Ratih Megasari Singkarru Ingatkan Kampus Tetap Jadi “Dapur Ilmiah”, Bukan Mesin Keuntungan

Ratih Megasari Singkarru

Dunia pendidikan tinggi di Indonesia tengah menghadapi tantangan baru. Di satu sisi, perguruan tinggi didorong untuk berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi melalui inovasi dan hilirisasi riset. Namun di lain sisi, muncul kekhawatiran bahwa dorongan tersebut justru dapat menggeser fungsi utama kampus sebagai ruang pengembangan ilmu pengetahuan.

Anggota Komisi X DPR RI, Ratih Megasari Singkarru, menjadi salah satu tokoh yang menyoroti isu ini secara terbuka. Dalam Rapat Kerja Komisi X DPR RI bersama Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto di Kompleks Parlemen, Jakarta, Ratih mengingatkan pentingnya menjaga kampus sebagai ruang ilmiah yang bebas dari tekanan komersial.

Menurut Ratih Megasari Singkarru, perguruan tinggi tidak boleh terlalu cepat didorong menjadi mesin penghasil keuntungan ekonomi. Jika logika pasar masuk terlalu dalam ke lingkungan akademik, ia khawatir hal tersebut akan mempengaruhi kualitas riset dan kebebasan berpikir para akademisi.

“Saya mohon dipastikan kampus ini tetap menjadi dapur ilmiah. Dapur ilmiah yang murni, tolong jangan dia dibuat sebagai pabrik yang melulu mengejar setoran,” ujar Ratih dalam rapat tersebut.

Kampus sebagai Ruang Aman bagi Dosen dan Mahasiswa

Ratih Megasari Singkarru menilai, esensi dari perguruan tinggi adalah kebebasan berpikir dan bereksperimen. Dosen dan mahasiswa membutuhkan ruang aman untuk mengembangkan ide-ide baru tanpa tekanan untuk segera menghasilkan nilai ekonomi.

Dalam proses penelitian, sering kali ide inovatif muncul dari gagasan yang belum tentu langsung memiliki nilai komersial. Karena itu, Ratih menilai penting bagi kampus untuk memberi ruang bagi eksperimen akademik.

Ia mencontohkan, jika sejak awal seorang peneliti sudah ditanya tentang potensi keuntungan finansial dari hasil risetnya, maka proses ilmiah bisa terganggu. Hal tersebut berpotensi membatasi kreativitas dan keberanian akademisi dalam mencoba pendekatan baru.

“Biarkan dosen dan mahasiswa fokus menciptakan prototipe atau teknologi yang benar-benar bermanfaat, tanpa harus dibebani pertanyaan tentang berapa keuntungan yang bisa dihasilkan,” jelasnya.

Ratih juga mengingatkan bahwa banyak inovasi besar dalam sejarah lahir dari ide yang awalnya dianggap tidak realistis atau terlalu berisiko bagi pasar. Oleh karena itu, kampus harus tetap menjadi tempat yang mendukung lahirnya gagasan baru.

Hilirisasi Riset Tetap Penting, tetapi Bertahap

Meskipun demikian, Ratih Megasari Singkarru tidak menolak hilirisasi hasil riset. Menurutnya, proses tersebut tetap penting untuk memastikan bahwa inovasi dari kampus dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Namun, ia menegaskan bahwa urutan prioritas harus diperhatikan. Fokus utama perguruan tinggi tetap pada pengembangan ilmu pengetahuan dan pemecahan masalah sosial.

Setelah inovasi terbukti bermanfaat bagi masyarakat, barulah kerja sama dengan industri atau investor dapat dilakukan. Dengan cara ini, kampus tetap menjaga integritas ilmiahnya tanpa kehilangan peluang untuk berkontribusi pada pembangunan ekonomi.

“Kalau barangnya sudah jadi dan terbukti bermanfaat, baru kita bicara dengan investor atau industri,” ujarnya.

Sorotan terhadap Revitalisasi LPTK

Selain isu komersialisasi kampus, Ratih Megasari Singkarru juga menyoroti program revitalisasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). Program ini diketahui telah diperluas dari sebelumnya 10 menjadi 17 perguruan tinggi.

Ratih mengapresiasi langkah pemerintah yang memperluas akses program tersebut. Namun ia mengingatkan bahwa keberhasilan program tidak boleh hanya diukur dari jumlah lulusan atau sertifikat yang diterbitkan.

Menurutnya, ukuran keberhasilan yang lebih penting adalah perubahan nyata dalam kualitas pengajaran di sekolah.

“Kita bukan lagi bicara berapa banyak guru yang lulus PPG, tetapi apakah kualitas pengajaran di ruang kelas benar-benar berubah,” katanya.

Ratih menilai bahwa pendidikan guru harus lebih menekankan pada kemampuan pedagogik yang relevan dengan tantangan zaman. Hal ini termasuk kemampuan berkomunikasi dengan siswa, kreativitas dalam mengajar, serta pemahaman terhadap kebutuhan belajar murid.

Jika kualitas pengajaran tidak mengalami perubahan signifikan, maka perluasan program LPTK dinilai belum menyentuh akar persoalan pendidikan.

Menghargai Proses Ilmiah, Termasuk Kegagalan

Menutup pernyataannya, Ratih Megasari Singkarru menegaskan pentingnya menghargai proses ilmiah dalam dunia akademik. Dalam penelitian, kegagalan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan bagian dari proses belajar.

Menurutnya, kampus harus memberikan ruang bagi dosen dan mahasiswa untuk bereksperimen tanpa takut gagal. Dari proses tersebut, pengetahuan baru dapat muncul dan memperkaya perkembangan ilmu pengetahuan.

“Biarkan eksperimen itu terjadi. Ada keberhasilan, ada kegagalan. Proses itulah yang menghasilkan nilai paling tinggi,” pungkasnya.

Pandangan Ratih Megasari Singkarru ini menjadi pengingat bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membangun peradaban berbasis ilmu pengetahuan. Dengan menjaga kampus sebagai ruang yang merdeka dan ilmiah, diharapkan inovasi dari akademisi Indonesia dapat berkembang secara berkelanjutan dan memberikan dampak luas bagi masyarakat.

Menurut Parafrase Indonesia, Pandangan Ratih Megasari Singkarru mengenai pentingnya menjaga kampus sebagai “dapur ilmiah” patut menjadi perhatian bersama, khususnya di tengah meningkatnya tuntutan agar perguruan tinggi berkontribusi langsung pada pertumbuhan ekonomi. Dalam praktiknya, perguruan tinggi memang tidak dapat sepenuhnya terlepas dari kebutuhan industri dan masyarakat. Namun, keseimbangan tetap harus dijaga agar orientasi ekonomi tidak menggerus kebebasan akademik yang menjadi fondasi utama perkembangan ilmu pengetahuan.

Sumber:
https://partainasdem.id/2026/02/03/kampus-harus-tetap-jadi-dapur-ilmiah-bukan-mesin-pencetak-keuntungan/
https://tarakan.navigasi.co.id/detail/1783653/menjaga-marwah-akademik-kampus-bukanlah-entitas-dagang-pengejar-laba

Bagikan artikel ini melalui

Picture of wahyu adji
wahyu adji
Saya merupakan SEO Specialist dan Conten Writer Profesional di bidang pendidikan seputar kampus, mahasiswa dan kedosenan di Parafrase Indonesia

Tinggalkan Balasan