Apa Saja Perbedaan SINTA dan Scopus dalam Publikasi Ilmiah?

perbedaan sinta dan scopus

Salah satu bentuk publikasi ilmiah rutin seorang dosen adalah publikasi di jurnal ilmiah. Para dosen bisa jadi bingung menentukan jurnal SINTA atau Scopus. Namun, sudahkah memahami perbedaan SINTA dan Scopus? 

Memahami perbedaan publikasi jurnal SINTA dan Scopus adalah hal penting. Sehingga membantu dosen menentukan harus memilih jurnal yang terindeks di database mana. Sekaligus menyesuaikan dengan roadmap penelitian dan rencana pengembangan karir akademik. Berikut informasinya. 

Apa Itu SINTA?

SINTA (Science and Technology Index) adalah sistem informasi berbentuk website yang dikembangkan dan dikelola Kemdiktisaintek untuk mengukur kinerja penelitian nasional. 

Website resmi SINTA menampilkan data seluruh jurnal nasional terakreditasi. Selain itu, menampilkan juga kinerja penelitian para dosen dan peneliti yang sudah membuat akun SINTA. Jika belum registrasi akun, maka kinerja penelitian tidak terdata di database SINTA. 

Setiap jurnal yang tampil di website SINTA disebut dengan istilah jurnal SINTA. Tidak semua jurnal nasional bisa masuk ke dalam database SINTA. Hanya jurnal nasional yang telah terakreditasi oleh ARJUNA. Inilah alasan kenapa SINTA juga bisa dikunjungi dosen untuk memilih jurnal dalam mengurus publikasi hasil penelitian.  

Baca Juga: Format Jurnal SINTA Beserta Template

Apa Itu Scopus?

Supaya memahami perbedaan SINTA dan Scopus, tentunya juga perlu membahas apa itu Scopus. Scopus adalah database yang mengindeks publikasi ilmiah internasional dengan kredibilitas dan reputasi tinggi secara global. Scopus sendiri dikelola oleh perusahaan penerbit terkemuka, yakni Elsevier. 

Scopus tidak hanya merangkum data media publikasi internasional berbentuk jurnal. Akan tetapi juga menyajikan media publikasi ilmiah lain. Seperti buku ilmiah, laporan tahunan ilmiah, dan lain sebagainya. 

Setiap jurnal yang terindeks di database Scopus disebut dengan istilah jurnal Scopus. Jurnal-jurnal tersebut masuk dalam kategori jurnal internasional bereputasi. Sebab Scopus sendiri termasuk salah satu database publikasi ilmiah bereputasi. 

Perbedaan SINTA dan Scopus

Meski terdapat perbedaan SINTA dan Scopus, akan tetapi keduanya juga memiliki beberapa persamaan. Salah satunya sama-sama mengindeks jurnal ilmiah dengan kredibilitas yang tinggi. Lalu, apa yang membedakan keduanya? Berikut beberapa diantaranya: 

1. Cakupan Indeksasi Jurnal

Hal pertama yang membedakan antara SINTA dengan Scopus adalah cakupan indeksasi jurnal di dalamnya. Secara umum, SINTA mengindeks jurnal nasional terakreditasi. Sehingga cakupan penulis sampai pembaca bersifat nasional. 


Sedangkan pada Scopus, indeksasi untuk jurnal internasional bereputasi. Sehingga sifatnya sudah bertaraf internasional atau global. Jika dosen menargetkan publikasi di jurnal internasional bereputasi, maka bisa mencari pilihan di website resmi Scopus. Begitu juga sebaliknya. 

2. Pihak Pengelola 

Aspek kedua yang menjadi perbedaan SINTA dan Scopus adalah pihak pengelola. SINTA sesuai penjelasan sebelumnya dikembangkan dan dikelola pemerintah Indonesia melalui Kemdiktisaintek. 

Sedangkan Scopus dikelola sebuah perusahan penerbit atau publisher, yakni Elsevier. Inilah alasan SINTA bisa diakses gratis oleh siapa saja bahkan tanpa perlu registrasi akun dan bisa melihat jurnal nasional mana saja yang terindeks. Sedangkan pada Scopus akses ke data lebih dalam sifatnya berbayar. 

3. Pemeringkatan Jurnal 

SINTA dan Scopus memiliki persamaan dalam hal pemeringkatan. Keduanya sama-sama mengelola jurnal yang terindeks dan menentukan peringkat. Peringkat ini dilihat dari manajemen pengelola jurnal apakah profesional dan kredibel atau sebaliknya. 

Pada SINTA, pemeringkatan didasarkan hasil penilaian akreditasi jurnal oleh ARJUNA. Kemudian terdapat 6 peringkat jurnal. Yakni SINTA 1, SINTA 2, SINTA 3, SINTA 4, SINTA 5, dan SINTA 6. 

Sementara pada Scopus, pemeringkatan menggunakan kebijakan internal yang ditetapkan pengelola Scopus (Elsevier). Peringkat jurnal Scopus terdiri dari 4 tingkatan dan disebut dengan istilah Quartile. Sehingga urutan peringkat jurnal dari tertinggi ke terendah adalah Q1, Q2, Q3, dan Q4. 

4. Bahasa Publikasi Ilmiah 

Aspek keempat yang menjadi perbedaan SINTA dan Scopus adalah bahasa yang digunakan dalam penyusunan artikel ilmiah. Pada jurnal SINTA, menggunakan bahasa Indonesia karena sifatnya nasional bukan global. Namun, beberapa jurnal nasional juga mempublikasikan artikel dalam bahasa Inggris. 

Sementara bahasa publikasi ilmiah pada jurnal Scopus adalah bahasa yang diakui PBB (Arab, Inggris, Mandarin (Tionghoa), Prancis, Rusia, dan Spanyol). Sehingga untuk menembus jurnal Scopus, artikel ilmiah yang ditulis dosen harus menggunakan salah satu dari 6 bahasa PBB tersebut. 

5. Sumber Data Indeksasi 

Poin berikutnya yang membedakan SINTA dengan Scopus adalah sumber data indeksasi jurnal. Secara umum, jurnal yang terindeks di SINTA bersumber dari ARJUNA. Sebab SINTA hanya mengindeks jurnal nasional yang sudah terakreditasi. Sedangkan Scopus bersumber dari database Elsevier selaku pengelola. 

Baca Juga: Ciri Jurnal Internasional Bereputasi, Sumber Rujukan yang Kredibel untuk Penelitian Ilmiah

Mana yang Lebih Baik SINTA atau Scopus?

Setelah memahami perbedaan SINTA dan Scopus dari berbagai aspek. Lalu, mana yang lebih baik untuk dituju dosen dalam publikasi hasil penelitian? Secara umum, jawabannya adalah baik SINTA maupun Scopus sama baiknya untuk dipilih. 

Pasalnya, jurnal SINTA adalah jurnal nasional yang pasti kredibel karena harus terakreditasi ARJUNA baru terindeks. Sehingga dijamin bukan jurnal abal-abal. Begitu juga pada jurnal Scopus, yang dipastikan memenuhi kriteria untuk terindeks di dalamnya. 

Mulai dari scope yang jelas, tata kelola yang profesional, publikasi rutin serta konsisten, dan tidak memiliki ciri jurnal predator. Tak hanya itu, publikasi di jurnal terindeks SINTA maupun Scopus sama-sama diakui sebagai pemenuhan syarat khusus dalam kenaikan jabatan akademik. 

Bedanya, setiap jenjang jabatan akademik mewajibkan peringkat jurnal yang berbeda-beda. Sebagai contoh, dosen yang hendak pengajuan ke jenjang Lektor Kepala maka syarat khusus memilih salah satu dari 3 pilihan berikut: 

  1. Menghasilkan 1 (satu) publikasi artikel di jurnal internasional bereputasi minimal Q3 dengan SJR di atas 0,2 atau IF di atas 0,05 saat artikel diterbitkan dan saat dinilai sebagai penulis pertama sekaligus korespondensi; atau 
  2. Menghasilkan 1 (satu) publikasi artikel di jurnal nasional terakreditasi minimal peringkat 2 saat artikel diterbitkan dan dinilai sebagai penulis pertama sekaligus korespondensi; atau 
  3. Bagi Dosen pada bidang seni, menghasilkan 1 (satu) karya seni yang diakui dan bereputasi internasional. 

Meskipun begitu, terdapat beberapa kondisi yang membuat salah satunya harus dipilih. Kemudian mengabaikan salah satunya lagi. Berikut beberapa kondisi yang dimaksud: 

  1. Bagi dosen pemula, publikasi di jurnal SINTA bisa diutamakan. Seiring berjalannya waktu, bisa menargetkan jurnal Scopus. Sebab secara tingkat kesulitan dalam memenuhi standar pengelola jurnal, jurnal Scopus lebih rumit.
  2. Mengejar angka kredit tinggi, bagi dosen yang ingin meraih angka kredit tinggi maka bisa mengutamakan publikasi di jurnal Scopus. Sebab poin angka kredit tertinggi di 40 poin jika peringkat Q1. Sementara di jurnal SINTA, poin tertinggi di 25 poin pada jurnal nasional terakreditasi peringkat SINTA 1 dan SINTA 2.  
  3. Pendanaan, publikasi ilmiah pada jurnal memang bisa gratis. Hanya saja banyak yang membebankan APC pada penulis, baik itu jurnal SINTA maupun jurnal Scopus. Secara biaya publikasi, mayoritas jurnal SINTA lebih terjangkau dibanding jurnal Scopus. Namun, tergantung pada peringkat jurnal dan kebijakan pengelola jurnal dalam menetapkan APC. 
  4. Mengejar visibilitas publikasi ilmiah, jika berada pada kondisi ini maka memilih jurnal Scopus bisa diutamakan. Sebab sudah bertaraf internasional yang menjangkau pembaca dari kalangan masyarakat ilmiah tingkat global. 
  5. Butuh publikasi cepat, kadang kala dosen mengejar jadwal pelaporan BKD sehingga memastikan publikasi ilmiah sudah selesai dan bisa dilaporkan. Jika mendesak, maka jurnal SINTA bisa dipilih karena proses publikasinya lebih cepat dibanding jurnal Scopus. Meskipun aktualnya bisa saja terjadi sebaliknya, karena cepat lambatnya artikel ilmiah terpublikasi dipengaruhi banyak faktor. Salah satunya lama waktu peer review dan revisi dari dosen. 

Sebagai catatan tambahan, jika kondisi memungkinkan dosen sebaiknya tidak fokus di salah satu saja. Melainkan mengkombinasikan publikasi di jurnal SINTA dan jurnal Scopus sekaligus. 

Sebab riwayat publikasi di keduanya sama-sama penting untuk reputasi dan rekam jejak kepakaran dosen. Serta sama-sama diakui dalam pemenuhan BKD, penilaian AK Prestasi, sampai pemenuhan syarat khusus kenaikan jenjang jabatan akademik dosen. Ikuti Parafrase Indonesia untuk mendapatkan informasi kedosenan Indonesia lainya.

sumber: 

  1. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. (2026). Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 39/M/Kep/2026 Tentang Petunjuk Teknis Layanan Pengembangan Profesi dan Karier Dosen. https://lldikti3.kemdiktisaintek.go.id/wp-content/uploads/2026/03/Salinan-Kepmendiktisaintek-39MKEP2026_Juknis-Layanan-Pengembangan-Profesi-dan-Karier-Dosen.pdf 
  2. Setiyo, M. (2025). Jurnal SINTA Itu Tidak Ada, Memang Tidak Ada. Yang Ada Adalah… Diakses pada 9 April 2026 dari https://muji.blog.unimma.ac.id/jurnal-sinta-itu-tidak-ada-memang-tidak-ada-yang-ada-adalah/ 
  3. Apa itu Scopus? (n.d). Universitas Esa Unggul. Diakses pada 9 April 2026 dari https://www.esaunggul.ac.id/apa-itu-scopus/ 
  4. Perbedaan Jurnal SINTA dan Jurnal Scopus, Mana yang Lebih Bergengsi di Mata Dosen? (2026). Masoem University. Diakses pada 9 April 2026 dari https://masoemuniversity.ac.id/artikel/perbedaan-jurnal-sinta-dan-jurnal-scopus-mana-yang-lebih-bergengsi-di-mata-dosen/
  5. Ridho, R. M. (2023). Perbedaan Jurnal Sinta dan Jurnal Scopus. Diakses pada 9 April 2026 dari https://bie.telkomuniversity.ac.id/perbedaan-jurnal-sinta-dan-jurnal-scopus-yang-wajib-dipahami/

Bagikan artikel ini melalui

Picture of wahyu adji
wahyu adji
Saya merupakan SEO Specialist dan Conten Writer Profesional di bidang pendidikan seputar kampus, mahasiswa dan kedosenan di Parafrase Indonesia

Tinggalkan Balasan

Cari Artikel Lainnya

Jangan Lewatkan!

Ebook Terbaru🔥

Artikel Terbaru
Cerita Inspiratif
Panduan Akademik
Solusi Akademik