Apa Itu Kurikulum KKNI? Pahami Perbedaan dengan Kurikulum OBE

kurikulum KKNI

Perguruan tinggi di Indonesia memiliki sejumlah kurikulum yang pernah berjalan dan terus dikembangkan sampai sekarang. Salah satunya adalah kurikulum KKNI atau kurikulum berbasis KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia).

Kurikulum berbasis KKNI ini kemudian dikembangkan lagi hingga diterapkan kurikulum OBE. Kedua kurikulum ini saling melengkapi, bukan menggantikan. Namun, apakah ada perbedaan? Berikut informasinya. 

Baca Juga: Apa Itu Beban Studi? Komponen, Jumlah dan Cara Mengelola

Apa Itu Kurikulum KKNI?

Mengacu pada Permendikbud No. 73 Tahun 2013, KKNI adalah kerangka penjenjangan kualifikasi yang dapat menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan capaian pembelajaran dari jalur pendidikan nonformal, pendidikan informal, dan/atau pengalaman kerja ke dalam jenis dan jenjang pendidikan tinggi. 

Secara sederhana KKNI dipahami sebagai kerangka nasional yang menjadi acuan dalam penyusunan kurikulum pendidikan tinggi dan program pelatihan kerja. Perguruan tinggi dalam merumuskan kurikulum kemudian didasarkan pada KKNI tersebut. Maka muncul istilah kurikulum berbasis KKNI yang juga disebut sebagai kurikulum KKNI. 

Mengacu pada Peraturan Presiden No. 8 Tahun 2012, jenjang kualifikasi dalam KKNI totalnya ada 9 tingkatan. Sedangkan implementasinya di perguruan tinggi mengacu pada Permendikbud No. 73 Tahun 2013. Sehingga total ada 7 tingkatan. Berikut rinciannya: 

  1. Jenjang 3 setara dengan lulusan diploma 1 (D I);
  2. Kenjang 4 setara dengan lulusan diploma 2 (D II); 
  3. Jenjang 5 setara dengan lulusan diploma 3 (D III); 
  4. Jenjang 6 setara dengan lulusan diploma 4 atau sarjana terapan dan sarjana (D IV / S.T/ S1); 
  5. Jenjang 7 setara dengan lulusan pendidikan profesi; 
  6. Jenjang 8 setara dengan lulusan magister terapan, magister, atau spesialis satu; 
  7. Jenjang 9 setara dengan lulusan pendidikan doktor terapan, doktor atau spesialis dua. 

uk mencapai kualifikasi tersebut. Begitu juga dengan jenjang pendidikan tinggi lainnya. Namun, setiap perguruan tinggi dibebaskan untuk mengembangkan kualifikasi. Sebab kualifikasi di atas adalah standar minimal. 

Baca Juga: Kenali Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) dalam Kurikulum

Apa Itu Kurikulum OBE?

Kurikulum OBE adalah kurikulum yang berfokus pada tercapainya lulusan yang menguasai hasil belajar (outcomes/kompetensi/keterampilan praktis). 

Kurikulum berbasis OBE pada dasarnya tidak menggantikan kurikulum berbasis KKNI. Akan tetapi melengkapinya atau bisa disebut menyempurnakannya. Kurikulum KKNI fokus mendukung lulusan memenuhi kualifikasi sesuai jenjang pendidikan yang ditempuh mahasiswa dan ditetapkan pemerintah. 

KKNI tetap menjadi acuan dalam perumusan dan pelaksanaan kurikulum OBE. Hanya saja, ada tambahan pada kualifikasi lulusan. Tidak hanya mencapai kualifikasi sesuai KKNI. Akan tetapi juga menguasai sejumlah kompetensi atau keterampilan praktis maka dari itu peran dari rps berbasis obe sangatlah penting.

Baca Juga: 8 Cara untuk Capai Keberhasilan Kurikulum OBE di Kampus

Penerapan di Perguruan Tinggi

Kurikulum berbasis KKNI tentunya diterapkan lebih dulu di perguruan tinggi Indonesia. Kemudian, ketika kebijakan MBKM dijalankan maka kurikulum perguruan tinggi dikembangkan ke kurikulum OBE. Lalu, seperti apa penerapannya? Berikut penjelasannya: 

1. Penerapan Kurikulum KKNI di Perguruan Tinggi

Kurikulum KKNI diterapkan di perguruan tinggi dengan menyusun kurikulum yang mendorong tercapainya kualifikasi akademik sesuai standar dalam KKNI. Sehingga mengacu pada PP No. 8 Tahun 2012 dan Permendikbud No. 72 Tahun 2013. 

Jika mengacu pada KKNI, maka mahasiswa atau lulusan jenjang Sarjana (S1) wajib menguasai 4 kualifikasi pada jenjang 5 KKNI. Salah satu kualifikasi tersebut adalah “Menguasai konsep teoritis bidang pengetahuan tertentu secara umum, serta mampu memformulasikan penyelesaian masalah prosedural”. 

Misalnya, lulusan S1 Akuntansi memahami apa itu laporan laba rugi dan bagaimana menyusunnya. Akan tetapi proporsi kegiatan pembelajaran teori dan praktek menyusun laporan laba rugi lebih banyak di teori. Dosen akan lebih banyak menjelaskan teori di kelas, hanya beberapa pertemuan saja untuk praktek langsung. 

parafrase Indonesia memiliki layanan Konversi KTI Menjadi buku yang bisa bisa membantu perguruan tinggi mendapatkan skor akreditasi yang lebih tinggi

2. Penerapan Kurikulum OBE di Perguruan Tinggi

Penerapan kurikulum berbasis OBE di perguruan tinggi bertujuan untuk mendorong lulusan menguasai kualifikasi akademik sesuai KKNI. Sekaligus menguasai sejumlah keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan industri atau dunia kerja. 

Jadi, kurikulum disusun untuk mendukung mahasiswa menguasai lebih banyak hal. Mulai dari ilmu pengetahuan secara teori, sampai penerapannya di lapangan secara langsung dengan ditunjang sejumlah keterampilan praktis. 

Misalnya, mahasiswa pada program studi S1 Akuntansi. Mendapat materi teori laporan laba rugi sekaligus praktek menyusunnya. Bedanya dengan kurikulum KKNI, persentase praktek lebih banyak. Baik praktek membuat laporan laba rugi di kelas, di lab komputer, dll. 

Perbedaan Kurikulum KKNI dan OBE

Melalui penjelasan sebelumnya, tentunya bisa dipahami ada perbedaan signifikan antara kurikulum berbasis KKNI dengan kurikulum berbasis OBE. Berikut penjelasan detailnya: 

1. Dasar Acuan 

Dalam merumuskan dan menerapkan kurikulum perguruan tinggi, dasar acuan pada kurikulum KKNI berbeda dengan kurikulum OBE. Kurikulum berbasis KKNI mengacu pada KKNI itu sendiri. 

Sedangkan kurikulum OBE mengacu pada KKNI dan MBKM, sekaligus CPL di dalamnya harus sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN-Dikti). Dasar acuan yang berbeda tentunya akan mempengaruhi aspek lain dan proses penerapan di perguruan tinggi. 

2. Fokus Utama 

Perbedaan yang kedua adalah pada aspek fokus utama. Kurikulum yang didasarkan pada KKNI fokus mencapai kegiatan pembelajaran dan lulusan yang memenuhi kualifikasi jenjang pendidikan tinggi sesuai KKNI. 

Sedangkan fokus utama pada kurikulum berbeda OBE berbeda. Selain mendorong lulusan perguruan tinggi menguasai kualifikasi jenjang pendidikan sesuai KKNI. Sekaligus mendorong penguasaan sejumlah keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan industri. 

3. Pusat Pembelajaran 

Dalam kegiatan pembelajaran, juga akan menjumpai perbedaan signifikan. Pada kurikulum berdasarkan KKNI, pusat pembelajaran adalah pendidik. Artinya, dosen menjadi pusat utama kegiatan perkuliahan di kampus. 

Inilah alasan kenapa dosen memiliki peran krusial dalam perkuliahan. Yakni menyiapkan materi sampai menyampaikannya kepada mahasiswa. Dosen juga menjadi pusat informasi sehingga mahasiswa bisa bertanya ke dosen untuk menemukan jawaban atas apa yang ingin diketahui. 

Sementara itu, di dalam kurikulum OBE pusat pembelajaran dibalik. Yakni pada mahasiswa. Pada akhirnya, dalam perkuliahan mahasiswa akan lebih aktif. Metode dan bentuk pembelajaran dipilih dosen agar mahasiswa lebih aktif dan mandiri. Dosen berperan sebagai fasilitator. 

4. Sistem Penilaian 

Selanjutnya yang membedakan antara kurikulum KKNI dengan kurikulum OBE adalah sistem penilaian. KKNI mengacu pada kualifikasi sesuai jenjang pendidikan. Sehingga sistem penilaian seperti IPK didasarkan pada hasil ujian tertulis. Baik ujian di tengah semester maupun ujian akhir semester. 

Sedangkan di dalam kurikulum OBE, sistem penilaian lebih beragam dan kompleks. Sebab tidak hanya mengukur seberapa paham mahasiswa pada materi perkuliahan. Akan tetapi juga mengukur seberapa terampil mahasiswa pada keterampilan praktis yang diajarkan oleh dosen. 

5. Sistem Evaluasi Pembelajaran 

Aspek berikutnya yang membedakan kurikulum berbasis KKNI dengan OBE adalah sistem evaluasi pembelajaran. Kedua kurikulum ini mendorong dilakukannya evaluasi untuk memperbaiki kegiatan pembelajaran menjadi lebih baik lagi. 

Pada kurikulum berbasis KKNI, evaluasi didasarkan pada nilai hasil ujian mahasiswa. Jika nilainya bagus, maka dipahami jika kegiatan pembelajaran sudah tepat dan bisa dipertahankan maupun dikembangkan lagi.

Sementara dalam kurikulum berbasis OBE, evaluasi didasarkan pada hasil ujian mahasiswa. Kemudian evaluasi lebih menyeluruh, tidak hanya perbaikan pada kegiatan pembelajaran. Akan tetapi juga perbaikan pada kurikulum yang dijalankan. Inilah alasan kurikulum OBE menjadi kurikulum yang dikenal fleksibel. 

6. Kompetensi dan Kualifikasi Lulusan 

Aspek terakhir yang menjadi pembeda adalah kompetensi dan kualifikasi lulusan. Dalam kurikulum KKNI, kompetensi dan kualifikasi lulusan sudah terstandarisasi. Sehingga sampai kapanpun mengikuti dan menyesuaikan standar tersebut. 

Dengan kata lain, kurikulum ini sifatnya saklek. Standar ditetapkan sekali waktu dan akan digunakan selama kurikulum tersebut masih dijalankan. Hal ini berbeda dengan kurikulum berbasis OBE yang fleksibel. 

Lebih Bagus Mana Kurikulum KKNI dan OBE?

Meskipun tidak sama, kemudian kurikulum OBE menjadi hasil pengembanga dan penyempurnaan kurikulum berbasis KKNI. Tentunya, ada alasan yang membuat kurikulum KKNI dikembangkan lagi menjadi kurikulum OBE. 

Lalu, apakah lebih bagus kurikulum OBE? Secara mendasar, kedua jenis kurikulum ini sama baiknya. Sebab sama-sama mendukung pembelajaran efektif di jenjang pendidikan tinggi. Hanya saja, kurikulum berbasis KKNI lebih banyak teori. Sehingga lulusan menguasai pengetahuan yang sifatnya teoritis. 

Berbeda dengan kurikulum OBE yang mendukung pemahaman ilmu pengetahuan secara teori. Sekaligus menanamkan kompetensi atau keterampilan praktis pada lulusan perguruan tinggi. Sehingga cakupan dan profil lulusan menjadi lebih kompleks. 

Selain itu meminimalkan kesenjangan dengan kebutuhan industri atau dunia kerja dan dunia usaha. Inilah alasan perguruan tinggi di Indonesia mulai menerapkan kurikulum OBE. Sehingga meningkatkan kualitas dan daya saing lulusannya setelah terjun ke dunia kerja dan dunia usaha. 

Keuntungan dan Manfaat Penerapan Kurikulum OBE 

Sebagai kurikulum yang mulai diberlakukan dan dijalankan di perguruan tinggi. Maka bisa dipahami bahwa kurikulum OBE menjadi kurikulum yang menggantikan kurikulum terdahulu. Termasuk kurikulum KKNI. Lalu, apa saja keuntungan dan manfaat dari penerapanya? Berikut beberapa diantaranya: 

1. Berpusat pada Mahasiswa atau Lulusan Perguruan Tinggi 

Kurikulum OBE mendukung mahasiswa lebih aktif selama kegiatan perkuliahan. Manfaatnya, mahasiswa bisa memiliki lebih banyak pengalaman maupun keterampilan dan wawasan. 

Misalnya mahasiswa tidak hanya memiliki pengalaman memahami apa itu materi X. Akan tetapi berkesempatan untuk menguasai berbagai keterampilan yang mendukung penerapan (implementasi) materi X tersebut. 

2. Meminimalkan Kesenjangan Lulusan dengan Kebutuhan Industri 

Industri perlu memberikan pembelajaran agar karyawan fresh graduated menguasai sejumlah keterampilan praktis. Kondisi ini membuat kemungkinan lulusan perguruan tinggi sulit terserap. Lebih banyak perusahaan mengincar lulusan pendidikan tinggi vokasi maupun yang sudah berpengalaman. 

Namun, kurikulum OBE berusaha mengatasi kesenjangan tersebut dengan membekali mahasiswa sejumlah keterampilan praktis. Kemudian disesuaikan juga dengan kebutuhan industri terkini. 

3. Meningkatkan Daya Saing Lulusan 

Adanya pembekalan lulusan perguruan tinggi dengan sejumlah keterampilan praktis. Tentunya ikut meningkatkan daya saing mereka saat memasuki dunia kerja. Keterampilan yang dimiliki akan dinilai suatu perusahaan lebih siap kerja. 

4. Meningkatkan Dampak Perguruan Tinggi dan Lulusan bagi Masyarakat 

Setiap perguruan tinggi di Indonesia tentu memiliki harapan seluruh ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dikembangkan di dalamnya bisa berdampak nyata. Kurikulum berbasis OBE membantu mencapai hal tersebut, sebab lulusan dibekali dengan keterampilan praktis.

5. Adaptif dan Fleksibel Sehingga Peka Jaman 

Manfaat lainnya, kurikulum OBE lebih adaptif dan fleksibel. Seluruh materi fokus membekali mahasiswa dengan keterampilan sesuai kebutuhan industri. Sehingga menuntut perguruan tinggi siap beradaptasi dan mengikuti perkembangan industri. Mereka butuh tenaga kerja dengan keterampilan apa? Perguruan tinggi berusaha memenuhi.  

sumber: 

  1. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2013). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 73 Tahun 2013 tentang Penerapan KKNI di Perguruan Tinggi. https://dkia.ugm.ac.id/wp-content/uploads/sites/1892/2022/08/SALINAN-PERMENDIKBUD-No.-73-tahun-2013-ttg-PENERAPAN-KKNI-Bidang-PT.pdf 
  2. Republik Indonesia. (2012). Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia. https://laminfokom.or.id/official/file/Perpres%20No.%208%20Tahun%202012%20tentang%20KKNI.pdf 
  3. Regita, N. (2025). Kurikulum Perguruan Tinggi yang Banyak Digunakan di Indonesia. Diakses pada 29 Juni 2026 dari https://suteki.co.id/kurikulum-perguruan-tinggi-yang-banyak-digunakan-di-indonesia/
  4. Apa Itu Kurikulum OBE? Memahami Outcome-Based Education untuk Perguruan Tinggi. (2025). Universitas Negeri Surabaya. Diakses pada 29 Juni 2026 dari https://s1-aktuaria.fmipa.unesa.ac.id/post/apa-itu-kurikulum-obe-memahami-outcome-based-education-untuk-perguruan-tinggi
  5. Maharsi. (2024). Bahan FGD Kurikulum OBE Universitas Raden Mas Said Surakarta. https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/65493/1/Bahan%20FGD%20Kurikulum%20OBE%20UIN%20Surakarta.pdf
  6. Manfaat dan Penerapan Kurikulum OBE di Perguruan Tinggi untuk Meningkatkan Kualitas Lulusan. (2024). Mutu Perguruan Tinggi. Diakses pada 29 Juni 2026 dari https://mutuperguruantinggi.id/manfaat-dan-penerapan-kurikulum-obe-di-perguruan-tinggi-untuk-meningkatkan-kualitas-lulusan/

Bagikan artikel ini melalui

Picture of wahyu adji
wahyu adji
Saya merupakan SEO Specialist dan Conten Writer Profesional di bidang pendidikan seputar kampus, mahasiswa dan kedosenan di Parafrase Indonesia

Tinggalkan Balasan

Cari Artikel Lainnya

Jangan Lewatkan!

Ebook TerbaruđŸ”„

Artikel Terbaru
Cerita Inspiratif
Panduan Akademik
Solusi Akademik
Hasil Konversi
Memahami Skizofernia Pengantar Komunikasi Politik PAI Kreatif