Penelitian yang dilakukan dosen, mahasiswa, maupun siapa saja tidak harus penelitian yang benar-benar baru. Namun, bisa juga melanjutkan penelitian sebelumnya yang memang perlu diteliti lebih lanjut (dilanjutkan). Pada tahap ini, tentunya perlu mencari research gap dan novelty.
Mulai dari proposal hingga laporan penelitian dan naskah KTI jika menargetkan luaran dalam bentuk publikasi ilmiah. Jadi, seperti apa cara menulis novelty penelitian yang benar pada KTI? Berikut informasinya.
Baca Juga: 10 Platform AI untuk Mencari Novelty Penelitian
Daftar Isi
ToggleApa Itu Novelty Penelitian?
Kebaruan atau novelty adalah sebuah unsur dalam kegiatan penelitian yang menunjukan kontribusi baru yang diberikan untuk ilmu pengetahuan, praktik, maupun kontribusi untuk mengembangkan metode penelitian baru.
Secara sederhana, novelty dipahami sebagai keunikan yang dimiliki kegiatan penelitian yang akan atau telah dilakukan. Keunikan ini penting untuk membedakan penelitian tersebut dengan penelitian lainnya. Sehingga mencegah pengulangan penelitian sekaligus risiko plagiat.
Mengapa Novelty Perlu Dicantumkan pada Karya Tulis Ilmiah?
Novelty pada dasarnya wajib ada, dan ditemukan atau ditentukan peneliti melalui proses kajian pustaka serta usaha lainnya. Memudahkan penentuan novelty, maka peneliti kebanyakan menganalisis research gap terlebih dahulu.
Sebab dari kesenjangan (kelemahan) penelitian sebelumnya, maka bisa membantu memberi unsur baru pada penelitian yang akan dijalankan. Novelty ini kemudian wajib dicantumkan pada setiap naskah KTI berkaitan dengan kegiatan penelitian bahkan novelty sangat diperlukan dalam mengonversi KTI menjadi Buku.
Maka selain perlu memahami cara menentukan atau menemukan, dosen dan peneliti juga harus paham bagaimana cara menulis novelty penelitian pada KTI. Sebab bisa memberi nilai tambah.
Misalnya, mencantumkan novelty pada proposal penelitian bisa memperbesar peluang proposal disetujui. Jika diajukan ke program hibah, maka ada peluang lebih besar untuk lolos seleksi dan menjadi penerima hibah tersebut.
Baca Juga:
- Panduan Menyusun Buku Ajar Berbasis OBE
- Cara Menyusun CPL dan CPMK Sesuai dengan Kurikulum OBE
- Panduan Mengubah Disertasi Menjadi Buku Monograf [Free Ebook]
Pada bagian KTI Mana Saja, Novelty Dicantumkan?
Bagian dari tata cara menulis novelty penelitian pada KTI adalah memahami letak novelty tersebut dicantumkan. Pada setiap naskah KTI yang sudah terpublikasi, tentunya akan menjumpai inkonsistensi penempatan novelty.
Artinya, pada beberapa KTI misalnya artikel jurnal ilmiah. Novelty dicantumkan di bagian Introduction (Pendahuluan). Namun, ada juga artikel jurnal yang noveltynya tercantum pada Methods (Metode Penelitian). Jadi, dimana posisi yang benar?
Jawabannya, semua benar. Sebab novelty penelitian memiliki jenis beragam. Keunikan atau unsur baru pada penelitian bisa dari segi objek penelitian, metode penelitian, variabel penelitian, dan sebagainya. Jenis novelty ikut mempengaruhi posisi penempatannya pada KTI.
Secara umum ada 3 bagian pada KTI yang sering menjadi tempat novelty dicantumkan penulis (peneliti). Yaitu:
1. Introduction (Pendahuluan)
Bagian pertama pada KTI yang menjadi tempat penulis mencantumkan novelty adalah Pendahuluan. Pada bagian ini, penulis biasanya akan mulai menjelaskan penelitian terdahulu dan hasil analisis research gap. Baru kemudian menjelaskan kebaruan yang ditawarkan pada penelitian yang dilakukan.
2. Methods (Metode Penelitian)
Bagian kedua pada KTI yang sering menjadi tempat novelty dicantumkan adalah Metode Penelitian. Secara umum, novelty dicantumkan di bagian ini jika novelty ada pada metode penelitian yang digunakan. Jadi, novelty tidak tercantum di Pendahuluan, akan tetapi pada bagian Metode Penelitian.
3. Result (Hasil dan Pembahasan)
Bagian ketiga pada KTI yang juga sering menjadi tempat novelty dicantumkan adalah Hasil dan Pembahasan. Secara umum, novelty di bagian ini menjadi pembuktian. Temuan penelitian yang didapatkan dicantumkan secara jelas dan menjadi pembeda dengan temuan penelitian terdahulu.
Jadi, dalam mencantumkan novelty. Penulis tidak hanya menjelaskan bentuk novelty yang diberikan akan tetapi juga harus dibuktikan. Sehingga novelty berupa temuan penelitian wajib dicantumkan pada bagian Hasil dan Pembahasan.
Bagaimana Cara Menulis Novelty Penelitian pada KTI?
Setiap peneliti atau penulis, memiliki kebebasan menggunakan teknik yang mana. Sebab novelty tetap akan ditangkap dan dipahami oleh para pembaca. Berikut adalah rincian langkah-langkah dalam cara menulis novelty penelitian di dalam KTI:
1. Pahami Jenis dan Bentuk Novelty yang Dimiliki
Tahap pertama, pastikan penulis memahami betul jenis novelty yang akan diberikan oleh penelitian yang dilaksanakan. Karena terdapat perbedaan antara research gap dan novelty jika tidak memahami dengan seksama.
Jika novelty ada pada metode, maka dicantumkan di bagian Metode Penelitian. Jadi, hal ini perlu dipahami dari awal untuk menunjang kelancaran menuliskan novelty pada naskah.
2. Menentukan Teknik Penyampaian Novelty
Tahap kedua, penulis perlu menetapkan teknik penyampaian novelty yang akan dilakukan. Bisa secara tersirat, bisa juga secara tersurat. Novelty yang dicantumkan secara tersurat biasanya menggunakan kata atau frasa pembuka seperti “novelty penelitian ini..”, “kebaruan penelitian ini..”, dan sejenisnya.
Sebaliknya, jika ingin disampaikan secara tersurat maka biasanya tidak menggunakan kata dan frasa “novelty” maupun “kebaruan”. Biasanya penulis akan fokus menjelaskan perkembangan penelitian, research gap, dan disusul fokus utama penelitian yang dilakukan. Berikut contoh untuk bisa membandingkan keduanya:
- Penulisan Novelty Tersurat

- Penulisan Novelty Tersirat

3. Menjelaskan Perkembangan Penelitian
Tahap ketiga dalam tata cara menulis novelty penelitian pada kTI adalah menjelaskan perkembangan penelitian. Jadi, penulis perlu menjelaskan apa saja penelitian terdahulu pada topik yang sama dan perkembangannya.
Oleh sebab itu, penulis perlu menjelaskan dua atau lebih penelitian terdahulu untuk memudahkan dalam menjelaskan perkembangannya bagaimana. Namun, jika penelitian sebelumnya memang baru 1 saja. Maka paparkan apa adanya.
4. Menguraikan Research Gap
Setelah menjelaskan perkembangan penelitian pada topik yang diteliti. Maka barulah penulis menguraikan atau menjelaskan research gap. Penelitian sebelumnya memiliki celah, kesenjangan, atau kelemahan pada aspek apa? Inilah yang menjadi research gap dan dicantumkan di KTI.
5. Menjelaskan Novelty
Tahap akhir, adalah menjelaskan novelty yang dimiliki penelitian yang dilakukan. Sesuai tahap awal sebelumnya, novelty disampaikan secara tersirat atau tersurat sesuai pertimbangan penulis. Novelty biasanya dicantumkan setelah menguraikan research gap.
Kemudian jika novelty pada metode penelitian, maka biasanya baru dicantumkan di bagian Metode Penelitian. Meski bagian berbeda, antara Pendahuluan dan Metode Penelitian. Namun secara urutan struktur penulisan KTI, Pendahuluan disusun lebih dulu dan disusul Metode Penelitian. Jadi, sebenarnya urutannya sama.
Baca Juga: 5 Cara Menemukan Novelty Penelitian, Apa Saja?
Tips Menulis Novelty pada KTI Secara Efektif
Supaya novelty penelitian bisa dengan mudah diketahui dan dipahami oleh para pembaca. Maka selain mencantumkan dengan cara menulis novelty penelitian secara tepat. Juga harus diikuti dengan sejumlah kiat. Berikut beberapa tips tambahan dalam membuat novelty atau mencantumkannya pada KTI:
1. Bandingkan dengan Penelitian Terdahulu Secara Sistematis
Sesuai penjelasan sebelumnya, secara umum novelty dicantumkan penulis setelah memaparkan research gap. Sementara itu, research gap diawali dengan menjelaskan perkembangan penelitian terdahulu hingga yang terbaru (sebelum penelitian yang akan dilakukan).
Jadi, agar novelty lebih mudah dipahami. Sekaligus urgensi penelitian ditangkap dengan jelas oleh pembaca. Penjelasan mengenai perkembangan penelitian harus jelas dan sistematis.
2. Cantumkan Novelty dengan Bahasa yang Objektif
Tips kedua dalam tata cara menulis novelty penelitian agar tepat dan efektif, adalah disampaikan dengan bahasa yang objektif. Menjelaskan perkembangan penelitian dan research gap, pada dasarnya menjelaskan kelemahan dari penelitian terdahulu.
Namun, bukan berarti penelitian sebelumnya murni kesalahan. Penelitian tetap benar selama mengikuti alur proses sesuai standar dan etika yang berlaku. Hanya saja, setiap penelitian punya keterbatasan sendiri-sendiri. Hal ini yang membuat setiap penelitian punya kelemahan dan memberi research gap pada penelitian berikutnya.
3. Menghindari Klaim Berlebihan
Tips ketiga, hindari klaim berlebihan saat mencantumkan atau menjelaskan novelty pada KTI. Misalnya, tidak menyebut bahwa novelty yang dimiliki adalah yang terbaik dari novelty penelitian terdahulu. Klaim berlebihan bisa menjadi bumerang bagi peneliti (penulis KTI).
Sebab novelty ini harus sejalan dengan metode penelitian hingga rumusan dan hasil penelitian. Semakin tinggi klaim terkait novelty, semakin tinggi pula tingkat kesulitan membuktikan temuan penelitian mampu memberi kontribusi lebih baik pada iptek.
4. Melakukan Kajian Pustaka Secara Mendalam
Hasil kajian pustaka yang dilakukan penulis akan menentukan kualitas penyampaian novelty pada KTI. Oleh sebab itu, kajian pustaka secara mendalam. Kemudian mengkombinasikan beberapa referensi sangat penting.
Sehingga bisa mengetahui dengan lebih detail perkembangan penelitian, kemudian research gap, dan memaparkan novelty dengan jelas serta objektif. Jika kajian pustaka terlalu dangkal, maka ada risiko terdapat penelitian yang terlewat.
Terdapat teknik khusus agar novelty tersebut tidak hanya bisa dipahami pembaca. Akan tetapi juga menjelaskan penelitian yang dilakukan punya nilai tambah yang membuatnya tepat atau layak dijalankan. Jadi, agar penyajian efektif bisa menerapkan tips dan cara menulis novelty penelitian yang dijelaskan dari Parafrase Indonesia.
sumber:
- Mifta. (2026). Kebaruan (Novelty) Penelitian: Cara Menemukan dan Menuliskannya dalam Tesis. Diakses pada 14 Agustus 2026 dari https://tesis.id/blog/kebaruan-novelty-penelitian-cara-menemukan-dan-menuliskannya-dalam-tesis/
- Setiyo, M. (2025). Memahami Struktur Umum Artikel Ilmiah dan Letak Novelty di Dalamnya. Diakses pada 14 Agustus 2026 dari https://muji.blog.unimma.ac.id/memahami-struktur-umum-artikel-ilmiah-dan-letak-novelty-di-dalamnya/
- Qurotianti, A. (2024). Apa Perbedaan antara Research Gap dan Novelty? Diakses pada 14 Agustus 2026 dari https://library.umy.ac.id/apa-perbedaan-antara-research-gap-dan-novelty/
- Pujiati. (2025). Cara Menuliskan Research Gap dan Novelty di Tulisan Ilmiah. Diakses pada 14 Agustus 2026 dari https://duniadosen.com/informasi/cara-menuliskan-research-gap-dan-novelty/
- Tips & Cara Mudah Menulis Novelty Penelitian. (2024). Educativa. Diakses pada 14 Agustus 2026 dari https://educativa.id/2024/09/25/tips-cara-mudah-menulis-novelty-penelitian/

