Salah satu kunci penting untuk memastikan penelitian yang dilakukan berbeda dengan penelitian sebelumnya, adalah menemukan research gap atau gap penelitian. Secara umum, research gap terbagi dalam 7 jenis. Salah satunya adalah knowledge gap (kesenjangan pengetahuan).
Kesenjangan pengetahuan menjadi jenis research gap yang bisa dipilih oleh peneliti. Sehingga bisa menjelaskan perbedaan penelitian yang dilakukan dengan penelitian terdahulu yang memiliki kekurangan, kelemahan, atau keterbatasan dari segi pengetahuan (teori suatu fenomena). Berikut informasinya.
Baca Juga: 7 Cara Mencari Research Gap dalam Sebuah Karya Tulis Ilmiah
Daftar Isi
ToggleApa Itu Knowledge Gap dalam Penelitian?
Knowledge gap (kesenjangan pengetahuan) dalam konteks kegiatan penelitian adalah celah kesenjangan penelitian yang disebabkan adanya pengetahuan (ilmu pengetahuan teori maupun ilmu praktik) yang belum tersedia ketika penelitian dilaksanakan (dijalankan).
Ada banyak penelitian yang menghasilkan teori baru. Penelitian sebelum teori baru tersebut ditemukan, bisa menciptakan kesenjangan pengetahuan. Sehingga mendorong peneliti masa kini untuk melanjutkan penelitian tersebut. Knowledge Gap termasuk contoh dari research gap yang digunakan penulis.
Hal-Hal yang Menyebabkan Knowledge Gap
Kesenjangan pengetahuan atau knowledge gap, tidak selalu karena belum ada teori baru mengenai suatu fenomena. Bisa juga karena batasan penelitian terdahulu, keterbatasan akses referensi dari peneliti, dan sebab lainnya. Berikut penjelasan detailnya:Â
1. Belum Ada Teori pada Fenomena BaruÂ
Setiap tahunnya, atau bahkan setiap saat akan ada banyak perubahan dalam kehidupan manusia. Sehingga memunculkan fenomena-fenomena baru. Fenomena baru ini belum tentu sudah ada dari lama.
Sehingga penelitian terdahulu belum mengenal fenomena tersebut dan tidak ada teori yang membahasnya. Kondisi ini yang membuat kesenjangan pengetahuan pada penelitian bisa terjadi. Â
2. Pesatnya Perkembangan IptekÂ
Iptek mengalami perkembangan sangat pesat. Seperti perkembangan versi Android pada smartphone, setiap 3 bulan sekali atau lebih sedikit akan dirilis versi terbaru. Belum lagi dengan teknologi lainnya seperti jaringan internet, teknologi AI, dan sebagainya.
Perkembangan iptek yang sangat cepat tersebut tentunya tidak mudah diikuti oleh Anda dan peneliti lainnya. Sehingga penelitian yang dilakukan bisa saja belum atau tidak memungkinkan untuk memahami teori-teori baru.
3. Efek dari Batasan Masalah yang Ditetapkan PenelitiÂ
Dalam kegiatan penelitian, setiap peneliti melakukan batasan masalah. Sehingga menjaga penelitian yang dilakukan tetap fokus pada satu masalah atau fenomena. Hal ini membuat penelitian lebih mudah dilakukan serta mendukung efisiensi sumberdaya.
Sebab semakin spesifik fokus penelitian, semakin mudah mengelola sumberdaya. Misalnya saja, batasan masalah dari segi populasi penelitian dengan menentukan sampel penelitian.
Sehingga tidak perlu mengamati seluruh individu pada populasi, tapi fokus ke sampel penelitian yang sudah dipilih. Pembatasan ini membantu peneliti menghemat sumber daya waktu, tenaga, dan biaya.Â
4. Keterbatasan Akses Referensi Skala Lebih LuasÂ
Hal keempat yang juga bisa menyebabkan knowledge gap pada penelitian adalah keterbatasan akses referensi. Referensi dibutuhkan untuk menunjang kelancaran penelitian dari tahap awal sampai tahap akhir.
Misalnya, dalam menentukan topik penelitian Anda tentu butuh referensi berisi hasil penelitian dengan topik yang sama. Disusul kebutuhan referensi untuk menyusun proposal penelitian, laporan penelitian, dan KTI untuk luaran berbentuk publikasi ilmiah.
Sayangnya referensi ilmiah yang kredibel tidak selalu open access. Banyak juga yang close access sehingga membuat Anda dan peneliti lainnya harus keluar biaya. Kadang kala tidak ada biaya yang memadai, sehingga ada keterbatasan akses.
5. Adanya Kebijakan dan Program Baru dari PemerintahÂ
Kebijakan dan program pemerintah terus mengalami perubahan. Setiap tahunnya, kebijakan baru dan program baru bisa diluncurkan oleh pemerintah. Baik itu pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
Kebijakan dan program pemerintah ini juga menciptakan fenomena hingga masalah baru. Sehingga menjadi topik baru untuk diteliti yang tidak dibahas penelitian sebelumnya karena memang belum ada saat penelitian dijalankan. Â
Baca Juga:
- Cara Menulis Buku Monograf dari Karya Ilmiah Sampai Terbit
- Format Buku Monograf dan Aturan Penulisan yang Sesuai Standar DIKTI
- 9 Kesalahan Dosen dalam Menyusun Buku Monograf
Tata Cara Menganalisis atau Menemukan Knowledge Gap
Pertanyaannya, bagaimana peneliti atau akademisi bisa menemukan kesenjangan pengetahuan pada penelitian sebelumnya? Berikut detail tata cara menemukannya:
1. Menentukan Topik PenelitianÂ
Tahap pertama dalam menemukan kesenjangan pengetahuan adalah menentukan dulu topik penelitian. Topik penelitian bisa berbentuk fenomena baru yang memunculkan pertanyaan dan perlu dicari jawabannya melalui penelitian.
Bisa juga dalam bentuk masalah yang harus dicari solusinya lewat penelitian. Topik yang akan diteliti tentunya harus relevan dengan kepakaran atau bidang keilmuan yang ditekuni.
2. Mencari Penelitian Terdahulu pada Topik yang SamaÂ
Setelah menentukan topik penelitian, tahap kedua adalah mencari penelitian terdahulu pada topik tersebut. Ada kemungkinan, topik yang dipilih belum pernah diteliti sebelumnya. Namun, bisa juga sudah diteliti berulang kali.
Lakukan batasan pada tahun penelitian terdahulu. Misalnya penelitian topik yang sama pada 10 tahun terakhir, 5 tahun terakhir, atau sesuai pertimbangan. Sebab yang menjadi acuan adalah penelitian sebelumnya tapi tidak terpaut terlalu jauh dengan tahun sekarang.
Sebab biasanya, penelitian rutin dilakukan dan dalam satu tahun topik yang sama bisa diteliti lebih dari 2 peneliti. Jadi untuk efisiensi waktu dan sumberdaya lain, membatasi tahun penelitian terdahulu sangat dianjurkan.
3. Melakukan Pemetaan Penelitian TerdahuluÂ
Tahap ketiga, melakukan pemetaan penelitian terdahulu yang berhasil ditemukan pada tahap sebelumnya. Misalnya mengumpulkan penelitian-penelitian tersebut. Kemudian membuat tabel untuk mengetahui fokus utama masing-masing penelitian.
Melalui pemetaan ini, maka akan memudahkan mengetahui ada tidaknya knowledge gap pada penelitian terdahulu tersebut. Bisa juga membantu menemukan gap penelitian jenis lainnya.
4. Fokus pada Ilmu Pengetahuan yang Belum Diketahui Peneliti TerdahuluÂ
Tahap keempat, Anda bisa fokus pada ilmu pengetahuan baik itu teori maupun praktik yang belum diketahui peneliti terdahulu. Jadi, dari hasil pemetaan Anda bisa fokus mencari penelitian mana yang ada kesenjangan pengetahuan.
Sesuai penjelasan sebelumnya, kesenjangan pengetahuan bisa berupa penelitian yang belum mengenal teori baru. Namun, bisa juga ada teori yang menjadi fokus utama sehingga teori lain yang berkaitan diabaikan peneliti terdahulu.
5. Memastikan Knowledge Gap Tersebut Memang Ada dan Bisa DibuktikanÂ
Tahap berikutnya, Anda perlu memastikan kesenjangan pengetahuan tersebut memang ada. Sekaligus bisa dibuktikan. Sebab kesenjangan ini perlu dicantumkan dan dijelaskan secara rinci di seluruh KTI dalam penelitian. Mulai dari proposal penelitian, laporan penelitian, hingga naskah KTI untuk luarannya.
Bisa membuat catatan dulu dan berisi perkembangan topik yang dipilih. Kemudian, jelaskan kesenjangan di penelitian-penelitian terdahulu tersebut. Baru kemudian menjelaskan bagaimana penelitian yang akan Anda lakukan bisa mengatasi atau menutup kesenjangan pengetahuan tersebut.
Baca Juga: Tips Menemukan Research Gap dengan Open Knowledge Maps
Perlukan Peneliti Mencegah Munculnya Knowledge Gap?
Pada penelitian terbaru yang Anda lakukan di masa sekarang. Pada dasarnya juga bisa memunculkan knowledge gap dan bisa diketahui oleh peneliti berikutnya. Hal ini lumrah, karena kesenjangan pengetahuan bisa muncul karena belum ada teori tertentu saat penelitian dilakukan.
Selain itu, bisa juga karena saat penelitian tersebut Anda jalankan belum ada perubahan kebijakan dari pemerintah. Jadi, ada banyak sebab yang membuat penelitian Anda juga memiliki kesenjangan pengetahuan.
Lalu, perlukah dicegah? Secara umum, penelitian dijalankan dengan batasan masalah yang sudah ditetapkan. Jadi, batasan ini selain mencegah penelitian Anda melebar kemana-mana. Juga menjelaskan keterbatasan (kesenjangan) penelitian yang dilakukan.
Secara alami, kesenjangan pada penelitian tidak bisa dicegah 100%. Selain itu, peneliti, termasuk juga Anda tidak perlu berusaha keras mencegah kesenjangan. Sebab kesenjangan ini lumrah dan justru mendorong penelitian lebih lanjut.
Contoh Knowledge Gap dalam Penelitian
Membantu lebih memahami apa itu knowledge gap pada penelitian dan memudahkan dalam menemukannya. Maka berikut beberapa contoh yang bisa dijadikan referensi:Â
1. Contoh Knowledge Gap 1
Fenomena work from home membuat sebagian pekerja mampu bekerja lebih fleksibel dan produktif. Sementara itu, sebagian lainnya justru mengalami kesulitan dalam menjaga batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Meskipun fenomena tersebut telah banyak diamati, belum tersedia teori yang secara komprehensif menjelaskan mengapa fleksibilitas kerja menghasilkan dampak yang berbeda pada kelompok pekerja yang berbeda.
Keterbatasan penjelasan teoritis tersebut dapat menjadi knowledge gap. Sehingga kemudian mendorong penelitian lanjutan untuk membangun atau mengembangkan kerangka teori baru.
2. Contoh Knowledge Gap 2
Munculnya influencer virtual berbasis AI merupakan fenomena baru dalam komunikasi digital. Masyarakat mulai berinteraksi dengan tokoh virtual yang tidak memiliki identitas manusia nyata, tetapi dapat membangun pengikut dan mempengaruhi perilaku mereka.
Teori komunikasi dan pemasaran yang ada telah menjelaskan hubungan antara manusia, influencer, dan audiens. Aka tetapi belum sepenuhnya menjelaskan bagaimana hubungan antara audiens dan influencer yang sepenuhnya dihasilkan oleh AI. Keterbatasan teori ini menjadi kesenjangan pengetahuan.
Melalui penjelasan rinci mengenai apa itu knowledge gap atau kesenjangan pengetahuan dalam penelitian. Maka bisa menjadi motivasi untuk menjadikan gap penelitian ini sebagai pilihan. Sehingga menunjang kelancaran penelitian Anda.
sumber:
- Rahardjo, M. (2024). Apa itu research gap, state of the arts dan novelty dalam penelitian? https://repository.uin-malang.ac.id/19278/1/19278.pdfÂ
- Qurotianti, A. (2024). Tujuh Jenis Research Gaps untuk Membangun Penelitian yang Relevan dan Berdampak. Diakses pada 15 Agustus 2026 dari https://library.umy.ac.id/menggali-7-research-gaps-untuk-membangun-penelitian-yang-relevan-dan-berdampak/
- Cara Mencari GAP Penelitian (Research Gap) untuk Menemukan Kebaruan Skripsi. (2026). Masoem University. Diakses pada 15 Agustus 2026 dari https://masoemuniversity.ac.id/artikel/cara-mencari-gap-penelitian-research-gap-untuk-menovukan-kebaruan-skripsi/

