peneliti juga harus memahami bagaimana tata cara menuliskan gap penelitian tersebut di dalam proposal penelitian maupun KTI lainnya. Berikut langkah-langkah atau tata caranya:
1. Buka dengan Menjelaskan Fenomena atau Topik Penelitian
Tahap yang pertama, peneliti (penulis) perlu membuka penjelasan dengan memaparkan fenomena atau masalah yang menjadi topik penelitian. Misalnya menjelaskan data yang menjelaskan suatu fenomena tersebut.
Pembuka ini penting untuk menjelaskan dari awal topik apa yang diteliti dan kenapa memiliki urgensi untuk segera diteliti. Fenomena ini yang mendorong peneliti melakukan kajian pustaka untuk mengidentifikasi ada tidaknya gap penelitian di penelitian sebelumnya.
2. Menjelaskan Hasil dari Beberapa Penelitian Terdahulu
Tahap kedua, setelah menjelaskan suatu fenomena maka disusul dengan memaparkan beberapa penelitian terkait fenomena tersebut. Jelaskan penelitian tersebut judulnya apa, dilakukan peneliti siapa, dan dijalankan pada tahun berapa.
3. Jelaskan Keterbatasan atau Masalah dari Penelitian Terdahulu
Setelah memaparkan beberapa penelitian di topik serupa, maka jelaskan juga keterbatasannya apa. Setiap penelitian memiliki kekurangan sebagai efek dari batasan masalah yang diteliti. Jadi, jelaskan kelemahan atau kekurangan tersebut di dalam KTI.
4. Nyatakan Research Gap Secara Tersurat (Langsung)
Tahap keempat, penulis bisa langsung menjelaskan secara tersurat research gap yang berhasil diidentifikasi. Jelaskan bentuk dan jenis gap penelitian tersebut secara langsung. Berikut contohnya:
Belum banyak penelitian yang menjelaskan bagaimana intensitas penggunaan AI mempengaruhi kemampuan berpikir kritis mahasiswa, khususnya pada konteks pembelajaran di perguruan tinggi. Kondisi tersebut menunjukkan adanya research gap berupa keterbatasan kajian mengenai hubungan antara intensitas penggunaan AI dan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.
5. Hubungkan dengan Penelitian yang Dijalankan
Tahap akhir, adalah menghubungkan gap penelitian yang berhasil diidentifikasikan tersebut dengan penelitian yang akan dilakukan. Sehingga menjelaskan gap tersebut menjadi alasan kenapa penelitian yang dimiliki perlu dilakukan.
Misalnya pada contoh di atas, ditambahkan kalimat yang menjelaskan pentingnya penelitian lanjutan dilakukan. Berikut bentuknya:
Belum banyak penelitian yang menjelaskan bagaimana intensitas penggunaan AI mempengaruhi kemampuan berpikir kritis mahasiswa, khususnya pada konteks pembelajaran di perguruan tinggi. Kondisi tersebut menunjukkan adanya research gap berupa keterbatasan kajian mengenai hubungan antara intensitas penggunaan AI dan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh intensitas penggunaan AI terhadap kemampuan berpikir kritis mahasiswa.
Contoh Penulisan Research Gap pada KTI
Membantu lebih mudah dan tepat dalam menuliskan research gap di dalam KTI. Maka berikut adalah beberapa contoh penulisannya yang bisa dijadikan referensi:
Contoh Research Gap 1

Contoh Research Gap 2

Identifikasi research gap merupakan hal krusial dalam penelitian. Khususnya pada topik penelitian yang juga sudah pernah diteliti oleh dosen maupun peneliti lain sebelumnya. Gap ini kemudian dijelaskan secara rinci di dalam naskah KTI. Sehingga peneliti bisa menjelaskan kenapa penelitian yang diajukan layak disetujui dan dijalankan.
Gap ini juga harus ditulis kembali di dalam laporan penelitian hingga luaran penelitian berbentuk publikasi ilmiah. Sehingga gap dan novelty pada penelitian bisa diketahui oleh semua pembaca.
sumber:
- Aziz, A. (2026). Research Gap : Pengertian, Fungsi, dan Korelasinya dengan Novelty Penelitian. Diakses pada 16 Agustus 2026 dari https://duniadosen.com/riset/research-gap-pengertian-fungsi-dan-korelasinya-dengan-novelty-penelitian/
- Wibowo, A. (2025). Research Gap: Pengertian, Fungsi, Jenis, dan Contohnya dalam Penelitian. Diakses pada 16 Agustus 2026 dari https://tsurvey.id/portal/research-gap-pengertian-fungsi-jenis-dan-contohnya-dalam-penelitian
- Mifta. (2025). Menemukan Gap Penelitian untuk Disertasi: Strategi dan Pendekatan Efektif. Diakses pada 16 Agustus 2026 dari https://tesis.id/blog/menemukan-gap-penelitian-untuk-disertasi-strategi-dan-pendekatan-efektif/
- Pujiati. (2025). Cara Menuliskan Research Gap dan Novelty di Tulisan Ilmiah. Diakses pada 16 Agustus 2026 dari https://duniadosen.com/informasi/cara-menuliskan-research-gap-dan-novelty/
- Randi Pratama Murtikusuma. [@randipopo]. (2026, Aug 08). Lanjut cara menulis Research Gap pada latar belakang #skripsi…[Foto]. Instagram. https://www.instagram.com/p/DbyVnEvE4Sf/?img_index=1
- Cara Mencari GAP Penelitian (Research Gap) untuk Menemukan Kebaruan Skripsi. (2026). Masoem University. Diakses pada 16 Agustus 2026 dari https://masoemuniversity.ac.id/artikel/cara-mencari-gap-penelitian-research-gap-untuk-menovukan-kebaruan-skripsi/

