Tahukah Anda bahwa terdapat hal-hal yang tidak perlu ditulis dalam penulisan daftar pustaka? Penting bagi Anda untuk mengetahui informasi ini agar tidak melakukan kesalahan ketika menyusun karya tulis ilmiah.
Apa saja hal-hal yang tidak perlu ditulis dalam penulisan daftar pustaka tersebut? Simak ulasan lengkap Parafrase Indonesia dalam artikel berikut ini!
Daftar Isi
ToggleApa Itu Daftar Pustaka?
Daftar pustaka merupakan daftar sumber referensi yang digunakan pada suatu karya tulis ilmiah. Sumber tersebut yaitu seperti jurnal, artikel, buku maupun video berita.
Daftar pustaka umumnya terletak pada bagian paling akhir halaman setelah keseluruhan karya ilmiah selesai tersusun. Daftar pustaka tersusun untuk dapat memberikan pemahaman sumber-sumber proses penulisan pada suatu penelitian.
Daftar pustaka sangat berguna untuk membantu mengetahui kredibilitas dan juga kualitas sumber informasi pada suatu karya tulis ilmiah. Pembaca nantinya bisa merujuk pada referensi yang ada pada daftar pustaka untuk pembacaan yang lebih mendalam mengenai topik terkait.
Baca Juga: Cara Mengurutkan Daftar Pustaka Sesuai Abjad di MS Word
Hal yang Tidak Perlu Ditulis dalam Penulisan Daftar Pustaka
Penulisan daftar pustaka memang tidaklah mudah. Terdapat beberapa ketentuan yang harus penulis ikuti sehingga mampu menyusun daftar pustaka otomatis yang tepat sesuai dengan sumber informasi yang mereka dapatkan.
Dalam penulisan daftar pustaka terdapat beberapa hal yang tidak perlu penulis masukan pada proses penyusunan. Berikut ini adalah beberapa hal yang tidak perlu ditulis dalam penulisan daftar pustaka.
1. Nama yang Tidak Relevan
Nama merupakan hal yang penting pada penulisan daftar pustaka. Walaupun begitu, tidak semua informasi mengenai nama harus dimasukkan. Nama panggilan para penulis tidak sepatutnya dicantumkan pada daftar pustaka.
Nama penulis secara lengkap juga tidak perlu dicantumkan secara penuh pada daftar pustaka. Contohnya yaitu ketika mengutip sumber dari penulis bernama Jeje Andi Wirawan, maka penulisan menggunakan gaya APA akan berupa “Wirawan, J.A.” saja.
2. Nama Penulis dan Juga Gelar Akademis
Kesalahan umum dalam penulisan daftar pustaka yaitu menyertakan nama penulis dengan mencantumkan gelar yang berlebihan di dalamnya. Nama penulis merupakan suatu elemen penting pada penulisan daftar pustaka.
Penulisan gelar seperti Dr., Prof., S.Pd., atau M.Hum. tidak relevan untuk identifikasi sumber informasi pada daftar pustaka. Informasi seperti nama panggilan atau gelar secara keseluruhan tidak perlu disertakan.
3. Penulisan Nomor Urut
Anda juga tidak perlu menuliskan nomor urut dalam penulisan daftar pustaka. Hal ini tentu berbeda jika Anda menggunakan catatan kaki dalam penulisan yang diurutkan dengan nomor urut dari awal hingga akhir.
Secara umum, gaya atau format penulisan daftar pustaka, seperti APA, MLA, dan lainnya diurutkan berdasarkan alfabetis dari sumber yang digunakan.
Baca Juga: Cara Menulis Daftar Pustaka dari Internet
4. Nama Editor
Hal yang tidak perlu ditulis dalam penulisan daftar pustaka yang selanjutnya yaitu mencantumkan nama editor dari sumber buku atau jurnal. Pada suatu karya tulis ilmiah umumnya akan ada nama editor pada karya tersebut.
Editor merupakan pihak yang menyunting buku tersebut hingga dapat diterbitkan pada penerbit. Penulisan editor tidak diperlukan pada format daftar pustaka.
Penulis hanya perlu mencantumkan nama pengarangnya saja. Walaupun begitu terdapat beberapa kasus di mana penulis dapat mengutip nama editor. Contohnya yaitu ketika mengutip buku kolektif yang dikerjakan oleh banyak penulis sekaligus.
5. Keterangan Penulisan atau Penilaian
Terkadang sebuah buku juga mencantumkan keterangan penulisan di dalamnya. Keterangan penulisan ini biasanya memberikan daya tarik dan nilai tambah dari buku tersebut untuk menarik minat para pembaca.
Namun keterangan penulisan ini tidak perlu Anda cantumkan dalam penulisan daftar pustaka. Pada dasarnya, daftar pustaka bertujuan untuk menunjukkan sumber rujukan apa saja yang Anda gunakan dalam proses penulisan, bukan memberikan penilaian dari karya tulis ilmiah tersebut.
Dengan demikian, para pembaca bisa mengetahui secara jelas sumber apa saja yang Anda gunakan dalam penulisan. Jadi keterangan penulisan atau penilaian, seperti, “buku ini sangat dihargai oleh para ahli di bidangnya,” dan lainnya tidak perlu dicantumkan di bagian daftar pustaka.
Parafrase Indonesia memiliki E-Book Anti Plagiarisme yang dapat membantu anda menghindari plagiarisme yang sering terjadi saat penulisan artikel jurnal ilmiah
6. Badan Hukum Penerbit
Informasi selanjutnya tidak perlu ditampilkan pada daftar pustaka yaitu badan hukum dari penerbit buku. Badan hukum seperti perseroan terbatas atau persekutuan komanditer tidak perlu ditunjukkan pada daftar pustaka.
Adanya badan hukum menunjukkan bahwa publikasi tersebut merupakan publikasi yang terpercaya karena memiliki badan hukum resmi. Walaupun begitu memasukkan badan hukum pada daftar pustaka tidaklah penting. Yang perlu dimasukkan hanyalah nama dari penerbit saja.
7. Edisi atau Cetakan
Dalam beberapa kasus, sebuah buku bisa saja dicetak dalam beberapa edisi dan cetakan yang berbeda. Adanya penambahan edisi atau cetakan ini biasanya dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti penjualan buku yang laku di pasaran hingga adanya perbaikan teknis dalam penulisan.
Pada penulisan daftar pustaka, Anda sebenarnya tidak perlu menuliskan edisi atau cetakan dari buku yang digunakan. Apalagi jika buku tersebut dicetak ulang karena memang laku di pasaran.
Namun dalam kondisi tertentu Anda tetap bisa mencantumkan edisi dari buku ini dalam daftar pustaka. Misalnya jika buku tersebut dicetak ulang karena ada perubahan dan perbaikan, khususnya di bagian pembahasan, maka Anda bisa mencantumkan cetakan atau edisinya dalam daftar pustaka.
8. Nomor ISBN
ISBN atau International Standard Book Number merupakan deretan 13 digit angka yang menjadi identitas dari sebuah buku. Setiap buku biasanya memiliki nomor ISBN yang berbeda-beda antara satu sama lain.
Meskipun menunjukkan identitas dari sebuah buku, nomor ISBN ini tidak perlu Anda masukkan ke dalam daftar pustaka. Sebab fungsi dari nomor ISBN ini tidak relevan dengan tujuan dibuatnya daftar pustaka dalam sebuah karya tulis ilmiah.
Nomor ISBN biasnaya digunakan sebagai pengidenfikasian buku yang berkaitan dengan hal administratif, seperti katalogisasi, penataan, dan lainnya. Hal ini tentu berbeda dengan fungsi dari daftar pustaka yang menunjukkan secara jelas sumber rujukan yang digunakan dalam penulisan.
9. Judul Sumber dalam Bahasa Asli
Hal-hal terakhir yang tidak perlu ditulis dalam penulisan daftar pustaka adalah judul sumber dalam bahasa asli. Etika menggunakan sumber rujukan yang sudah dialih bahasakan ke dalam bahasa Indonesia, sebaiknya tidak perlu menggunakan judul sumber pada bahasa asli.
Cantumkan judul terjemahan karya tersebut pada daftar pustaka. Penulis bisa mencantumkan sumber asli dari karya tersebut jika belum ada versi terjemahan.
Misalnya, ketika Anda mengutip buku M. C. Ricklefs yang berjudul Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, maka bisa langsung menuliskan judul buku tersebut dalam versi terjemahannya, bukan A History of Modern Indonesia Since C.1200.
Baca Juga: Cara Membuat Daftar Pustaka dari Mendeley
Hal yang Diperbolehkan dalam Penulisan Daftar Pustaka
1. Nama penulis dalam jumlah lebih dari tiga
Nama penulis merupakan suatu komponen yang penting dalam penulisan daftar pustaka. Umumnya nama penulis akan dimulai dari nama belakang atau marga kemudian lanjutkan dengan nama depan.
Ketika penulis terdiri dari beberapa orang yang jumlahnya lebih dari 3, penulisan daftar pustaka dapat menggunakan salah satu nama saja kemudian di belakangnya diikuti ‘et.al’. Kalau terdapat dua penulis, maka penulisan daftar pustaka dilakukan secara lengkap.
2. Tahun terbit, jilid dan nomor seri
Setelah mencantumkan nama, hal yang perlu dituliskan pada daftar pustaka yaitu tahun terbit. Kalau referensi tersebut terdiri dari suatu jurnal maka perlu mencantumkan juga ciri dan juga nomor serinya.
3. Tempat terbit buku
Penulisan nama kota penting dalam daftar pustaka. Penulisan dengan mencantumkan penulisan kota maka menunjukkan tempat asal penerbit buku tersebut diterbitkan. Ketika tidak ada keterangan kota terbit, bisa mencantumkan nama penerbit saja.
Itulah hal-hal yang tidak perlu ditulis dalam penulisan daftar pustaka. Dapatkan informasi lebih lengkap seputar penulisan dengan membaca artikel terbaru dari Parafrase Indonesia!
Artikel pertama kali ditulis oleh Dhea Salsabila, kemudian diperbarui oleh Wahyu Adji Nugraha pada 19 Juli 2026.

